Pada tahun 2005, saya menghadiri peluncuran buku bapak AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI) di Gedung Nusantara. Secara personal saya selalu mengingat bapak AM Fatwa sebagai sosok yang hadir menggantikan almarhum ayah saya pada acara Sumpah Dokter tahun 2002. Hari itu saya membacakan pidato sambutan di hadapan begitu banyak tamu di Gedung BPPT dengan lutut yang bergetar karena saya sangat membenci kesempatan untuk berbicara di hadapan publik. Kemudian pada saat saya jalan menuruni podium salah satu dosen mengganggu saya, “Calon anggota DPR ya, Nova?” Dia tertawa-tawa dengan hangat (bukan sinis) kemudian berlalu. Pada saat saya mendengar ucapan itu, saya hanya menggelengkan kepala karena dalam hidup saya hanya ada niatan untuk menjadi penulis. Saya pun sempat mendaftarkan diri pada program studi Creative Writing di Stanford, Amerika Serikat, namun terhadang oleh tantangan lain yaitu keinginan orangtua agar saya tidak mengambil jurusan nyeleneh (mengingat tahun 90an awal belum jamannya reformasi sehingga tidak ada kebebasan berekspresi). Pilihan pribadi untuk menjadi dokter umum adalah sebuah tantangan tersendiri dan rupanya saya masih belum jera dengan menjalankan Program Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di FKUI sejak tahun 2004.

Cukup dengan flashback, kembali pada pembahasan acara peluncuran buku bapak AM Fatwa. Salah satu panelis yang membahas tentang buku bapak AM Fatwa adalah Anas Urbaningrum. Saya tidak mengenal mas Anas sebelumnya, hanya pernah mendengar bisikan-bisikan di telinga tentang sepakterjang mas Anas yang cukup popular semasa jabatannya di KPU pada tahun 2004.

Saya datang atas undangan dua orang teman yang menjadi staf khusus bapak AM Fatwa. Mereka memperkenalkan saya pada mas Anas. Kesan pertama saya, mas Anas adalah sosok yang santun, cool (alias “dingin”), dan tawadlu. Saya pun sempat meninggalkan HP saya di meja makan prasmanan gara-gara dipanggil untuk berkenalan dengan mas Anas sementara saya sedang seru makan siang. Setelah berjabat tangan dengan mas Anas, saya baru ingat bahwa HP saya tidak ada lagi di dalam genggaman tangan saya.

Pertemuan tersebut menjadi awal dari perkenalan direk saya dengan mas Anas. Beberapa bulan kemudian mas Anas menghubungi HP saya dan menawarkan jika saya sungguh-sungguh berminat untuk bergabung dengan Partai Demokrat. Ketika saya menjawab iya, ia pun mengajak saya untuk menjadi pengurus DPP Bidang Politik. Kebetulan mas Anas adalah Ketua DPP Bidang Politik. Saya setuju untuk bergabung dan mulai hadir pada beberapa rapat awal di Jl.Layur. Saya yang memang tidak pernah terlalu dekat dengan mas Anas tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan teman-teman bidang politik lain yang sangat menyenangkan. Hal pertama yang menjadi kriteria pertama saya untuk bertahan di sebuah partai politik adalah perasaan nyaman dan timbul chemistry. Tidak pernah ada tuntutan bahwa saya harus memprioritaskan kegiatan partai. Saya tetap konsisten menjalankan sekolah dan hobi menulis. Sesekali saya diikutsertakan dalam kepanitiaan, seperti mudik bareng bersama Partai Demokrat, pelatihan oleh Mahkamah Konsititusi, dan lain-lain. Tentu semua dalam lorong keterbatasan waktu saya sebagai residen psikiatri. Masalah platform dan kinerja partai menjadi seni penilaian tersendiri.

Secara bawah sadar saya menjadi loyal dengan Partai Demokrat justru karena saya merasa kebebasan yang diberikan partai ini luar biasa. Saya teringat dengan aksi sosial saya bersama rekan-rekan dokter, seniman, aktivis, dan media. Kami berangkat ke Yogyakarta pasca gempa bumi 2006 dalam rangkaian konvoi satu buah mobil wagon dan satu buah truk bermuatan logistik. Salah satu anggota partai lain ikut merapat dengan rombongan kami di Yogyakarta setelah kami menempati sebuah wetan yang disediakan oleh Garin Nugroho. Dengan niat sederhana untuk menolong para korban gempa dan juga ikut mengakomodir siapapun yang bersedia menjadi sukarelawan, saya kirimkan perawat dan obat-obatan ke posko Partai Demokrat di Bantul. Rupanya tindakan saya menyulut amarah bos teman saya dari partai lain. Teman saya dari partai lain pun menegur saya di hadapan rombongan kami yang sudah pegal-pegal dan paranoid setiap terasa getaran (karena masih banyak gempa susulan). Saya pun tersulut emosi, bahwa seharusnya aksi kemanusiaan dilakukan atas landasan persamaan tujuan, yaitu mengurangi penderitaan sesama manusia tanpa berbalut atribut apapun kecuali hati yang tulus. Saat itu saya juga tidak bisa menerima ‘derita’ teman saya yang dimarahi oleh bos partainya, namun itu realita bahwa loyalitas kader partai teruji dalam setiap kesempatan. Entah loyalitas nyata atau hanya sebagai pupur wajah. Saya merasa kasihan pada teman saya tetapi pada saat bersamaan saya menjadi bengis dalam rasa frustrasi karena kepicikan atasan partai politik yang mempertegas batas-batas wilayah partai politik dengan mendirikan pagar-pagar berkawat duri, bahkan dalam sebuah konteks bencana alam dan kemanusiaan. Saya berusaha meredam emosi dengan bepikir bahwa mungkin saja secara bawah sadar saya memang beranjak loyal dengan Partai Demokrat sehingga posko Partai Demokrat di Bantul yang menjadi prioritas

Salah satu materi pra-kampanye

Salah satu materi pra-kampanye

saya pada saat mengirimkan perawat dan obat-obatan. Tetapi kemudian saya berdebat lagi, tindakan itu murni dilandaskan dengan intensionalitas menolong sesama tanpa pikir panjang. Akhirnya saya tidak bisa lagi menggali-gali lebih dalam tentang makna dari tindakan saya. Tujuan kami yang berangkat saat itu adalah dengan fokus here & now atau di sini dan saat ini.

Dengan menjalankan kehidupan sebagai dokter umum yang lulus sejak tahun 2002, ditambah lagi dengan program spesialisasi sehingga saya banyak berkutat di rumah sakit seperti RSCM, RS Persahabatan, RSPAD, dan lain-lain. Begitu banyak problem kemanusiaan yang menghenyakkan. Saya pun terharu dengan aksi teman-teman sejawat yang mati-matian mengadvokasi masalah Undang-undang Kesehatan Jiwa. Saya tidak pernah bergabung secara eksklusif dalam pergerakan ini, namun tidak jarang saya dimintai bantuan untuk mendatangkan narasumber pada beberapa kesempatan. AM Fatwa, Aria Kusumadewa, Budiman Sudjatmiko, Prof.Komaruddin Hidayat, majalah Cosmopolitan, majalah Djakarta!, dan lain-lain ikut saya undang untuk memberikan mereka kesempatan memahami tentang problem kesehatan jiwa di Indonesia. Bahkan pada tahun 2006 saya ajak EO sebuah event Kesehatan Jiwa untuk bertemu langsung dengan Andi Mallarangeng agar bang Andi sebagai Juru Bicara Kepresidenan bisa menyampaikan ke telinga bapak Presiden RI. Melalui LSM saya, Metaforma Institute (Center for Community and Social Development), saya juga merapatkan barisan dengan Jejak Jiwa yang didirikan oleh dr.Pandu G. Setiawan, SpKJ, dan menerbitkan jurnal berjudul ATARAXIS pada tahun 2007 serta melaksanakan serangkaian Lecture Series bekerjasama dengan CBM internasional.

Tidak hanya sebagai dokter, tetapi sejak 2003 saya berkecimpung dalam dunia penulisan yang tidak membuat saya hanya berdiam diri di balik computer dan selesai ketika saya menelurkan karya demi karya. Saya banyak diundang untuk berbicara di beberapa kota di Indonesia dan menyaksikan bahwa problem seputar minat baca juga menjadi problem besar bangsa. Selain akses membaca yang tidak mudah (karena mahal atau karena wilayah terlalu terpencil), ternyata minimnya minat remaja dengan proses kreatif yang meresap (tidak hanya instan ingin tampil dalam ajang idola) juga menjadi kendala pendidikan bangsa. Memang jika ingin berbicara tentang masalah, tidak akan ada habisnya. Problem kesehatan dan minat baca baru dua dari rangkaian permasalahan bangsa yang kita hadapi. Namun saya cukup lega bahwa dalam perjalanan hidup saya, saya telah mencoba banyak hal yang bermakna, dan pada saat yang bersamaan, saya membiarkan semua panca indera saya menjadi saksi atas semua penyimpangan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tidak semua penyimpangan harus diberangus dan dibenahi, tetapi dengan semakin banyak melihat dan berpengalaman, saya merasa saya cukup dapat memahami problem-problem apa saja yang harus menjadi prioritas untuk ditangani. Setahap demi setahap, namun pasti.

Buka Puasa Bersama dengan Anak-anak Panti Asuhan (Jalan Layur, 2007)

 

Dan kembali pada problem loyalitas, sejak bergabung dengan Partai Demokrat ada satu-dua tawaran untuk berpindah partai politik, tetapi mau dibilang apa, kalau sudah ada chemistry maka ini adalah proses internalisasi yang terlalu alamiah untuk dienyahkan sehingga pada akhirnya saya pun menjadi Calon Legislatif DPR-RI dari Partai Demokrat untuk Pemilu Legislatif 9 April 2009. Tidak sedikit yang bertanya: Apa yang anda cari melalui partai politik? Saya tidak mencari apa-apa melalui partai politik. Saya merasa saya sudah cukup mempunyai semua yang seorang manusia inginkan dalam hidup ini TANPA melalui partai politik. Namun bila timbul sebuah keinginan untuk memberikan lebih banyak lagi bagi sesama manusia, maka menjadi bagian penting dari proses pemunculan ide, penggodokan, pengesahan, penerapan, dan pengawalan dari segala kebijakan publik yang bersifat people-friendly adalah jawabannya. Partai politik tidak pernah saya bayangkan sebagai lembaga yang tabu untuk dijadikan kendaraan menuju rumah rakyat.

dr. Nova Riyanti Yusuf

Caleg DPR-RI  Nomor Urut 2, Partai Demokrat                                    

Daerah Pemilihan DKI II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Pemilih di Luar Negeri)