h1

Premature Aftermath: NoRiYu memenangkan perolehan suara di Midwest, Amerika Serikat.

April 22, 2009

 

 

Of science and the human heart

There is no limit

There is no failure here sweetheart

Just when you quit

[Miracle Drug-U2]

 

        Selama ini saya belum memberikan tanggapan atas pertanyaan di wall dan message Facebook atau telfon dan SMS tentang perolehan suara saya pasca Pemilu Legislatif 9 April 2009 lalu. Catatan kecil ini akan memberikan sebuah gambaran prematur tentang hasil keterlibatan saya dalam sebuah proses demokrasi yang sudah dan sedang berlangsung di Indonesia.

        Pada minggu pertama pasca Pemilu, perolehan suara Partai Demokrat di DKI II mencapai kisaran 34-35% dari total jumlah perolehan suara. Kalau dilokalisasikan dalam wilayah tempat tinggal saya saja, perolehan suara Partai Demokrat dari 10 TPS Pondok Indah berkisar antara 42%-55%. Mari hitung-hitung sederhana… Prosentase di atas kalau dikonversikan ke dalam jumlah kursi kira-kira akan seperti berikut: dari total 7 kursi yang tersedia di DKI II, maka 2-3 dari kursi-kursi tersebut dapat diraih oleh caleg-caleg Partai Demokrat.

Ini sebuah keberhasilan dari semua caleg Partai Demokrat di dapil DKI II. Tidak benar bahwa kami hanya bergantung pada figur SBY sebagai Ketua Dewan Pembina. “Bergantunglah pada figur saya” jelas bukan pesan yang diberikan SBY selama pembekalan caleg dan rapimnas Partai Demokrat. Oleh karena itu, kami —atau setidaknya saya— merasa bertanggungjawab bahwa saya HARUS BISA all-out bekerja dengan sumber daya yang ada dalam diri saya dan TS (panggilan sayang saya untuk para relawan yang bergabung dalam Tim Setia, tetapi akhir-akhir ini diplesetkan orang-orang dengan panggilan “Tim Siluman”). Cara kerja yang terus saya hembuskan kepada TS selalu sama: never lose our indie spirit to make people START BELIEVING in our sole purpose for the good of people…

        Alasan-alasan saya masih enggan menjawab tentang perolehan suara saya sederhana saja:

1.     Siapa pun bisa mengakses ke http://tnp.kpu.go.id/ jika memang sebegitu besarnya antusiasme untuk mengetahui hasil perolehan suara saya. Justru jawaban saya bisa kalah mutakhir daripada meng-klik langsung alamat situs di atas.

2.     Terlalu dini untuk membahas hasil yang —terhitung sampai tanggal 20 April 2009— baru 10% lebih sedikit ditabulasi KPU.

3.     Pada saat saya melihat tren perolehan suara saya yang menduduki posisi kedua dari keseluruhan suara caleg DKI II, maka saya justru masuk dalam kontemplasi mendalam. Saya menyadari saya telah terpilih atas dasar pilihan langsung para pemilih dan artinya, proses singkat setiap pemilih dalam bilik TPS telah mengoksigenasi nafas hidup saya sebagai calon wakil rakyat. Dan fakta ini, membenamkan saya dalam rasa terharu dan juga termenung lebih lama tentang langkah-langkah apa yang harus saya laksanakan ke depan untuk merealisasikan platform yang telah saya bangun dan hunuskan pada para calon pemilih selama masa kampanye.

4.     Kesabaran dan hasrat, menjadi dua sisi mata uang dari hidup dalam dunia politik (sekarang ini). Sejauh ini saya masih meredam hasrat karena ingin cepat-cepat berbuat dan bergerak, sementara tabulasi KPU masih alon-alon asal kelakon. Tetapi, walaupun proses tabulasi masih jauh sekali, saya sudah terbiasa sportif dengan kemungkinan menang atau kalah (dulu waktu SD saya pemain tenis junior yang cukup dodol. Walaupun pernah menang turnamen beberapa kali, juga sangat terbiasa kalah telak dan diledek di sekolah karena panuan akibat dijemur di Loanita Tennis Club dan mengikuti kelas intensif tenis 3 kali seminggu setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu dari jam 14.00-18.00 wib).

 

Demikian intro di atas saya buat dengan apa adanya, dan tanpa berlama-lama, berikut adalah rekapitulasi singkat perolehan suara saya versi KPU. Saya tidak bisa menampilkan hasil quickcount versi TS saya dan juga versi DPD Partai Demokrat DKI karena memang ditujukan untuk konsumsi internal partai.

 

Tabulasi KPU Calon DPR-RI DKI II per 20 April 2009 (berdasarkan perolehan suara terbanyak):

I.                  Hj.Melani Leimena Suharli (Partai Demokrat)       11.180

II.             dr.Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat)            8.515

III.           Sohibul Iman (PKS)                                           6.150

IV.            Halida Hatta (Gerindra)                                     5.197

V.                Ahmad Faradis (PKS)                                        4.895

VI.            Eriko Sotarduga (PDIP)                                      4.575

VII.         dr.Ritola Tasmaya (Golkar)                                 3.368

 

Tabulasi KPU Calon DPR-RI DKI II per 21 April 2009:

I.                  Hj. Melani Leimena Suharli (Partai Demokrat)      11.721

II.             dr.Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat)           8.747

III.           Sohibul Iman (PKS)                                           6.335

IV.             

V.                Ahmad Faradis (PKS)                                       4.968

                               

Rekapitulasi Penghitungan Suara Pemilu Calon DPR-RI DKI II di TPSLN Chicago pada tanggal 9 April 2009 ditambah dengan Penghitungan Suara Pemilu Lewat POS pada tanggal 19 April 2009:

  1. Partai Demokrat                  175
  2. PKS                                   77
  3. PDIP                                  58
  4. PDS                                   55
  5. Golkar                               26

dan seterusnya…

 

Dan khusus untuk perolehan Caleg DPR-RI di TPSLN Chicago:

  1. dr.Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat)     60
  2. Sohibul Iman (PKS)                                      35
  3. Apong (PDIP)                                              21
  4. Nursanita Nasution (PKS)                              18
  5. Eriko (PDIP)                                                16

dan seterusnya…

        Sama dengan Bono U2, saya mungkin akan meninggalkan kekasih saya, Jamaica, dan mulai jatuh cinta dengan Chicago. Ini intro Bono pada saat akan membawakan lagu Miracle Drug di Chicago:

“I fell in love in Chicago… I fell in love in a hotel room, in Chicago. Listening to Miles Davis. Didn’t understand jazz… Didn’t understand Miles Davis, or how his music can make me feel until sitting in this hotel room looking out the window. At this city, an Irish boy 24 years old, and just looking around Chicago I kinda understood Miles Davis somehow, understood his music. And then we, fell in love with Chicago… It started out in clubs, I can’t even remember the name of the clubs. Walking out on tables, kissing people’s girlfriends, drinking their wine, the microphone in my hand… it was a hundred people there but we felt Chicago had fallen in love with us. We don’t really look back that much in our music. We don’t really look at the past. The best bits of the past, we try to bring with us. There are songs. Songs like Pride in the name of love, songs like Sunday Bloody Sunday, songs like Where the Streets Have No name, They’re the best bits of the past and we’ll take them with us. Coz we’re interested, we’re excited, and we have faith in the future. That’s where we’re heading. So for a city of the future, this is our music. This is our drug. Miracle Drug…”

       

 

Love and Peace,

NoRiYu

[22.04.09]

 

P.S.: Thanks to Nico Harjanto in Dekalb Illinois for the update from Chicago!

h1

Menggunakan Hak Pilih: 09.04.09 di TPS 088 Pondok Indah

April 12, 2009
TPS 088 Jl.Kartika Utama, Pondok Indah

TPS 088 Jl.Kartika Utama, Pondok Indah

who ur gonna vote? feel free to check on the menu

who ur gonna vote? feel free to check on the menu

 

the fair square

the fair square

 

bo apetite..

bon apetite..

 

no longer a gol-put citizen! yei me!

no longer a gol-put citizen! yei me!

 

stained pinky... no longer a liar...

stained pinky... no longer a liar...

 

NB: yang menjadi pintu kesenangan saya dan TS, adalah saya mendapatkan peringkat pertama perolehan suara di TPS tempat saya memilih, yaitu TPS 088. Bahkan jauuuh meninggalkan perolehan suara caleg lainnya. Partai Demokrat juga menjadi partai pilihan nomor satu. Selain TPS 088, ada 9 TPS lain di Pondok Indah dan ketika dicek, perolehan suara Partai Demokrat berkisar antara 42%-55%. Konon, efektifitas kampanye caleg diawali dengan satu titik tolak jumlah perolehan suara, yaitu di TPS-nya dan di sekitar rumahnya. Mudah-mudahan ini pertanda baik bahwa saya akan memperoleh jumlah suara yang signifikan untuk lolos ke DPR-RI karena sudah tergelitik ingin memulai program policy-making (dan/atau budgeting, observing).

h1

Catatan Akhir Kampanye Jelang Pemilu Legislatif 9 April 2009

April 7, 2009

Tulisan berikut menjadi penutup dari rangkaian terakhir kegiatan dalam masa kampanye Pemilu Legislatif 2009 (25 Maret-5 April 2009):

1. 25 Maret 2009

 BAROMETER: rupanya acara televisi ini tidak hanya ditayangkan SCTV, tetapi juga O Channel. Bahkan ada yang melihat tayang ulangnya di TV One dan Q TV. Panelis: Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat), Effendi Simbolon (PDIP), Halida Hatta (Gerindra), dan Ade Komarudin (Golkar). Tema Barometer kali ini: Obral Janji Nih Ye.. Dan yang paling berkesan adalah ketika ditampilkan orasi ibu Megawati yang jika disarikan berusaha menginduksi rasa harga diri rakyat Indonesia dalam konteks: TOLAK BLT sebagai penginjak harga diri manusia. Effendi Simbolon juga cukup semangat menistakan program BLT yang saya katakan: Uang BLT 200 ribu GAK NGEFEK buat Bang Effendi. Tetapi saya turun ke rakyat, bahkan untuk rakyat Jakarta uang BLT bermakna dan juga tidak sedikit ditemukan beberapa ibu sekaligus menjadikannya sebagai modal awal usaha. Ini merupakan upaya dari pemerintahan SBY untuk menumbuhkan suatu jiwa kewirausahaan (sense of entrepreneurship) pada mereka. Ini bukan gratifikasi instan semata, ini memang pemenuhan kebutuhan dasar yang “terpaksa” instan. Bukan berarti tidak akan dirangkai lagi sebuah program baru yang LEBIH BAIK. Tetapi memang ironinya, pihak oposisi tidak konsisten. Karena apa? Pada minggu terakhir kampanye, PDIP memasang IKLAN BLT yang menjadi “sinterklas” bagi rakyat dan rakyat berterimakasih pada PDIP. Problem inkonsistensi partai politik dan mungkin juga sindrom “keengganan pemilih untuk diasosiasikan dengan partai tertentu karena partai politik tergeneralisasi ‘dodol’” bisa jadi merupakan salah satu pemicu Gol-Put dan orang-orang memilih memanfaatkan masa libur panjang ini untuk berlibur. Tetapi namanya juga demokrasi, berlibur dan tidak menggunakan hak pilih memang sah-sah saja.

Barometer SCTV (Studio Penta)

Barometer SCTV (Studio Penta)

2. 26 Maret 2009:

 RING POLITIK, ANTV: tadinya saya sudah menolak menjadi narasumber dalam acara ini. Alasannya sedang bersiap-siap berangkat kampanye ke Hong Kong dengan Buruh Migran Indonesia. Tetapi FOX Indonesia menelfon, aka RIA, yang meminta saya untuk menyempatkan datang sebagai narasumber. Narasumber: Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat), Budiman Sudjatmiko (PDIP), Sylvia Sumarlin (Golkar), dan Zulkieflimansyah (PKS). Lagi-lagi di sini PDIP menentang program BLT. Budiman menyampaikan protesnya secara ideologis. Walau panelis dari Vivanews.com, Kar, memotong, “Kenapa cash-back transfer di negara seperti Amerika Serikat sah-sah saja, sedangkan di negara Pancasila seperti Indonesia ditentang?” Lagi-lagi, saya tidak perlu banyak berargumentasi, baik secara konret maupun ideologis, toh PDIP menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2009 mendukung Program BLT melalui iklan partainya yang ditayangkan secara nasional.

]Million Dollar Baby for an hour [Ring Politik, Studio Guet]

Million Dollar Baby for an hour [Ring Politik, Studio Guet

Di belakang ring: Budiman Sudjatmiko, Mumtaz Rais, dan NoRiYu

Di belakang ring: Budiman Sudjatmiko, Mumtaz Rais, dan NoRiYu

3. 27 – 30 Maret 2009:  Sosialisasi dengan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong: Setelah menyadari bahwa saya HANYA bertemu konstituen di Jepang, Singapura, dan selebihnya menitip visual campaign lewat teman-teman yang akan berangkat ke Amerika atau menggunakan sarana FB dan e-mail, saya sempatkan jelang akhir kampanye untuk bertolak ke Hong Kong dan bertemu dengan Buruh Migran Indonesia di sana. Pada saat pesawat Cathay Pacific sudah mendarat dengan aman di bandara, saya menyalakan HP dan sebuah pesan singkat dari Ketua DPD IMM Jakarta masuk dan memberitahukan bahwa sebanyak 34 teman dari IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) menjadi korban Situ Gintung. Saya baru meninggalkan tanah air beberapa jam dan sebuah berita sedih mengawal perjalanan saya di Hong Kong. Saya berkoordinasi dengan teman LSM Lingkungan Hidup di Jakarta (WOMAN act on environment and humanity) agar bantuan logistik diarahkan pada posko IMM.

Destination: Hong Kong.

Destination: Hong Kong.

“]a very nice TV [My hotel room]

a very nice TV [My hotel room

Malam pertama di Hong Kong, saya merasa lelah karena malam-malam sebelumnya kurang tidur. Hawa cukup dingin tetapi masih bisa ditahan dengan legging dan baju terusan bahan wool sepanjang lutut. Ibu Mia dari KOTKIHO (The Hong Kong Coalition of Indonesian Migrant Workers Organization) menjemput saya ke Regal HongKong Hotel dan kami menuju sebuah restoran Padang yang maknyus banget. Rasanya tidak pedas dan bumbunya PAS.

Dinner dengan bu Mia KOTKIHO
Dinner dengan bu Mia KOTKIHO

Bu Mia menceritakan keluh kesahnya yang sudah banyak saya dengar sebelumnya pada saat saya mempersiapkan diri akan menjadi narasumber dan mempelajari materi Buruh Migran Indonesia jelang Diskusi Publik “Menyoal Agenda Parpol terhadap Undang-undang perlindungan Buruh Migran Indonesia” pada bulan Februari silam. Saya mendapatkan materi-materi dari Serikat Buruh Migran Indonesia, Jumhur Hidayat (kepala BNP2TKI), dan buku Underpayment 2:Pemerasan Sistematis Berkepanjangan pada Buruh Migran Indonesia di Hong Kong dari Nurul Choiriyah. Bahkan termasuk mempelajari lifestyle BMI melalui film dokumenter Pertaruhan (At Stake) yang diproduseri Nia Dinata. Sayangnya, bu Mia menambahkan bumbu pedas dan rempah tengik pada makan malam saya pada saat mengatakan bahwa keesokan harinya akan berlangsung Konferensi Pers aksi GOL-PUT di Hong Kong. Saya menyampaikan hal ini pada Jumhur Hidayat dan jawabannya menunjukkan sebuah kekhawatiran yang tulus bahwa aksi golput tidak akan membahwa perubahan positif bagi kesejahteraan BMI. Saya sendiri tidak mengetahui kelanjutan aksi ini, karena pada dua hari berikutnya saya fokuskan diri untuk memberikan edukasi kilat para BMI untuk dapat memahami sistem pemilu yang baru dan senang sekali melihat ekspresi wajah mereka yang telah sekian lama jauh dari tanah air, masih mengguratkan minat dan harapan atas perkembangan bangsa dan negaranya.

A suitcase of leaflets: adequate information is key to a successful democracy
A suitcase of leaflets: adequate information is key to a successful democracy

Look at these BMI's faces: HOPEFUL! Cuz number 2 has been the fool to ignite this "START BELIEVING"
Look at these BMI’s faces: HOPEFUL! Cuz number 2 has been the fool to ignite this “START BELIEVING”

 Saya tidak banyak terkejut ketika berbincang-bincang dengan BMI di Indo Market/Fun Center-nya REKANAN, di shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat), dan melihat langsung dampak psikologis dan goncangan budaya terhadap BMI saat mereka berkumpul dengan fashionable di Victoria Park sepanjang hari Sabtu dan Minggu.

Shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat). Mbak Uji mengajak saya ke sini
Shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat). Mbak Uji mengajak saya ke sini

di depan Indo Market [Causeway Bay, Hong Kong]
di depan Indo Market [Causeway Bay, Hong Kong]

beneath the highway, the pulse of the Indonesian migrant workers beat in hope to live to the fullest...
beneath the highway, the pulse of the Indonesian migrant workers beat in hope to live to the fullest…

ini rombongan bandel tp kocak: entah ballot (kertas suara) siapa dijadikan alas buat piknik! i love these sporty BMI girls!
ini rombongan bandel tp kocak: entah ballot (kertas suara) siapa dijadikan alas buat piknik! i love these sporty BMI girls!

im far behind the BMI girls... [Victoria Park]
im far behind the BMI girls… [Victoria Park]

Terlepas dari berbagai isu penting dan urgen (Saya mendapatkan sebuah tabloid SUARA di Fun Center dengan headline: Underpayment itu kriminal!), saya “merasakan” adanya dua tipe BMI dari hasil bincang-bincang di taman, di kolong jalan layang Causeway Bay, dan Fun Center.

s5

Tempat pakai internet, nonton TV, dan kongkow (Fun Center REKANAN)

Tempat BMI pakai internet, nonton TV, dan kongkow (Fun Center REKANAN)

Kedua tipe tersebut adalah tipe yang memanfaatkan masa bekerja di Hong Kong untuk memperdalam banyak kemampuan (berbahasa Inggris atau Cantonese dan social skills training seperti kemampuan berorganisasi) dan tipe yang memanfaatkannya semaksimal mungkin sebagai masa BEBAS (jauh dari realita) sehingga mereka malah terjebak dalam kesemuan fantasi. Salah satu prototipenya adalah BMI yang bergaya dandan “Republik Cinta”, memakai baju BABY PHAT (it’s Kimora…huk) dan yang “berubah” menjadi laki-laki bahkan ada penghulu yang menikahkan sesama jenis, NAMUN mereka juga menyadari bahwa hal ini hanya dapat terjadi di Hong Kong dan harus segera kembali pada “kodrat perempuan” saat kembali ke tanah air.

i feel like i'm among the girls of "Republik Cinta". Seriously, they did dance to "Makhluk Tuhan yang Paling Seksi" in Victoria Park

i feel like i'm among the girls of "Republik Cinta". Seriously, they did dance to "Makhluk Tuhan yang Paling Seksi" in Victoria Park

yes, this punky brewster dude nextto me is a girl! mukanya disensor [Victoria Park]

yes, this punky brewster dude nextto me is a girl! mukanya disensor [Victoria Park, Hong Kong

yes, on my left side is a female as well. more handsome than i was with my Dolores O'Riordan haircut back in the 90s.

yes, on my left side is a female as well. more handsome than i was with my Dolores O'Riordan haircut back in the 90s.

more punk-y brewsters!

more punk-y brewsters!

Memang Undang-undang Perlindungan Buruh yang komprehensif adalah tuntutan utama yang belum terpenuhi (bahkan masih jauh dari harapan), namun berikut ini adalah tuntutan langsung dari para BMI di Hong Kong:

o Terminal 3 yang masih pungli

o Pembayaran fiskal dibebaskan

o Problem interminit

o Potongan besar dari agent

o Concerns tentang lifestyle yang berubah dengan berdandan dan berperan sebagai laki-laki karena alasan kesepian, bos tidak cemburu, memang lesbi genetik, dll.

o Ingin pulang tetapi butuh kerja untuk menghidupi keluarga. Kalimatnya: “masa mau begini terus??”

o Dan lain-lain

Sayang sekali berdasarkan pengalaman Pemilu 2004, caleg yang berasal dari Dapil DKI II dan lolos ke DPR, tidak membidani urusan ketenagakerjaan sehingga tidak bisa mem-follow up agenda-agenda semasa kampanye dan aspirasi dari para BMI. Untuk Pemilu Legislatif 2009? Start believing… Nama-nama penting yang membantu saya selama di Hong Kong: Mbak Marni, Uji, Lena, dan Puji. Terimakasih banyak atas kepercayaannya.

this is another angel who helped me [Victoria Park, Hong Kong]

this is another angel who helped me [Victoria Park, Hong Kong

Yup, going home with a lot of things weighing in my head...

Yup, going home with a lot of things weighing in my head...

4. 31 Maret 2009:

 PAMI Bertanya: (Catatan: PAMI=Pergerakan Anggota Muda IAKMI. IAKMI=Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

 Saya mengiyakan undangan pihak panitia yang semangat sekali menghubungi selama saya masih berada di Hong Kong. Setelah penerbangan cukup panjang, saya langsung meluncur dari Cengkareng ke lokasi dialog. Narasumber lain: ibu Sumaryati Gerindra dan dr.Ritola Tasmaya Golkar. Masalah debat sistem kesehatan nasional pernah saya bahas dalam post “Debat Sistem Kesehatan Nasional”. Yang pasti, sampai akhir masa kampanye, saya tetap kekeuh memperjuangkan Undang-undang Kesehatan Jiwa. Revisi Pasal-pasal Kesehatan Jiwa dalam Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992 sudah terlalu lama dibasikan oleh Komisi IX DPR. Dan tentunya, saya masih mengantongi utopia untuk ikut mengawal sebuah formulasi SISTEM KESEHATAN NASIONAL yang berideologikan: hak sehat untuk seluruh rakyat Indonesia TANPA memandang status sosial “si miskin”. Ideologi menolong “si miskin” boleh saja, untuk tahapan ini. Tetapi berikutnya, sebagai lembaga legislasi, budgeting APBN, dan pengawasan, pastikan sistem utopis ini bisa diciptakan secara step by step, heart to hear, time after time. Boleh saja lambat tetapi HARUS pasti terformulasi, tercipta, dan terimplementasikan dengan baik secara preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. 

“]PAMI Bertanya [Gedung Joang 1945]

PAMI Bertanya [Gedung Joang 1945

[caption id="attachment_335" align="alignnone" width="450" caption="Berusaha melawan lelah, menjelaskan Urgensi Undang-undang Kesehatan Jiwa sebagai isu nasional Peduli Jiwa Bangsa. [Gedung Joang"]]Berusaha melawan lelah, menjelaskan Urgensi Undang-undang Kesehatan Jiwa sebagai isu nasional Peduli Jiwa Bangsa. [Gedung Joang][/caption]5. 1 April 2009:

 LUNCH IN HONOR OF ASIA SOCIETY INDONESIA with US AMBASSADOR CAMERON R.HUME: Dalam kesempatan makan siang di kediaman bapak Dubes Amerika Serikat, kami berlima yang hadir dari Asia Society Indonesia (saya, Daniel Budiman, Christina Lim, Enda Nasution, dan Andru Subowo). Tidak ada konteks kampanye di sini, hanya saja pesan HE Hume sangat perlu dicatat: “So Nova, if you get elected, I don’t want to hear your name get busted by Kei-Pi-Kei (maksudnya KPK, red).”

Asia Society Indoneis + Dubes AS. From L-to-R: Daniel Budiman, Andru Subowo, NoRiYu, HE Cameron R.Hume, Christina Lim, dan Enda Nasution

Asia Society Indonesia + Dubes AS. From L-to-R: Daniel Budiman, Andru Subowo, NoRiYu, HE Cameron R.Hume, Christina Lim, dan Enda Nasution

 MAKAN SORE dengan ibu-ibu Radio Dalam: penat saya belum hilang, tetapi TS (Tim Setia) sudah menanti saya di sebuah saung daerah Radio Dalam. Tubuh penat sepertinya mendapatkan energi lagi ketika para ibu membacakan doa untuk memberikan kekuatan pada saya. Namun kekuatan jiwa tidak selalu sejalan dengan daya tahan fisik, malamnya saya terkapar karena sejak pulang dari Hong Kong belum sempat istirahat sama sekali. Keesokan harinya saya bedrest satu hari penuh karena pada saat bangun tidur suara serak dan badan meriang. Konsekuensi logis setelah masa sosialisasi dan kampanye yang cukup panjang. Rupanya vitamin dan makanan bergizi saja tidak cukup lagi membendung lelah fisik dan intelektual yang terforsir selama proses sosialisasi dan kampanye. Beruntunglah saya mempunyai ibu dan TS (Tim Setia) yang sigap menyediakan menu sehat, obat-obatan (dari mulai yang kimiawi toksik, sampai ramuan herbal seduh atau kunyah. Hwek!), juga Fitri yang memijit sehingga keesokan harinya bisa kembali pulih lagi untuk beraktivitas.

Saung Radio Dalam

Saung Radio Dalam

 

6. 3 April 2009:

 JANGAN PILIH PARPOL & CALEG YANG MENDUKUNG POLIGAMI oleh Solidaritas Perempuan Indonesia (Lokasi: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Menteng). Narasumber: Nova Riyanti Yusuf, caleg PDIP, caleg PKB, caleg PDS, Mariana Amirudin (Yayasan Jurnal Perempuan), Trie Utami, dan tentu mbak Yeni Rosa. Plus hiburan dari Opie Andaresta (dua lagu: Sunatan Massal dan Asal Tahu). Ketika ada caleg-caleg yang menuturkan pengalaman pribadinya dengan poligami dalam forum ini, saya merasa seperti sedang berada dalam self-help group meeting seperti Confession of a Shopaholic atau AAA meeting bagi para alkoholik. Mungkin agak terkesan kasar, tetapi saya lebih senang menjadi pendengar aktif dan berempati dengan situasi yang terjadi para perempuan. Saya yakin betul, ini bukan ajang yang dipersiapkan oleh Solidaritas Perempuan Indonesia bagi caleg-caleg perempuan untuk curhat. Namun tuntutan agar ada aksi konkret seputar poligami yang di-Amin-i saat itu sebagai isu politik, saya jelaskan bahwa untuk Presiden SBY, PP 45 tahun 1990 sudah disarankan untuk revisi pada bulan Desember 2006. Selain cakupannya PNS, TNI, dan POLRI, maka pejabat pemerintah, pejabat negara (termasuk anggota DPR), dan masyarakat umum dapat dijaring juga. SBY juga sempat menyinggung tentang kemungkinan sanksi yang lebih berat. Dalam PP 45, telah disebutkan sanksi berupa “Pemberhentian secara hormat”. Dan untuk PNS perempuan juga tidak diperbolehkan menjadi istri kedua, ketiga, atau keempat.

Berempati dengan poligami yang menjadi isu politik

Berempati dengan poligami yang menjadi isu politik

Trie Utami menuturkan sudut pandanganya tentang poligami

Trie Utami menuturkan sudut pandanganya tentang poligami

Mbak Yeni Rosa menutup diskusi dengan mempertanyakan kemungkinan Partai Demokrat berkoalisi dengan PKS sedangkan pentolan-pentolan PKS adalah praktisi poligami. Saya menjelaskan bahwa koalisi belum bisa dipastikan sampai hasil Pemilu Legislatif diketahui. Sejauh ini semuanya masih sebatas “testing the water” atau bahasa sopannya: silaturahmi antar partai. Yang pasti PKS memang doyan dengan SBY dan pada beberapa hari terakhir masa kampanye memasang spanduk-spanduk bertuliskan “SBY Presidennya, PKS partainya.”

7. 5 April 2009:

 POWERFUL SOCIETY: setelah sholat Shubuh, saya meluncur ke daerah Radio Dalam dan bertemu dengan para cyclists di RDC (Radio Dalam Cycling Club). Ibu Budi sudah berpakaian lengkap pada jam 5:30 pagi sementara saya menunggunya sambil makan nasi uduk di warung dekat rumah ibu Budi. Jam 6 lewat sedikit sudah cukup banyak cyclists yang berkumpul dan mereka meluncur menuju Senayan dan Monas. Kemudian saya berjalan beberapa meter ke lokasi senam dan menyaksikan Uni yang sangat funky memimpin beberapa puluh ibu-ibu yang siap bersenam. Ini hanya gambaran sederhana saja dari daya masyarakat Jakarta. Saya jadi teringat dengan agenda perjuangan saya: Memperjuangkan Undang-undang Kesehatan Jiwa. Sementara saat saya melihat kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, sudah banyak juga program masyarakat yang menunjang kesehatan jiwa. Jadi perjuangan rumah rakyat, memang harus tetap diiringi oleh perjuangan rakyat itu sendiri untuk merasakan dampak individual yang berkembang secara massal. Aksi pencegahan penyakit dan promosi kesehatan, jelas bermula dari olahraga. Tanpa harus berdalih: males ke gym. Jelas tidak perlu ke gym kalau memang niat berolahraga. Senam pagi gratis, naik sepeda bisa pinjam punya tetangga, udara pagi yang masih sejuk dan bersih juga gratis.

Ini harapan sederhana dari masyarakat, tetapi tujuannya untuk stabilitas nasional

Ini harapan sederhana dari masyarakat, tetapi tujuannya untuk stabilitas nasional

Senam dengan kaos bergambar NoRiYu: NARCIST UNION

Senam dengan kaos bergambar NoRiYu: NARCIST UNION

Radio Dalam Cycling Club. NoRiYu nyempil...

Radio Dalam Cycling Club. NoRiYu nyempil...

8. 6 April 2009:

 BLOOMBERG INTERVIEW: Bloomberg mempunyai sebuah acara televisi, ASIA CONFIDENTIAL, yang dipandu oleh Bernie Lo di Hong Kong. Acara ini pernah mengundang bintang-bintang tamu seperti Daryl Hannah, Oliver Stone, dan Presiden Arroyo. Pada saat kunjungan saya ke Hong Kong saya sudah sempat menyerahkan materi-materi DVD dan CD pada Christine Hah untuk dipakai dalam VT Asia Confidential saat saya diwawancara. Saya diundang dalam perbincangan dengan topik “Indonesia Elections” dan kapasitas saya sebagai novelis dan caleg dari Partai Demokrat. Tadi pagi saya sempat mendapatkan DVD rekamannya dari Wimar Witoelar, tetapi karena kesalahan teknik perangkat komputer saya, saya tidak mendapatkan audionya sehingga belum dapat membuat transkripsi dari hasil wawancara tersebut. Yang pasti, ketidakpuasan adalah bagian dari perbaikan diri untuk menjadi lebih baik, walau tetap menyadari bahwa tidak ada yang sempurna. Pengalaman berharga karena saya terbingung-bingung menjawab pertanyaan Bernie Lo tanpa bisa melihat wujud Bernie Lo dan ekspresi wajahnya. Saya memandangi kamera yang bergerak-gerak sendiri, sementara di telinga saya terpasang earphone yang terhubung dengan suara Bernie Lo. Semua stimulus ini hampir membuat saya bisu karena bingung, tetapi untungnya saya cukup bisa memaksa diri untuk berbicara. Kebetulan sebelum giliran saya diwawancarai, Gubernur Bank Indonesia Budiono juga diwawancarai oleh Bernie Lo. Ini pertama kalinya saya bertemu pak Budiono dan responnya terhadap caleg-caleg muda berkualitas berpengalaman sangat menggembirakan. Terimakasih pada Leony Bloomberg yang membantu saya dan TS menggunakan mesin espresso dan juga menyeduh teh sehat. 2 mahasiswi Universitas Paramadina ikut merekam jalannya wawancara sebagai rangkaian tugas observasi caleg dari kampus. Sampai saat ini saya masih ingat dengan pertanyaan Bernie Lo yang terakhir: “Will you run to become a president, Nova?” Saya menyikapi pertanyaan ini dengan dua kemungkinan: 1) Bernie Lo memang kagum dan benar melihat potensi dalam diri saya, ATAU 2) Bernie Lo ingin memeriksa level narsisisme dan “kewarasan” saya setelah berbulan-bulan sosialisasi dan kampanye. Di antara dua ekstrem ini, jawaban yang muncul dari bibir saya tentu sangat diplomatis, atau menurut Leony dan Arijit dari Bloomberg, politis.

Inspired by Michele Obama's black & white sleeveless dress at the G20

Inspired by Michele Obama's black & white sleeveless dress at the G20

“]with TS: Teteh Lisa and Rusdi Syarief [Bloomberg TV]

with TS: Teteh Lisa and Rusdi Syarief [Bloomberg TV

Bingung nich: Bernie Lo gak tau mukanya cuma kedengeran suaranya di earphone, kameranya gerak sendiri dan harus ngomong ke kamera itu. But it was GREAT. Love the experience!

Bingung nich: Bernie Lo gak tau mukanya cuma kedengeran suaranya di earphone, kameranya gerak sendiri dan harus ngomong ke kamera itu. But it was GREAT. Love the experience!

“]Dengan Gubernur Bank Indonesia Budiono. Antri diwawancara Bernie Lo [Bloomberg TV]
Dengan Gubernur Bank Indonesia Budiono. Antri diwawancara Bernie Lo [Bloomberg TV

Dan hari ini pun saya lalui bersama TS dengan wisata kuliner dari Kiyadon Sushi Grand Indonesia, Cafe au Lait (yang ini sekalian wawancara dengan TV One seputar kampanye melalui Facebook), dan Kambalijo di Megaria. Masih belum puas, kami kembali lagi ke Grand Indonesia dan menonton Confession of A Shopaholic di Blitz Megaplex. Saya berseloroh pada TS di mobil, “Kalau Rebecca Bloomwood bisa membayar hutang dengan menjual dan melelang baju-bajunya, kira-kira caleg bisa juga gak melelang baliho-balihonya untuk bayar hutang?” He he he. Saya merasa cukup beruntung bahwa saya tidak perlu pusing dengan dana kampanye yang sudah dihabiskan. Jumlahnya masih dalam batas alokasi kemampuan pribadi sehingga tidak berhutang. Ternyata tidak hanya ujian, menjadi caleg juga dibutuhkan faktor hoki, termasuk hoki diundang di banyak forum umum sebagai narasumber sehingga tidak usah pusing menyediakan uang dalam rangka mengadakan forum-forum untuk sosialisasi diri, termasuk diundang dalam beberapa acara TV sebagai narasumber, dan lain-lain. All in all, I’m happy… Tinggal menanti lusa, untuk menghadapi Pemilu Legislatif 9 April 2009. Ready or not, here it comes. Though I surely think, the SOONER the BETTER…I need to know if my semi-indie campaign really worked out.

Peace,

dr.Nova Riyanti Yusuf,

 Caleg DPR-RI Partai Demokrat

Dapil DKI II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri) Nomor Urut 2

h1

From Rags to Riches: I’ve come to witness…

March 23, 2009
Sosialisasi pemilu atau kampanye menjadi pengalaman yang sangat “menggetarkan” hati saya. Berbagai dinamika psikologi yang selama ini saya terapkan pada pasien-pasien psikiatri, kali ini saya perbandingkan dengan pada saat berjumpa konstituen. Bedanya kalau dengan pasien psikiatri, kita dapat berhadapan dengan satu orang atau terapi kelompok (yang jumlahnya sangat dibatasi supaya efektif), maka turun ke masyarakat adalah tantangan tersendiri karena hanya dengan berjalan dalam satu gang saja, begitu banyak orang dengan berbagai ragam karakter pun tumpah ruah menemui kita. Ternyata saya tidak banyak menerapkan ilmu kejiwaan di sini, karena insting lebih bekerja untuk menentukan daripada mengkotak-kotakkan manusia dalam teori. Saya membiarkan diri saya larut dalam segerombolan anak kecil yang mendampingi saya berlari-lari kecil dalam curahan hujan berpetir. Saya pun tidak bisa memungkiri bahwa saya was-was tersambar petir (mengingat akhir-akhir ini banyak kasus meninggal karena tersambar petir), apalagi melihat anak-anak ini yang tetap tertawa-tawa dengan bahagia di bawah curahan hujan. Satu anak bernama Rian menjadi penggemar saya (kata bapaknya, sang ketua RW). Saya pun khawatir dia kecewa, karena foto saya dan aslinya, agak/sangat berbeda. Kebetulan fotografer Taufik Dasaad sangat jago mengambil angle foto yang dapat menonjolkan sisi-sisi baik dari profil wajah saya. Sedangkan dalam realitanya, saya senang manyun, bengong, dan sulit mengendalikan ekspresi wajah dengan baik. Saya ingat betul Tantowi Yahya cukup syok saat saya menjadi peserta “Edisi Penulis” yang duduk di kursi panas Who Wants To Be A Millionaire pada akhir tahun 2003 karena saya lupa bahwa kamera berhasil menangkap ekspresi wajah saya yang aneh-aneh. Untungnya Rian tidak terlalu ambil pusing dengan perbedaan antara wajah saya di foto dan wajah saya yang asli. Saya pun jatuh hati pada bocah berperawakan agak gemuk bernama Rio sehingga saya melingkarkan gelang Partai Demokrat yang saya pakai pada pergelangan tangannya. Ia tersenyum senang karena rupanya ia penggemar bapak Presiden SBY. Langsung saja Rian dan kawan-kawan berteriak, “Dasar car-per!”  

From rags to riches, saya merasa beruntung bahwa saya dapat bertemu dengan begitu banyak orang  yang menerima saya dan TS (Tim Setia) dengan tangan terbuka. Dicontreng pada Pemilu Legislatif 9 April 2009 adalah bonus, yang datangnya dari chemistry setelah calon pemilih bertemu dengan saya atau hanya dengan melihat campaign visual saya atau bahkan setelah berdebat sengit dengan saya seputar visi misi/program. Dan sama dengan cinta, chemistry tidak jelas datangnya dari mana dan tidak jelas juga kapan akan datang menghampiri seseorang.

panasnya gak beres, tapi demennya pake baju hitam

panasnya gak beres, tapi demennya pake baju hitam

betul banget..abis panas terik, hujan petir... untung ada bu PKK yang mayungin.. ini mah udah redaan ujannya

betul banget..abis panas terik, hujan berpetir... untung ada bu PKK yang mayungin.. ini mah udah redaan ujannya

bu Maryam, setia memayungi...celana udah berat karena ujung2nya basah kuyup

bu Maryam, setia memayungi...celana udah berat karena ujung2nya basah kuyup

 

udah SOP: mampir warung dulu beli pocari sweat

udah SOP: mampir warung dulu beli pocari sweat

karena tergabung dalam "narcist union", maka foto bersama di depan baliho adalah wajib hukumnya

karena tergabung dalam "narcist union", maka foto bersama di depan baliho adalah wajib hukumnya

di sini ada pernah ada kebakaran gara-gara bensin

di sini pernah ada kebakaran dengan 7 korban meninggal gara-gara bensin

  

loving kids...hmm...or...

loving kids...hmm...or...

hmm...or kids love me...

hmm...or kids love me...

 

ow yeaaa definitely kids love me (ultimate narcist union member)

ow yeaaa definitely kids love me (ultimate narcist union member)

 

Kalau di atas adalah foto-foto dari versi lain wajah Jakarta, maka saya juga turun sosialisasi ke wilayah lain Jakarta. Di sini, saya diwajibkan berdansa country! Dan tentunya, GATOT. Lagi-lagi saat diminta menyanyi, saya menyanyikan lagu Anggun (masih C.Sasmi) dan hanya bagian reff  “Mengaku bujangan pada tiap wanita…blabla…ternyata cucunya segudang” Untung keponakan-keponakan sedang datang dari Singapura, jadi saat para penyanyi belum datang (Teh Lisa dan Jeung Cynthia), Nabila dan Icha beraksi dengan cukup gagah berani. Untungnya lagi, mereka cute jadi suara menjadi penilaian nomor dua. Hehe..

nabila & icha - penyanyi dadakan, pastinya GRATIS :-)

nabila & icha - penyanyi dadakan, pastinya GRATIS :-)

haiyaaa...country dance...kampanye kontemporer euy...

haiyaaa...country dance...kampanye kontemporer euy...

i can't escape the dance as well! the pain of being a stiff stick compared to the ladies around me :-( hix

i can't escape the dance as well! the pain of being a stiff stick compared to the ladies around me :-( hix

teteh Lisa...she really knows how to keep me uplifted with this season of madness

teteh Lisa...she really knows how to keep me uplifted with this season of madness

this ritual...holding the mic to socialize (myself) is...unspoken at this point

this ritual...holding the mic to socialize (myself) is...unspoken at this point

Pak Hari helped us out in this area...

Pak Hari helped us out in this area...

kertas suara sebesar ini ya...dan untuk di DKI ada 3 lembar (DPD, DPR, DPRD). kata Al Pacino "hu haaa..im in the dark here!"

kertas suara sebesar ini ya...dan untuk di DKI ada 3 lembar (DPD, DPR, DPRD). kata Al Pacino "hu haaa..im in the dark here!"

kertas-suara1

let me guess: that peace sign is still so in right now...as in "peace in number two" :-)

let me guess: that peace sign is still so in right now...as in "peace in number two" :-)

bye, all, we're really tired of all the singing & dancing...seriously...we're too edgy for this...(dara saphira & tarash)

bye, all, we're really tired of all the singing & dancing...seriously...we're too edgy for this...(dara saphira & tarash)

h1

Spirit of Friday the 13th: start believing

March 15, 2009

Sudah hari minggu lagi. Saya punya kebiasaan merekapitulasi cerita kegiatan hari-hari kerja pada hari Minggu. Kebetulan saat ini saya sedang di kamar jaga malam RSCM (tepatnya di Jalan Kimia-Departemen Psikiatri FKUI). Tidak ada TV, yang ada cuma wi-fi (kayaknya sudah lebih dari cukup kalau buat saya), novel Charlaine Harris berjudul “Dead Until Dark’, dan leaflet film At Stake (Pertaruhan) yang sampai sekarang belum saya buat resensinya karena kegiatan saya yang tidak ramah-waktu sampai jelang Pemilu Legislatif 9 April 2009. Dan ada selingan (atau tepatnya, distraksi ringan) koran Kompas halaman 31 yang memuat berita singkat tentang penampilan saya di acara Kontrak Politik Trans 7. Saya cuma bisa menghela nafas panjang dengan isi berita yang kurang komprehensif (cenderung parsial dan bias). Tetapi kalau dipikir lagi, memang sudah sepantasnya menjadi caleg harus tahan banting dengan berbagai ujian karena ini eranya pembenahan “penghuni” rumah rakyat. Saya pun teringat lirik lagunya Primitive Radio Gods, “Standing Outside A Broken Phone Booth With Money In My Hand”:

We sit outside and argue all night long
About a god we’ve never seen
But never fails to side with me
Sunday comes and all the papers say
Ma Teresa’s joined the mob
And happy with her full time job

Untuk memelihara level kewarasan, saya pun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dari semua rutinitas dan ”merayakan” Friday the 13th dengan keponakan saya, Icha, di sebuah restoran Perancis daerah Cipete. Biasanya saya memilih Praline Kemang kalau sedang romantis, tetapi kalau sedang ingin sepi dan menghayati makan malam berkualitas (baik rasa makanannya, maupun atmosfir untuk berbincang) saya memilih Praline Cipete. Icha sudah memasuki usia 15 tahun. Usia yang saya ingat dulu saya lalui dengan tidak gampang. Saya punya idealisme yang bolak-balik tidak mudah tercapai. Sedangkan kedua orangtua saya, maunya semua tertata rapi. Dan memang betul, hidup saya sangat rapi. Waktu SD dijemur di lapangan tenis Senayan, Monas, dan Tomang dalam program intensif klub tenis Loanita dan Lita Sugiarto. Alhasil, sempat juara Walikota Cup dan Jakarta Hilton Executive Club untuk Tunggal Putri kelompok umur 12 tahun. Kulit wajah saya sempat panuan juga dan seperti pernah saya tulis di sebuah esai Carmen dalam buku kumpulan esai saya “Libido Junkie”, dulu saya mendapat julukan “kucing burik”. Kebayang dhe…waktu kecil saya tidak gampang adaptasi dengan teman-teman. Karena saya anak perempuan yang tidak senang barang-barang bagus, agak tomboy, tidak sabaran dengan khayalan teman-teman yang saya anggap “infantil banget sich lo pada?”. Semua ini ditambah lagi dengan pola asuh bapak saya yang bankir dengan disiplin tinggi dan ibu saya yang juga tegas memberikan batasan-batasan. Kok jadi ngomongin masa kecil ya… Mungkin karena melihat jiwa remaja dalam Icha, saya jadi teringat lagi. Dan saya mengagumi Icha dengan segala proses “cobaan” yang ia alami sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD, saya hanya bisa berkata: And look how well she turns out to be.

icha & noriyu

icha & noriyu

 Tetapi tentunya akhir pekan saya tidak bisa cuma santai-santai saja. Sabtu malam saya meluncur ke Buperta Cibubur, tempat berlangsungnya acara jambore nasional Muhammadiyah dengan sekitar 5000 peserta. Sementara saya menepi ke Gedung Cemara. Di sana sudah ada Jumhur Hidayat, dan lain-lain. Seharusnya Jumhur menjadi keynote speaker tetapi Jumhur ingin ikut berdiskusi. Intro yang diberikan oleh Jumhur ada dua poin: 1.) tentang “gilanya” suara terbanyak, dan 2) tentang keilmuan.

Kemudian saya masuk dalam orasi saya dengan mengutip salah satu cerita dalam buku The Political Brain: Adlai Stevenson menjadi kandidat presiden melawan Dwight Eisenhower. Pada saat kelar berorasi, seorang perempuan menghampirinya dan berkata: “Pemilih rasional akan memilih anda.” Jawab Stevenson: “Madam, that is not enough. I need a majority.”

Intro ini adalah penggambaran isi pikir dan suasana perasaan yang sekarang ini caleg-caleg hayati dengan diberlakukannya sistem popular votes yang tidak pada tempatnya (tidak perlu lagi dijabarkan karena sudah banyak sekali pemberitaan mengenai hal ini). Orasi demi orasi, diskusi demi diskusi, telah saya lalui. Berbagai keentahan pasca orasi juga saya rasakan. Saya tidak dapat menerka dengan pasti apa dampak dari orasi saya terhadap para pendengar yang notabene calon pemilih potensial. Kadang ada sebersit harapan muluk, tidak hanya saya meyakinkan pemilih untuk memilih saya, tetapi saat bersamaan saya juga telah menuai benih “Start believing” pada calon pemilih yang sebenarnya sudah memutuskan untuk menjadi golput.

the mob of IMM

  

jumhur hidayat, noriyu, dll (can't help it: lelah mode)

jumhur hidayat, noriyu, dll (can't help it: lelah mode)

Inti akhir dari orasi saya pada teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

            “Dua poin yang saya sampaikan (memperjuangkan UU Kesehatan Jiwa dan memajukan program pro-rakyat seperti Jamkesmas disertai dengan utopia untuk mengawal sebuah formulasi sistem kesehatan nasional yang merata tanpa memusingkan lagi status ekonomi) bukan menunjukkan keterjebakan saya dalam profesi saya di dunia medis semata. Justru saya ingin menunjukkan bahwa perjuangan saya sangat spesifik dan profesional. Sudah bukan jamannya lagi DPR dipenuhi oleh legislator-legislator yang tidak punya skill, tidak punya keahlian, tidak punya prestasi, tetapi hanya bermodalkan visi dan misi yang itu juga “mungkin” dibuatkan oleh orang lain tanpa ada penghayatan mendalam.

            Turun ke rakyat gampang. Sekarang ini semua caleg sedang turun ke rakyat. Tetapi mendengarkan aktif keluhan mereka, kemudian memformulasikan keluhan-keluhan tersebut menjadi rangkuman masalah yang harus digodok menjadi berbagai kebijakan publik dibutuhkan kecerdasan dan kejernihan hati tingkat tinggi karena ini menyangkut masa depan rakyat Indonesia.

            Oleh karena itu, saya akan menutup pemaparan saya ini, dengan menaruh sebuah harapan besar kepada teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang tercinta. Teman-teman mengundang kami dengan harapan besar bahwa ada sinergi dengan masyarakat politik sebagai pembuat kebijakan yang pro-rakyat. Sama dengan teman-teman semua, kami para caleg juga menitipkan beban berat dan besar agar teman-teman semua yang hadir malam ini menjadi juru bicara yang ikut menyuarakan kepada rakyat, siapa caleg yang harus dipilih pada tanggal 9 April 2009 nanti. Karena mereka ini, caleg-caleg ini, yang akan duduk di Parlemen 2009-2014 adalah wajah calon pemimpin nasional yang akan mengambil alih kemudi pimpinan Indonesia pada tahun 2014.”

 

Memang sekarang baru keluar dari spirit of friday the 13th, tetapi bukan berarti saya sempat terhinggapi spirit ingin membunuh dengan berdarah-darah seperti dalam film Friday the 13th, apalagi membunuh masa depan bangsa Indonesia dengan menyerah.  Sometimes, I seriously hate myself for being a fool in endlessly hoping for our little world of Indonesia to change accordingly.

[Masih dari Kamar Jaga Malam ditemani Teardrop-nya Massive Attack, 15.03.09]

dr.Nova Riyanti Yusuf

h1

[11.03.09] LA Lights: Meet The Experts (Movie Scriptwriting & Perkenalan Indie Movie)

March 11, 2009

Ini tahun ketiga saya menjadi pemateri untuk acara LA Lights Indie Movie Festival yang diselenggarakan oleh SET Film. Tahun ini menjadi agak berbeda dari tahun sebelumnya karena didahului oleh LA Lights Indie Movie Goes To Campus. Saya kebagian berkeliling ke Budi Luhur, Perbanas, dan Mercu Buana, untuk memberikan materi MOVIE SCRIPTWRITING. Dan hari ini giliran Universitas Budi Luhur. Pesertanya banyak, antusiasme OK, dan pastinya setelah sesi saya dilanjutkan dengan bertemu Lola Amaria dan satu sesi game di mana peserta yang terdiri dari 200 orang dibagi dalam 8 kelompok untuk membuat sebuah sinopsis cerita secara berantai (tiap baris peserta menuliskan satu kalimat). Ternyata (saya, Lola, Ray) sepakat bahwa yang menjadi dua pemenang adalah kelompok yang menceritakan ending bunuh diri dan kelompok yang satunya lagi mengandung elemen kejutan, yaitu mengetuk kepalanya (mungkin dengan martil). Seperti saya sempat membahas dengan panitia dari SET pada saat technical meeting, temuan panitia dalam tumpukan skrip tahun lalu (2008) sangat menarik konon mayoritas cerita berakhir dengan bunuh diri. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya terkait dengan kedokteran jiwa, jadi temuan ini menjadi sangat menarik. Walau memang Lola mengatakan, unsur “kepepet” sebuah film pendek, adalah munculnya sebuah keinginan untuk memunculkan element of surprise yang sedemikian rupa, jadi bunuh diri menjadi solusi atraktif untuk membunuh akhir film pendek. Jadi sebagai petunjuk saja, mungkin skrip atau skenario berikutnya jangan mengulangi manuver ending bunuh diri. Merah Itu Cinta yang saya tulis skenarionya pada tahun 2007 untuk sutradara Rako Prijanto menjadi film layar lebar yang ikut terbedah dalam Meet The Experts. Film yang tidak meraup keuntungan secara komersial, tetapi cukup membanggakan dengan 7 nominasi Piala Citra (FFI) 2007. Dan mohon dimaklumi kalau para peserta workshop scriptwriting dengan saya menjadi agak-agak keranjingan tema psycho, karena genre penulisan saya memang masih setia dalam jalur psikologis-tragis, sehingga jarang mengusung tema yang bahagia, santai atau mengundang tawa. Kalau ada tawa, masih dalam kegetiran. Kalau ada bahagia, masih ada antisipasi kepahitan. Ini cuma masalah gaya penulisan saja, yang tidak linier dengan selera realitanya. 

Dengan dipandu oleh moderator Ray Nayoan yang pernah membuat film pendek 10 menit Peeper (pengintip) yang tergabung dalam film kolaboratif, TAKUT, acara ini menjadi cukup pervert dan segaaaar. Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan mudah-mudahan semakin banyak calon filmmaker muda yang ingin bergabung dalam LA Lights Indie Movie Festival 2009. Jangan lupa, tahun ini juga diadakan short story competition bagi yang berminat mengikutsertakan sinopsis 2 halaman dalam perlombaan. Mari berkompetisi dengan sehat dan majukan teruuuus perfileman Indonesia. Saya jadi teringat, salah satu dosen FIKOM Universitas Budi Luhur yang bernama Vini sempat berkomentar, bahwa sekarang ini ada kesan film Indonesia yang sebenarnya sudah booming tetapi sekarang jadi mundur lagi karena penggarapan tema film yang berkesan plagiat. Hmm…mungkin yang dimaksud film-film bertema seks dan horor? Guilty pleasure, mam. Tidak usah diberangus, cukup disingkirkan perlahan-lahan dengan kehadiran film-film baru yang bermutu. Dan tentang ide yang tidak orisinil, ini agak sulit dihindarkan. Karena memang dengan begitu banyak karya seni yang bermunculan dan bertaburan, nuansa-nuansa karya yang lain sedikit banyak ikut terbawa-bawa atau mempengaruhi. Bahkan pada saat menunggu acara Meet The Experts tadi dimulai, ada sebuah album lagu yang diputar dengan volume keras dan saya sempat bertanya kepada Ray, “Ini musiknya siapa ya? Kok agak-agak kayak…” Ray menjawab, “Arcade Free (eh atau Fire, red). Band Canada. Agak-agak mirip U2 ya?” Saya balas lagi, “Iya, tapi ada unsur The Cure juga.” Perbincangan singkat ini menunjukkan bahwa dalam sebuah karya seni, baik musik, film, atau apa saja, pengaruh panca indera dan penghayatan atas karya seni lainnya terhadap kreator memegang peran besar dalam proses kreatif.  Kalau mau orisinil, jangan bingung larak-lirik apa karya kita orisinil. Yang pasti, scriptwriting is the art of being true to yourself.

P.S:
Buat yang berminat materi scriptwriting versi NoRiYu, kirim e-mail saja ke: noriyu@jakartabeat.net Tapi mungkin baru bisa dibagikan setelah roadshow kampus kelar.

31

3b

 

3a

 

12

 

21

 

41

 

51

 

61

 Kunjungan kedua saya tanggal 19 Maret 2009 ke kampus Perbanas. Di sini kocak, antusias, bahkan ada orasi dari John de Rantau dan para peserta.  I love this event here!

71

 

8

 

9

mari "memerah ide" aka milking an idea dry!

 

meet the experts: noriyu (scriptwriter) & john de rantau (nobita! as producer)

meet the experts: noriyu (scriptwriter) & john de rantau (nobita! as producer)

para peserta perbanas yang kocak & kreatif + Lulu Ratna (moderator provokator ^_^)

para peserta perbanas yang kocak & kreatif + Lulu Ratna (moderator provokator ^_^)

h1

[08.03.09]=[music.movie.men.mingle]

March 9, 2009

Sebelum berbicara macam-macam, saya mau mengucapkan: SELAMAT HARI PEREMPUAN SEDUNIA. Saya termasuk beruntung karena dapat memperingatinya dalam keprihatinan dengan perempuan-perempuan tahan banting di Blitz Megaplex Grand Indonesia, seperti Nia Dinata, Vivian Idris, Ucu, dan lain-lain. Sementara di luar sana pun juga ada banyak sekali perempuan tangguh lainnya yang berunjuk-rasa tentang kelangsungan pertarungan caleg perempuan dalam menghadapi sistem suara terbanyak pasca keputusan versi MK untuk Pemilu Legislatif 9 April 2009.  Hmm… Memang bukan Indonesia kalau tidak macam-macam…  

…dan bukan akhir pekan kalau tidak ada macam-macam. Macam-macamnya ya macam-macam stimulasi, dramatisasi realita, dan persepsi.

Hari Sabtu menonton Java Jazz Festival, demi untuk melihat Jason Mraz. Suka sama si Mraz karena pernah mendengar salah satu acoustic performance-nya menyanyikan lagu “Sweet Child O’Mine” dan melihat the making of video di MTV tentang salah satu video klipnya di mana Mraz main surfing di Jerman.  Sambil agak sedikit menyerobot rombongan ABG dan terpana melihat sederet ABG yang hafal mati lirik-lirik lagu Mraz, saya ikut mengakui bahwa delivery Mraz untuk lagu Beautiful Mess adalah yang terbaik malam itu. Menerjemahkan drama hidup saya -baik spesifik malam itu ataupun hari-hari/malam-malam lainnya. Yang pasti saya baru pertama kali jalan melalui Underpass dari The Sultan ke JCC. Jadi teringat kunjungan saya ke negara-negara yang high-tech-yet-still-human-friendly

susah mau liat, semua HP, BB, kamera mengudara!

susah mau liat, semua HP, BB, kamera mengudara!

senangnya ada temen foto...

senangnya ada temen foto...

Setelah Java Jazz, baru tidur jam 2 pagi, cuma sempat tidur 4 jam karena harus meluncur lagi ke acara nikah salah satu “agen” di Jakarta Pusat.  Agen ini termasuk dalam TS (=Tim Setia).

"agen" kawin :-)

"agen" kawin :-)

Untung “agen” yang kawin lokasinya dekat dengan Grand Indonesia. Jam 10 pagi Teh Nia Dinata mengundang ke screening film dokumenter AT STAKE (Pertaruhan) dalam rangka memperingati HARI PEREMPUAN SEDUNIA. Teteh mengundang saya sebagai “caleg” dan undangan dikirimkan ke Partai Demokrat. Semangatnya teteh untuk menumbuhkan awareness atau lebih tepatnya, the awakening untuk para caleg patut diacungi 4 jempol. Sisi humanis yang jujur dan tulus para caleg memang harus dibongkar. Moga-moga memang ada dalam diri. Tetapi bagi saya pribadi, karena terbiasa diundang -salah satu contoh, Garin Nugroho- sebagai pembicara scriptwriter, saya merasa krisis identitas dalam forum diskusi At Stake. Saat para caleg perempuan lain angkat bicara, saya hanya termangu-mangu memikirkan krisis identitas saya itu. Hi3. Dan ini bukan salahnya teteh Nia, ini konsekuensi logis dari pilihan hidup saya sendiri. Tetapi saking saya kagum dengan teh Nia dan daya advokasinya aftermath film ini -apalagi film ini juga baru pulang dari Berlin Film Festival, saya bergegas ingin menuliskan review film At Stake ini buat www.jakartabeat.net.

diskusi At Stake

diskusi At Stake

noriyu with nia dinata etc

noriyu with nia dinata etc

Hari Minggu belum lengkap tanpa mendapatkan doa dan dukungan dari ibu-ibu arisan :-)

nyam-nyam sama ibu-ibu jaksel

nyam-nyam sama ibu-ibu jaksel

h1

04.03.09: [speak.sit.sing.survive]

March 4, 2009

 

 

 Hari ini hari Rabu yang produktif (sekarang sudah Kamis). Badan penat tapi hati sehat.

Jam 15.00: Temu Artis Caleg Partai Demokrat dengan Infotainment di Bravo Media Center/Fox-Indonesia.

Secara kapasitas, itu bukan tempat saya. Tapi kalau istilah “artis” diambil dari istilah ”artist” maka masih ada relevansinya saya berada di acara ini -sebagai penulis. Karena dalam bahasa Inggris ”artist”=seniman.

Hari ini Christine Tournadre ikut juga. Paskal juga hadir. Kasihan, Christine sedang sakit tetapi menyempatkan ikut untuk meliput.

Bingung juga menyampaikan visi & misi kok ke wartawan infotainment

Bingung juga menyampaikan visi & misi ke wartawan infotainment

Jam 17.00: ikut arisan konstituen di daerah Jakarta Pusat, dan menyempatkan periksa pasien.

di lorong sama emak.. alley cat banget

di lorong sama emak.. alley cat banget

ibu-ibu metal: ibu sri & ibu maya

ibu-ibu metal: ibu sri & ibu maya

ibu2 pantang golput
ibu2 pantang golput
peek-a-boo to ibu-ibu PKK

peek-a-boo to ibu-ibu PKK

 

ibu maya paling gaul

ibu maya paling gaul

 

ibu2 arisan jakpus juga

ibu2 arisan jakpus juga

Jam 18:30: Jemput Lisa di Kelapa Gading.

Jam 19.30: sampai Bandar Jakarta, naik ke lantai atas (ternyata ada juga ya private room di tempat beginian). Gila rame banget padahal ini bukan wiken. Baru tau kalau ada kerang harimau… nyobain ikan hiu (aduuuuuh dagingnya agak2 amis). Tapi yang penting…kita karaokeeee. Sambil sedikit narcist melihat penampilan diri dalam acara TV metro TV Majulah Indonesiaku (atau negeriku) dan saya sebagai “pengamat kesehatan” memberikan sedikit pandangan tentang Jamkesmas, acara makan kemudian dilanjutkan dengan rangkaian nyanyi. Playlist: Hapus Aku (Nidji), SUdah (Nidji), Kangen (Dewa), Kutak bisa (Slank), TUa-tua Keladi (Anggun),  We Are The Champion (Queen).  Norak abiiiissss.

karaoke, gak kalah sama scarlett johansson

karaoke, gak kalah sama scarlett johansson

Jam 22.30: kunjungan ke gudang ikan di Penjaringan. Pekerja2 sedang membongkar muatan ikan-ikan impor (Korea dan Pakistan) dari container ke cold storage. Waduh baru tau kalau bapak ini 60% ikannya dari luar negeri dan 40% dari dalam negeri. Problem impor ini terjadi karena pasokan ikan dari dalam negeri kurang. Hmm… I need to understand further on this.

ini ikan impor dari Korea!

ini ikan impor dari Korea!

h1

Dialog Publik: Menyoal Agenda Partai Politik tentang Perlindungan Terhadap Buruh Migran Indonesia

March 4, 2009

Penyelenggara: MIGRANT CARE bekerjasama dengan Yayasan TIFA.

Tanggal: 3 Maret 2009.

Tempat: Hotel Acacia, Jakarta.

Narasumber:

1.  dr.Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat)

2. Eva Kusuma Sundari (PDIP)

3. Setya Darma Pelawi (PKB)

4. Drs.Aryo Judhoko (PKS)

Moderator: Wahyu Susilo

Pembahas: Anis Hidayah (Direktur Eksekutif MIGRANT CARE) dan mbak Dani (LIPI)

Pada saat saya mendapatkan undangan ini melalui message Facebook, saya sangat berminat BUKAN hanya karena saya kebetulan menjadi Caleg DPR RI Partai Demokrat yang mencakup daerah pemilihan luar negeri, tetapi karena sejak 2006 saya mempelajari materi pelatihan untuk TKI dan merasa ingin ikut memperbaiki sedikit saja sistem pelatihan mereka. Salah satunya, saya bersama teman-teman dengan latar belakang kedokteran jiwa dan psikologi (Metaforma Institute: center for community and social development), membuat modul: Interpersonal Skills Training dengan Transactional Analysis. Alasan: dengan cukup banyaknya TKI perempuan yang berakhir di bangsal JIWA RSCM, maka harus dilakukan sebuah perbaikan “persiapan mental” dari kaca mata kedokteran jiwa. Angka kejadian ini tersoroti dengan jeli oleh Maria Hartaningsih KOMPAS pada forum Dialog Publik ini.

Partai Demokrat mendukung setiap kebijakan dari pemerintahan SBY dan oleh karenanya, program-program BNP2TKI di bawah pimpinan Jumhur Hidayat sejak Maret 2007, saya paparkan dalam forum ini. Masih banyak sekali memang locus-locus minoris yang harus diperbaiki. Tetapi saya setuju dengan apa yang dikatakan Jumhur sebelumnya, “Sudah di jalur yang tepat, tetapi kalau harus diprosentasekan maka dari 100 % kerja kita baru 10-15 %. PR masih panjang.” Kalimat ini adalah sebuah kejujuran (as simple as that) yang mempunyai ulterior messagestep by step, heart to heart, time after time, yet slowly, consistently, and persistently we’ll get there. Dengan meminjam waktu dan terus mengakomodir input membangun dari teman-teman LSM atau pun serikat, sebuah formulasi sistem perlindungan buruh migran Indonesia pasti dan harus akan tercapai dan terimplementasikan dengan baik dan efektif.  

Kesan dan Pesan pasca diskusi:

1. Jelas, sebuah konstitusi yang menaungi perlindungan dibutuhkan secara urgen. Perlu dicatat, bahwa perlindungan yang dimaksud jangan digeneralisasi. Kalau diibaratkan seperti dalam dunia kesehatan, pelayanan kesehatan itu harus komprehensif meliputi: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurut salah satu komentator peserta dialog publik, yaitu dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), perlindungan itu mencakup: to help, to attend, dan to aid.

2. Betul sekali masukan dari LIPI dan MIGRANT CARE bahwa anggota DPR dari daerah pemilihan DKI II yang duduk pada periode 2004-2009 tidak menunjukkan concern terhadap isu buruh migran Indonesia.  Sehingga Dialog Publik ini menjadi sangat penting sebagai sarana mengingatkan para caleg 2009 dari dapil DKI II untuk membuka mata dan segera memformulasikan agenda tentang buruh migran Indonesia. Menarik sekali masukan dari mbak Anis, bahwa ada kecenderungan tidak ada relevansi agenda antara daerah pemilihan dan komisi yang kemudian menaungi anggota dewan.

3. Mari jangan mudah tersinggung, kepada teman salah satu partai, ada yang kebakaran jenggot karena penyelenggara acara dianggap kurang mengapresiasi parpol (kalau tidak salah kalimatnya, “Kalau begitu, kita gak usah diundang”). Terus terang, saya jadi agak menundukkan kepala pada akhir dialog karena merasa tidak enak hati. Sebenarnya tidak usah merasa gerah dengan kritik, justru siapa pun membutuhkan pihak-pihak seperti Migrant Care untuk membuat rapor hasil kerja sebagai sarana check and balance. Ini juga disarankan oleh mbak Maria Hartiningsih. Report card is in order. Bagaimana kita mengetahui hasil evaluasi kerja kita, kalau kita sendiri yang menilai dan merasa puas. Saya rasa inti dari kebijakan publik adalah kesejahteraan publik. Oleh karena itu, walaupun saya mengetahui jawaban pertanyaan dari LIPI: “menurut anda-anda ini, isu buruh migran Indonesia itu isu apa sich sebenernya?”, saya hanya menjawab dalam hati: isu kesejahteraan.  

4. Terimakasih atas input/kritik mbak Maria Hartiningsih KOMPAS kepada saya yang diakhiri dengan pujian dan harapan. Biasanya, orang memuji dulu dalam kalimat indah, kemudian baru menjatuhkan. Karena mbak Maria justru terbalik (menaruh harapan  –> mengkritik –> lalu mendukung), maka saya menerimanya sebagai sebuah dukungan luar biasa bagi langkah saya ke depannya.

Thumbs up untuk Migrant Care!

 

Catatan: acara ini ada fotonya dalam koran KOMPAS hari ini (Rabu, 4 Maret 2009) halaman 4.

 

Sebagai narasumber

Sebagai narasumber

 

eye-popping, indeed

eye-popping, indeed

h1

Statement of Territory

February 14, 2009
Setelah merasa “ambeien” karena menyelesaikan tiga tulisan hari ini, saya berangkat ke beberapa titik di Jakarta Pusat dan Selatan untuk bertemu konstituen dan Christine Tournadre setelah mengikuti perlombaan renang anaknya, juga menyusuli saya dan tim. Sebagai filmmaker dari negara Perancis, Christine merasa puas dengan gaya “climbing” para simpatisan Partai Demokrat. Jangankan Christine, saya pun gigit jari karena khawatir dengan keselamatan mereka pada saat manjat-memanjat. Sebegitu nekadnya dukungan mereka, justru membuat saya merasa terharu dan khawatir. Beberapa etika sepertinya terlampaui pada saat proses jelang pesta demokrasi ini terjadi, seperti etika menghormati nyawa, menjaga keindahan kota, menghargai pilihan warga, dan memelihara lingkungan hidup. Tetapi sebisa mungkin saya menghimbau kepada tim saya untuk tidak memasang atribut (campaign visual identity) secara serampangan atau bila warga setempat tidak mendukung, jangan main pasang-pasang atribut dengan over PD. Jangan sampai calon pemilih malah berbalik mual melihat wajah saya di berbagai campaign visual identity.
Peace and love,
dr.Nova Riyanti Yusuf
[14.02.09]
Number TWO!

Number TWO!

 

16

 

23

32

 

42

 

52

 

61

 

7

 

82

 

92

                                  Christine Tournadre mendapatkan “kepuasan”

 

113

                  kata soundtrack-nya Monk, “It’s a jungle out there”

122

 

   132

                                        My favorite spot!

142

 

welcome to the jungle

welcome to the jungle

an intersection sumwhere in jak-sel

an intersection sumwhere in jak-sel

 

radal2

 

radal3