Cerpen 1 (Playboy Indonesia, July 2006.)

 

“Tubuh Yang Nakal”

By: Nova Riyanti Yusuf (NoRiYu)

 

 

            Saat semua berlomba-lomba menuju puncak kesemuan, ia tertidur.

            Ya, tertidur. Otot-ototnya ikut terkulai seperti daun-daun gugur di musim rontok.

            Dan semua terjadi di luar kendali apa pun.

 

            Kedua tangannya mengais tanah, mencari akar dari semua kesemuan. Atau justru terbalik, apakah kesemuan sesuatu yang mengakar? Lantas mana yang benar: kesemuan adalah akar atau kesemuan adalah pucuk?

Ia tidak bisa memahami, mengapa pada detik ini ia tidak mencari sesuatu apa, dan ia senantiasa terdiam membisu pada pertapaannya.

Bila tubuhnya bergerak, ia maha mengetahui bahwa sepasang tungkai kakinya, sepasang lengannya, sepasang tumitnya, sepasang lututnya, dan sekujur tubuh kuyunya yang haus dan dahaga, sama sekali tidak menggiring nyawa dan hatinya menuju apa pun. Tidak ada titik di ujung sana yang ingin ia hampiri dan ia hormati dengan takzim. Tidak ada batu nisan yang ingin ia tandangi dengan senyum kebahagiaan dan teriakan: EUREKA!

Tubuhnya tidak lagi bersedia ia jadikan gerbong menuju sebuah kesemuan. Tubuhnya berkata, “tolonglah berhenti sejenak, jangan kau seret aku bergerak menuju titik nol.”

Tubuh yang begitu tolol. Ia pikir akhir adalah akhir. Ia tidak tahu bahwa akhir adalah awal dan juga akhir. Suatu sirkuit tak berkesudahan.

Ia lalu menghajar dadanya dan mendidiknya dengan hardikan, “perjalananku belum kelar! Jangan kau berani menyerah sebelum nyawaku melayang meninggalkanmu yang begitu pemalas!”

Tiba-tiba saja pipinya ditampar. Ia menoleh dengan kedua bola mata merah memijar, “Apa maksudmu menamparku seperti itu?”

Tangan kanannya yang menampar.

Kemudian tangan kirinya berangsur-angsur bergerak mendekati wajahnya. Telunjuk kirinya nekad menuding dahinya.

“Apa maksudmu??”

Lagi-lagi telunjuk itu menuding dahinya. Kali ini sampai menyentuh kulitnya yang berpori lebar dan kasar.

“Jangan berani-berani kau sentuh diriku!”

Ia tidak lagi bisa mengendalikan anggota tubuhnya. Mereka menamparinya, mengajaknya berlari sehingga ia tersengal-sengal, mengguling-gulingkan dirinya di bebatuan yang pedih. Ia terlalu gengsi untuk menyerah dan memohon ampun pada tubuhnya. Tubuhnya pun sudah menyerah atas si empunya.

 

 

            Mengapa aku disalib…

            Mengapa aku dibaringkan di sini…

            Mengapa tidak ada rasa yang merayapi kulit punggungku…

            Mengapa suhu tubuhku yang hangat, tidak merayapi kulitku…

            Mengapa kulitmu begitu dingin saat menyentuhku…

            Mengapa aku tidak diijinkan menjerit…

            Bila kau ijinkan aku menjerit, maka aku akan berteriak, “Jangan sentuh kulitku!”

Tetapi lantas bila aku berteriak demikian, kau pikir aku akan mengijinkanmu menyayat kulitku, mengulitiku, asal tidak kau sentuh kulitku dengan kulitmu.

Kapan, dan di mana, atau adakah, suatu keberadaan, di mana kata adalah kata.

Di mana kata tidak bermakna ambigu. Di mana kata begitu dimaknai dengan kesahihannya. Tidak ada makna implisit atau pembesaran makna dengan kaca pembesar.

Kadang aku sudah lelah. Saat aku mengijinkan mimpi merasuki harapanku. Saat aku ijinkan warna membingungkanku. Saat tidak ada dikotomi makna.

Mengapa kebebasan begitu membingungkanku.

Dan aku akan berlari.

Menuju pembebasan diriku.

Menuju kebebasan yang semua orang dambakan.

 

Ada jurang di sana! Ajak mereka.

Mari kita melompat bersama-sama dari bibir jurang itu!

Di sana ada kebebasan!

Di sana ada harapan!

Di sana ada kebenaran!

Di sana ada keadilan!

(Begitu terus bunyi pekik jerit mereka! Sangat provokatif!)

Aku pun berlari dengan mereka yang menjerit-jerit kegirangan. Tetapi aku berhenti di bibir jurang dan bertanya lagi: DI MANA?

Mereka menunjuk ke bawah dan menjawab, “Kau hanya perlu meloncat.”

Aku ragu, “Aku tidak bisa melihat apa-apa dari sini. Hanya ada kabut, awan putih tebal yang pekat. Bagaimana mungkin aku meloncat ke sana?”

Mereka mencemoohku.

Aku mendiamkan mereka dan memberanikan diri untuk berkata, “Beri aku kesempatan untuk berpikir.”

Dan mereka pun berlalu. Mereka melompat bersama-sama sambil memekik kegirangan.

 

            “Kenapa kau hentikan langkahku tadi???”

            Lunglailah kedua tungkai kakiku. Mereka tidak menjawab apa-apa.

            Aku bosan memaki mereka. Aku bosan dengan diam. Mengapa diam menjadi pilihan jawaban. Atau mengapa pertanyaan adalah jawaban bagi sebuah pertanyaan.

            Aku pun ikut-ikutan diam.

            Betapa lelahnya berdialog dengan tembok kokoh tak berperikemanusiaan! Mereka mengaku menjadi penopang tubuhku, tetapi mereka kecewakan aku. Mengapa mereka tidak ijinkan aku untuk menentukan yang terbaik bagi nyawaku?? Mengapa mereka takut lelah, keropos dan mati muda?? Aku tidak takut mati. Sungguh. Demi pencarianku akan sebuah masa, ada atau tiada, aku kerahkan semua kekayaanku, bahkan bila kekayaan itu hanya seonggok tubuh yang dikendalikan oleh akal. Itu sudah cukup. Tetapi lagi-lagi, tubuhku tidak mau berkompromi. Mereka memanjakanku, mereka mengingatkanku, untuk berhenti sejenak! Bayangkan, aku dilarang untuk menerjang!

            Seolah-olah mereka sangat memahami, bahwa aku akan kecewa. Bahwa daya upaya dan harapanku akan kandas. Dan aku akan menangis… menangis… merintih dalam kekecewaan. Karena sebenarnya, harapan adalah akar dari sebuah kesemuan.

            Lagi-lagi aku ditampar!

            “Hei yang sopan kalau mau protes!! Jangan main tampar, gaplok, toyor!!” bentakku dengan kesal pada telapan tanganku.

            “Aku tidak pernah mengajari alat tubuhku untuk menjadi kurang ajar, kau tahu itu!” lanjutku kasar.

            Ia pun berhenti menampariku. Masih untung sekelompok sel bisa diajak berdialog.

            “Kenapa? Kau tidak suka dengan pikiranku, bahwa harapan adalah akar dari sebuah kesemuan? Begitu?” aku bertanya sambil menatap telapak tanganku dengan penuh kasih sayang.

            Telapak tanganku tersipu seperti bunga putri malu.

            Aku menundukkan wajahku dan menatap kedua kakiku.

            Aku ajak mereka berdialog telepatis. Aku minta mereka untuk mengajakku melihat keindahan dunia. Sesemu apa pun, tolonglah ajak jiwa sepi ini berkelana. Jika aku tidak diijinkan melompat menuju harapan, maka ajaklah aku melihat keindahan. Sejenak saja.

            Ya, mereka menurutiku.

            Kedua telapak kakiku menjejak kuat, menopang tubuhku dan mengajakku berjalan.

            Aku tidak bertanya, ke mana aku akan diajaknya.

            Aku hanya menurutinya.

            Aku mendengus saat tiba di sebuah ruang remang-remang. Ada harum dupa yang menyala di pojokan ruang. Aroma opium. Ada dipan kayu dengan kasur yang tampak empuk. Ada kimono dari bahan handuk. Dan ada tangan-tangan halus yang menjamahku. Ada sepasang buah dada menekan punggungku yang telanjang.

            Aku pun mencibir, “Jadi ini yang kau anggap keindahan… Sentuhan dan kenikmatan.”

            Lagi-lagi tubuhku diam. Bahkan kaki ketigaku juga diam saja, tidak segera ereksi.

            “Ini terlalu biasa. Tunjukkan yang lain!”

            Diam saja.

            “Ini tidak lucu.”

            Perempuan itu menggerayangiku tetapi tubuhku tidak bereaksi.

            “Aku sudah memperingatkanmu. Jangan main-main.” Desisku pada tubuhku yang membandel.

            Mungkin aku salah bicara, kaki ketigaku segera ereksi.

            “HAH! Maksudku kaki-kakiku yang lain!! Bukan yang itu! Aku tidak mau di sini!”

            Tubuhku diam saja.

            Masih diam saja.

            Tidak mungkin, ada ereksi dan ada perempuan, aku diam saja. Itu keseimbangan dinamika sebab-akibat libido yang harus aku panuti etikanya. Kalau aku diamkan…

            Mana mungkin aku diamkan libido??

            Aku akan menjadi pendosa, penista eksistensi manusia yang holistik!

            Lagipula, tubuhku menguasaiku. Aku dirasuki oleh ketidakberdayaan akal dalam mengendalikan tubuh. Aba-aba dianggap pluit tanpa lengkingan.

            “Ya sudahlah, aku selesaikan saja!” pekikku frustasi.

            Segera setelah aku memuaskan perempuan entah-siapa-itu, sontak tubuhku bergerak meninggalkan ruangan temaran tadi.

            “Hey hey hey! Aku belum puas?? Apa sich mau kalian??” teriakku histeris.

            Dalam sekejap, aku sudah berpindah di ruang yang lain.

            Dengan kaki ketiga yang masih menggantung tegang, aku berada di tengah-tengah ruang lapang yang dipadati manusia-manusia dengan wajah beringas. Dalam sekejap saja aku tahu, itulah ruang agresi. Di mana manusia saling baku hantam untuk memenangkan apa yang ia yakini benar, sebenar-benarnya. Tidak ada lagi kompromi. Tidak ada lagi dialog yang terkadang sarat humor seperti antara aku dengan tubuhku. Walau tubuhku tidak menuruti perintah akalku, toh terbukti kekerasan tidak akan kekal sebagai sarana pencapaian suatu tujuan. Dalam hal ini, aku enyahkan perasaan. Aku ingin saksikan dan hayati totalitas akal.

            Semburat darah. Lengkingan sakit. Teriakan kemenangan. Semua menjadi begitu memekakkan telinga dan membuatku sakit.

            “Sudah-sudah. Aku tidak tahan di sini! Tidak tahan lagi di sini! Bawa aku pergi!”

            Aku memejamkan mata, menutup telinga rapat-rapat, dan tibalah aku di sebuah ruang sempit. Sangat sempit. Ini lebih parah lagi, aku sampai tidak bisa bernafas!

            Kali ini aku menangis.

            Sebesar itu kuasa tubuh menghantarkanku ke berbagai ruang. Ruang-ruang itu… betapa pun luasnya, atau betapa pun sempitnya, aku tidak kuasa berada di dalamnya.

            “Kenapa…?” aku berbisik pilu.  “Ada pilihan-pilihan, tetapi pilihan-pilihan itu begitu menyesakkan? Untuk apa ada tubuh, bila hanya akan menghantarkan pada derita dalam memilih??”

            Aku ini bicara apa.

            Aku meringkuk sakit karena ruang itu begitu sempit dan berbau air hujan yang merembesi tanah. Sumpek, pengap. Ada binatang kecil yang menggeliat dan begitu berlendir. Sialnya ia melekat di kulitku. Aku ingin bersumpah serapah, tetapi kuurungkan niatku. Aku jijik!

            Lantas kubayangkan. Tubuhku ini sedang mengajariku, sedang memberiku gambaran, bahwa kelak ia akan beristirahat dalam keabadian di ruang ini. Saat ini ia belum mau. Ia memperingatkanku untuk tidak gegabah dalam hidup, karena tubuhku belum mau mati dan disantap belatung.

            Kupejam rapat mata ini. Berharap keluar dari ruang kematian.

            Entah berapa lama kupejamkan mata diiringi kedua mulut monyongku yang berkomat-kamit dalam doa. Bagiku, doa darurat adalah ritual doa yang paling jujur. Aku selalu bangga menjadi manusia berketuhanan tanpa menjalankan ritual agama apa pun. Karena aku begitu jujur, lebih jujur dari manusia-manusia penuh doa tetapi sebenarnya berharap balas dalam tiap doa. Bukan unsur penyerahan diri yang mereka tampilkan, tetapi kemunafikan karena mereka merengek-rengek dalam ketidaksabaran menanti imbalan. Di luar doa, mereka praktikan ketidakbaikan. Mana ada dikotomi baik dan tidak baik? Apakah ada? Mungkin ada, pada manusia-manusia pencemas. Seperti aku? Dan lihat, betapa tubuhku mengajariku.   

Aku begitu terlarut dalam doa dan pikir, tanpa kusadari saat membuka mata, aku tidak lagi di ruang sempit yang gelap. Aku dibaringkan di atas hamparan pasir putih, dinaungi pohon bakau, dan dimanja oleh suara alam.

Hidup.

Insting yang sesaat hampir aku lupakan. Hadiah yang sejenak kurutuki.

 

            Betapa pun ia ingin memperkosa tubuhnya agar bekerja, tubuh tetap enggan. Tubuh, membatasi harapan. Tubuh, menjadi legitimasi Zat Tertinggi untuk membatasi langkah dan perjalanan manusia. Tubuh, adalah keindahan juga kebhatilan. Yakni telah menjadi sebuah keyakinan bahwa tubuh adalah subordinat dari akal. Ternyata tubuh, bisa begitu cair dan menempatkan dirinya sebagai air bah yang menggenangi ruang dalam tengkorak, serta merta mendikte akal. 

 

Aku telah berkelana dalam pencaharianku. Sempat kuyakini yang salah, tetapi kuiijinkan keyakinanku dipatahkan. Berarti aku tidak sakit, bukan?

           

Sebuah surat untuk tubuhku yang nakal:

            Ijinkan aku menjadi rekan setaramu.

            Ijinkan aku menggunakan kekuatan akalku, untuk menguatkanmu.

            Ijinkan sel-sel pembentukmu, untuk bersatu padu dalam membantuku.

            Jangan lagi kau meronta, melawan kehendakku.

            Jangan lagi kau melunglai, membuatku kalah dalam pertempuranku.

            Jangan kau kecewakan aku, dengan kebengalanmu.

            Fisik dan akal saja, ternyata tidak cukup kuat merekatkan kita.

            Kau harus lebih berperasaan dalam menghadapiku.

            Kau harus percaya, bahwa kita akan sinergis, dalam berjuang.

            Kau akan kebal terhadap tamparan, setruman, hujaman pisau, terjangan peluru, bila kau ijinkan akal ini menjagamu.

            Aku akan mensugestimu sehingga kau begitu lentur menggeliat dan bertahan, bila saja kau bisa mengijinkanku dengan selapang mungkin.

            Ada sebuah titik di sana. Temani aku menghampiri titik harapan itu.

            Dan asal kau tahu, bukan kau yang menghentikan langkahku di bibir jurang itu, tetapi akal. Maafkan aku yang telah begitu pengecut dan selalu mengkambinghitamkanmu. Semata karena diantara kita berdua, kaulah yang mempunyai wujud.

[08.04.06]

 

           

Cerpen 2 (majalah X2 2007)

lampu kuning.

By: dr.Nova Riyanti Yusuf (NoRiYu)

      Kamu merasa setidaknyaman saya. Jangan bilang hanya aku yang tidak nyaman dengan diriku. Kamu laki-laki dan juga bisa merasa tidak nyaman. Juga tidak harus sebatas alat-alat genital luar yang sangat sederhana karena berkisar ukuran dan performa. Harus lebih kompleks dari itu. Ketidaknyamanan dan ketidakpercaaan diri dalam bercinta-cintaan… Ketidakperluan hadirnya konflik, kompensasi, perang batin. Namun semuanya ada, kadang tanpa dan dengan rekayasa. Bikin sakit jiwa. Bikin pusing. Bikin salah kaprah. Bikin cemburu. Bikin ingin menyakiti. Bikin ingin disakiti. Dan manipulasi menjadi jawaban dari semua ketidakjelasan.

      Kadang makna ikatan sudah ternistai, ternodai. Oleh apa? Kadang bingung juga. Oleh kekhawatiran yang berlebihan? Tidak ada manusia yang sempurna… tetapi setiap orang berhak mencari belahan jiwa, belahan diri, pasangan lingga-yoni, yang paling sempurna untuk dirinya. Mungkin sebaiknya, perjodohan manusia disederhanakan oleh Tuhan. Mengapa tidak dibuat saja bentuk dan ukuran penis yang pas dengan vagina tertentu bila memang kedua manusia ini berjodoh? Memang tidak bertambah mudah, tetapi setidak-tidaknya proses pencarian itu bisa menjadi unik. Ibarat mencari kunci yang tepat untuk membuka sebuah pintu menuju dunia baru kehidupan yang penuh kompromi.

      Bayangkan, ketika libido sudah begitu menggebu-gebu, dua anak manusia yang “seharusnya” dalam pembuluh darahnya sudah berdarah-darah karena diisi penuh oleh anggur nafsu birahi, terpaksa gigit jari karena penis dan vaginanya tidak matching bentuk dan ukurannya. Kalau sudah begini, ikatan kedua anak manusia menjadi sangat sakral. Bentuk mendekonstruksikan kekhawatiran dan kebingungan akan dekadensi kesetiaan. Bukan mencemooh Tuhan, justru manusia mencari solusi dari problemnya yang konon semakin kaya dan aneh. Problem memperkaya warna, tetapi pada kenyataannya problem mengusik ketenangan jiwa. Bohong saja manusia dengan jiwa gundah bisa hidup tenang. Di sana sini memang ada keberhasilan sosok-sosok idola yang muncul justru dari kegundahan jiwa, seperti sebuah magnum opus karya seni. Tetapi sudahlah… berapa lama sich kita kuat terus-terusan gelisah…?

      Jadi, manusia boleh mencari solusi. Dengan asumsi, ia sudah paham betul pokok-pokok permasalahannya dan ingin menjadi penyelamat hidupnya. Betapa pun terdengarnya seeprti mendesakralisasi Yesus karena konon Yesus adalah Juru Selamat. 

      Ya, pada kenyataannya mencari jodoh itu tidak lebih dari sekedar mencari kucing dalam karung. Kalau beruntung, kau dapatkan kebahagiaan lengkap dengan penderitaan yang paling sakral. Kalau apes, kau dapatkan penderitaan. Titik. Penderitaan saja. Tidak ada kebahagiaan, Tidak juga sakral.

      Lantas siapa bilang kita sedang berbicara tentang jodoh?

      ”Sayang?” tanyanya.

      Aku mendongak.

      “Mikir apa?’ tanyanya lagi.

      Aku menggelengkan kepala enggan. Enggan menjawab. Enggan juga tampak rapuh seperti perempuan yang walaupun sok menguasai suatu babak percintaan dengan berada di atas tubuh laki-laki dan mendominasi, masih juga meringis-ringis nangis karena keenakan.

      “Bisa gak berenti mikir?” tanyanya lagi.

      Aku membuka mulut hendak menjawab, tetapi buru-buru mengatupkan bibirku lagi. Rupanya aku tidak bisa menjawab pertanyaan mengapa aku selalu berpikir. Pun, aku juga tidak bisa menjawab, aku sedang berpikir apa. Karena aku sendiri merasa malu… Sampai sebatas mana pikiran-pikiranku masuk akal, sejauh apa kekhawatiranku masih dalam batas normal.

      Ia meraih wajahku dengan penuh kelembutan. Sentuhannya terasa menusuk dan memang ada, tetapi kali ini wajahnya yang tampak menerawang. Aku jadi semakin tidak bisa memahami. Aku menghilang. Aku tenggelam. Aku tidak memahami mengapa aku berada di situ. Aku dikalahkan olehnya. Tidak juga karena invasi dan aku menyabotase pertahanan diri dengan pertahanan diri palsu. Dengan pongah menekan, tetapi sebenarnya hanya untuk menambah nikmat invasinya. Baik untuknya, untukku.

      Tidak sadar setelah beberapa lama, rupanya ia sudah kembali memandangi wajahku. Ia pun bangkit dan meraih sebatang rokok yang ada di meja kerja. Saat ia menyulutnya dan menghisap-hisap dengan ekspresinya yang khas (mulut dimonyongkan, dahinya dikerutkan), aku memejamkan mata cepat sambil menggigit bibir bawahku. Hoo itu bukan untuk maksud erotik. Aku memejamkan mata karena aku mencari sekejap gelap dan berusaha bersembunyi dari terang supaya bisa berpikir dalam ketenangan. Sekejap saja aku menghilang, yang terlintas adalah amukan gelap. Seperti badai. Menggigit bibir bawah pun mempunyai maksud. Aku frustrasi karena tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dan merongrong seperti ada bocah laki-laki yang rewel dan berteriak-teriak di telingaku.

      “Mmmmmmmmmmmmmmmmmfhfhfhhff. Ah. Ah. Ah.” Itu bukan erangan nafsu. Itu teriakan yang tidak keluar dari hembusan nafas dan melalui pita suara. Jangan cepat berkesimpulan bahwa erangan adalah perlambang nafsu. Apalagi erangan yang tertahan. Bisa jadi cuma wujud frustrasi karena tidak mendapatkan apa yang sebenernya diinginkan. Yang diinginkan bisa macam-macam, tetapi benang merahnya sederhana saja. Kebahagiaan bercahaya. Bukan kebahagiaan ambigu, yang berlinang dengan air mata bahagia. Di mana ada air mata, di situ ada sedih. Bahkan air mata yang muncul karena sengatan aroma bawang.

      Ia masih di sana. Menerawang sambil memuaskan fiksasi oralnya.

      Aku di sini. Tidak jauh dari dirinya. Fisik kita masih dalam radar pengamatan dan tercakup dalam lapang pandang normal. Tetapi jiwa… paling tidak jiwaku, entah berada di mana. Setiap mulai luluh dengan hadirnya, ada perang yang berkecamuk untuk menjauh.

      Aku terkesiap.

      Ia sudah tidak berada di sana.

      Aku terdorong untuk mencarinya. Tetapi aku menahan diriku.

      Ya, aku akan mencarinya. Pantatku sudah setengah terangkat, tetapi aku kembali duduk.

      Beberapa lama kemudian aku masih larut dalam keheningan ruang dan keramaian pikiranku yang tidak henti-hentinya berkecamuk. Aku tidak menyusulnya. Tetapi aku segera bergegas berdiri dan keluar dari ruangan yang masih menyisakan aroma tubuhnya.

      Aku menghentikan langkahku di depan pintu. Perlahan aku meraih retakan di pintu kayu yang berpelitur coklat tua. Tampaknya seperti bekas hajaran kepalan tangan. Aku masih meraba alur retakan dan membayangkan apa yang terjadi di sana. Waktu itu. Saat aku tidak dan belum berada di sana.

      Aku melongok ke ruangan lain yang lebih luas dari ruangan tadi.

      Ia tidak ada di sana.

      Aku termangu.

***

      Rasanya telapak tanganku sudah kapalan. Tetapi sudah aku tahan tetap saja sia-sia. Telapak tanganku tampak berkerak karena aku bolak-balik saling meremas kedua telapak tanganku.

      Iya aku gelisah.

      Aku sedang duduk tenang di sebuah ruang tunggu yang sangat tenang. Tetapi ketenangan itu terasa begitu mencurigakan.

      Padahal berada di sana adalah pilihanku. Tidak ada seorang pun yang memaksaku.

      Aku masih terpaku di kursiku. Aku memandangi pintu masuk ruangan yang serba merah muda itu. Padahal aku benci warna merah muda. Ya, di sana terpampang papan reklame bertuliskan: LONGEVITY.

      Aku sudah yakin bahwa tempat ini menawarkan solusi dari cemas manusia. Suatu tempat yang akan membantu menemukan pasangan hidup. Bukan biro jodoh, tetapi tempat reparasi.

      “Frida?” suara perempuan yang duduk di belakang meja resepsionis mempersilakan aku untuk masuk.

      Aku melirik ke kanan kiri, depan belakang. Setelah yakin, tidak ada perempuan lain bernama Frida, aku tersenyum manis dan berdiri. Aku berjalan mengikuti petunjuk tangannya untuk memasuki ruangan sebelah.

      Aku ragu sejenak.

      “Silakan saja langsung masuk. Petugas kami menunggu di sana.”

      Aku mengangguk dan menuju ruangan yang dimaksud.

      Aku terkesiap saat pintu terbuka otomatis.

      Berpuluh-puluh perempuan berada di sana dan sibuk memilih-milih bentuk vagina.

      Aku mendekati mereka. Tidak ada petugas yang menyambutku, karena semua sibuk melayani pelanggan. Aku terus berjalan menuju tengah ruangan. Tidak bisa kusumpal telingaku ketika kudengar satu persatu permintaan aneh-aneh perempuan itu. Yang berambut coklat ingin mereparasi bentuk dan ukuran vaginanya supaya matching dengan pria selingkuhannya karena ia sudah jenuh bercinta dengan suaminya. Bahkan ia menunjukkan cetakan penis sang lelaki selingkuhan. Lain lagi dengan perempuan yang berambut violet. Ia ingin mereparasi vaginanya supaya matching dengan Brad Pitt. Bayangkan, mereka benar-benar punya protese penis Brad Pitt. Sangat detil. Bagaimana perasaan Angelina Jolie? Setelah merebut Pitt dari Jennifer Anniston, pasti dia sudah paranoid kalau Pitt akan direbut perempuan lain. Kasihan Jolie. Kasihan Anniston. Kasihan perempuan berambut ungu tadi.

      Aku terdiam. Rasanya malas untuk meneruskan niatku berada di situ. Konon ada program penemuan belahan jiwa. Selama ini kucari, ternyata tempatnya setolol ini. Ini bukan solusi, ini malah memperbesar jangkauan masalah. Memang manusia tidak pernah bisa membuat suatu solusi dari masalahnya. Memang seharusnya Tuhan yang dari awal menentukan jodoh manusia dengan cara yang rumit tapi sederhana. Maksudnya, boleh kan kalau kita tidak melulu merasa menjadi boneka dalam permainan panggung dunia. Sepertinya manusia yang membejati diri dengan tindakan-tindakan gegabah. Padahal tidak ada salahnya manusia diberikan keringanan. Kalau ukuran, kontur, dan bentuk dari penis dan vagina disesuaikan sebagai salah satu kriteria jodoh, setidak-tidaknya manusia akan menjadi lebih tenang. Yang perempuan tidak bisa sembarangan mengangkang, yang laki-laki juga tidak sembarangan mencolok penisnya ke sana-sini.

      Aku berjalan lagi menuju pintu hitam yang sepertinya pintu keluar dari ruangan pengap dan sakit itu. Tetapi langkahku segera terhenti di depan sebuah lampu seperti lampu lalu lintas yang berdiri tepat di depan pintu hitam. Anehnya tidak ada petugas. Aku celingukan ketika tiba-tiba lampu yang tadinya berwarna merah, berkedip menjadi kuning. Kuning itu terus memendar.

      Aku memandanginya. Aku kira lampu akan berubah menjadi hijau sebelum pintu hitam terbuka. Sudah satu menit, warna kuning terus memendar.

      Sudah setengah jam bosan menanti dan aku memutuskan untuk duduk bersila sambil bertopang dagu di lantai.

      Setelah aku lelah berharap, pintu hitam tiba-tiba terbuka. Aku menatapnya dengan berbinar-binar. Aku bergegas berdiri dan berjalan melewatinya. Aku sudah menghilang dari ruangan itu. Tetapi langkahku terhenti. Aku mundur beberapa langkah.

      Aku mendongak ke tiang lampu. Ternyata lampunya masih kuning.

      Aku mendengus. Dasar manusia. Sok memperingati manusia lain untuk tetap berhati-hati. 

 

Cerpen 3 (majalah X2 2007)

Kaca.

By: dr. NoRiYu 

      Dia bolak-balik memaki dirinya atau kaca yang memantulkan bayangan wajahnya. Batasan amarahnya menjadi begitu tipis. Pada dirinya? Pada kejujuran dari sebuah pantulan kaca? Kedua kantong matanya tampak menebal. Sebenarnya kalau diingat, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar pun ia sudah berkantong mata tebal. Buktinya tampak jelas pada sebuah pas foto hitam/putih. Menjadi sebuah kekhawatiran: apakah ia akan menjelma menjadi seorang perempuan yang indah atau selamanya akan tidak menarik?

      Dia berusaha merunut secara pelan-pelan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan diri, kantong mata, sumber air mata, dan peristiwa dalam hidupnya dari sekolah dasar sehingga sekarang. Tetapi dengki dan kesal karena keberadaan kantong mata sudah terlanjur membuatnya murka sehingga sulit berada dalam jalur pikirnya yang santun dan teratur.

      Dia memaki. Terus saja memaki setiap kali kaca itu memantulkan bayangan dirinya.

      Tidak hanya kaca yang merecoki dirinya. ”Kamu tampak lelah.” Begitu saja terus komentar orang-orang setiap kali melihat dirinya, memandang wajahnya, mencari-cari salahnya, dan merangsang ambang toleransinya.

      Lucu. Iya lucu sekali kalau dia merunut hidupnya. Dengan bersusah-payah untuk berjalan di atas trotoar memori, dia harus melawan tumbukan-tumbukan yang mengganggu konsentrasinya.

      Sedikit demi sedikit dia pun mulai teringat serpihan-serpihan dari masa kecilnya. Dia tumbuh besar seperti anak-anak pada umumnya. Walau sebenarnya dia lebih banyak mengalami retardasi emosi dibandingkan teman-temannya yang sangat terbaca metamorfosisnya; benci pada anak laki-laki waktu SD, tersipu-sipu oleh godaan anak laki-laki saat SMP, dan tergerak oleh stimulasi keindahan atau keanehan anak laki-laki saat duduk di SMA. Beda betul dengan dia. Emosinya dingin. Gerak tubuhnya begitu miskin. Dia hanya tergerak oleh fantasi, bukan suguhan realis yang berbinar di depan mata, berbisik di telinga, dan bergetar di kulit.

      Lambat laun dia pun merasa butuh untuk merasa. Seperti komik Tintin yang ia lahap sewaktu duduk di bangku SD. Tintin pernah berteriak ”EUREKA!” Dan sejak itu dia tahu makna ”eureka”. Saat dia merasa tahu bahwa dia perlu belajar berpacaran, maka momen itu menjadi momen ”eureka” yang pertama baginya.

      19 tahun bukan usia yang terlalu tua atau terlalu muda untuk merasa perlu ditemani oleh lawan jenis. Sangat sederhana tetapi dia ingat, gerakan-gerakan setelah momen ”eureka” menjadi begitu elastis. Rasa begitu elastis. Rasa bisa membal. Satu waktu merasa perlu. Satu waktu merasa cinta. Satu waktu merasa yakin, rasa yang waktu itu bukan cinta. Rasa yang waktu itu hanya rasa perlu merasa cinta.

      Wajar bila dia setengah mati dalam upayanya mengingat runutan kisah hidupnya sendiri. Dia terlalu overprotektif atas trotoar memorinya, sampai-sampai dia kehilangan fokus dan arah ceritanya. Bahkan dia kerap menulis buku harian yang tidak bisa dikendalikan oleh pikirannya. Perasaannya yang berbicara. Perasaannya menjadi peramal atas langkah selanjutnya dari hidup yang tidak pernah sekalipun dia kerjakan. Impusivitas tulisannya dalam buku harian menjadi cerminan simpul-simpul rasa yang terjerat pikir. Lucunya lagi, pikiran penjerat itu bukanlah pikiran punya dia. Kadang pikiran orang lain menghukum rajam rasa yang dia punyai.

      Aneh memang. Dia memang aneh. Dia jarang bercerita tentang apa yang nyata. Bila temannya bercerita dengan derai air mata dan hanya berkesan melindungi rasanya dengan ketegaran semu, maka dia sama sekali berbeda. Dia akan bertutur dengan cerdas, cermast, dan akurat seolah-olah rasa begitu kalkulatif dan akan berakhir dengan tanda ”=”.

      Sampai suatu ketika, dia pun harus menjadi manusia yang dapat menjadi budak rasa. Beberapa kejadian dalam hidupnya menjelma menjadi kematian dalam hidup. Dia masih hidup, tetapi dia menatap kematian. Nah sejak saat itulah, dia pun menjadi tercambuk untuk mencari jejak-jejak hidup. Sangat orisinal, bahwa dia tidaklah menguntit jejak-jejak kaki orang lain.

      Dalam keraguan dan ketakutan, dia menjadi pengelana. Beragam lumatan rasa telah dia hayati. Beragam kekhawatiran konsekuensi telah dia takuti. Dia menjadi manusia yang kerap berkubang dalam ruang pribadi. Ruang pribadi itu begitu pekat, tetapi juga kaya raya. Warna-warna menjahili dirinya. Warna hidup menjadi perlambang dari jalur tempuh. Jarak menjadi tidak penting. Persis seperti naik angkutan kota. Jauh dekat sama saja. Dia pun begitu, kerap merasakan perjalanan jauh dekat dengan koyakan yang sama. Awalnya bisa hanya mengintip saja, berikutnya bisa terkoyak sampai luka-luka. Luka itu sampai membuatnya demam, meringis, marah, murka, dengki, anti, jijik, dan dalam waktu entah berapa lama dia pun terjerembab dalam trauma. Namun saat ini dia sedang diam dan berhati-hati. Mudah-mudahan dia tidak akan berpikir untuk kembali lagi menjadi sosok yang masokis. Keasikan disiksa-siksa secara fisik dan batin. Tetapi ternyata, siksaan batin lebih menggairahkan dirinya daripada siksaan fisik.

      Suatu ketika dia mengalami siksa fisik sebagai konsekuensi masokismenya, dan dia harus menahan diri untuk tidak meminum antibiotika. Ketika dia dipaksa minum antibiotika supaya cepat sembuh, maka dia menampiknya dengan alasan tidak mau terlalu banyak racun kimiawi yang merusak daya tahan tubuhnya. Lantas dia terus-menerus diserang oleh rasukan racun pikiran dan perasaan sehingga perilaku dan mata batinnya pun terkoyak. Bagaimana dia bandingkan keduanya? Kadang luka batin juga perlu obat penawar racun. Bila tidak untuk menidurkan saraf-saraf yang meregang maksimal, ya untuk menyeimbangkan aktivitas rangkaian penghantar saraf di otak.

      Lihat kan? Dia sulit sekali direka. Jika seorang penyidik ingin membuat proses rekonstruksi perisiwa pembunuhan batin, maka penyidik ini akan gagal. Sayangnya tidak ada hukum yang melindungi seseorang dari pembunuhan batin. Tidak ada penyiksaan batin pribadi yang disebut sebagai tindak kriminalitas. Seharusnya ada. Jangan harus menunggu siksaan eksternal, lantas hukum beraksi. Tolonglah hukum menyiksa para penyiksa batinnya sendiri. Bolak-balik para penyiksa batin berdialog dengan lawan bicara; yang bisa teman atau lawan. Bolak-balik juga dialog itu hanya sarana numpang lewat. Ada suatu dorongan untuk tidak menghayati dialog. Dialog tidaklah pernah dianggap sebagai cara untuk menemukan solusi. Dialog hanya ventilasi yang tidak terhayati dalam jangka panjang. Sudah berapa cangkir kopi dan asam lambung yang terangsang oleh ampas kopi namun tidak kunjung membangkitkan sebuah keinginan untuk bangkit dari kubangan siksa.

      Sekarang dia masih di kubangan itu. Dan dia masih tidak bisa merunut peristiwa-peristiwa masa lampaunya untuk membuatnya bisa keluar dari kubangan. Kadang dia jadi lupa, sekarang ini dia berpijak di mana.

***

      Dia kembali lagi menatapku dengan kedua kantong matanya yang tebal. Dia masih tidak tahu apa yang ingin dia katakan pada dirinya.

      Dia membuang muka, mungkin dia menyadari bahwa aku sedang menatapinya tanpa daya tanpa nyawa.

      Dia menyentuhku dengan jari-jari yang bergetar.

      Dia pun melepaskan sentuhannya pada kulitku yang dingin dan bening.

      Dia mundur beberapa langkah, membuang tatapannya ke arah lain selain diriku.

      Dia berdiri menatap pintu. Dia berdiri menatap jendela. Dia berdiri menatap hujan.

      Dia berdiri saja sampai kedua lututnya mulai bergetar.

      Aku hanya berharap, kedua lututnya meluluhkan niatnya untuk menjadi wajah yang menatapku setiap waktu dengan tatapan khawatir. Iya, dia khawatir akan dirinya. Dia khawatir tetapi tidak berbuat banyak untuk meredakan kekhawatirannya. Aku yang menjadi lelah membalas tatatapannya. Itulah kepedihan yang aku rasa saat tidak mampu membalas tatapannya dengan tatapan yang akan menguatkan dirinya.

      Dia kembali menghampiriku.

      Aku menatapnya dengan pasrah. Ada sebuah keinginan yang bergejolak supaya dia sembuh dari kebingungan. Aku menahan nafas ketika dia mulai membuka mulutnya.

      “Sembuhkan dirimu….” hembusku padanya.

      Tetapi jawabnya bukan yang aku mau.

      Dia membusungkan dadanya dan mengeluarkan kata-kata dengan penuh kebanggaan, “Aku sudah menemukan suami pengganti untuk istrimu.”

      Dan dia tersenyum lemah. Atau bahagia. Entahlah, yang pasti kedua matanya masih berkantong tebal karena volume air mata yang selama ini tak terbendung.

      Dia pikir, realisasi rasa adalah sebuah transaksi sederhana.

 

Cerpen 4 (majalah X2, 2007)

terlambat

Oleh: Nova Riyanti Yusuf <NoRiYu>

 

Melasak di belantara ladang tebu. Muncul rasa takut, tetapi juga muncul keberanian. Ada semangat yang memiting rasa takut sehingga rasa takut pun merunduk ketakutan.

            Gadis kota mampir ke desa.

            Di balik salur-salur, ia tidak berharap bertemu dengan siapa-siapa.

            Ternyata ruang berkata lain. Wajah pria yang sudah ia kenal beberapa tahun silam menyambutnya dalam ruang.

            Dengan enggan dan malu-malu, ia celingukan memandangi dinding-dinding ruang yang penuh dengan lukisan-lukisan wajah. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah yang terkenal. Wajah terkenal menjadi konsumsi masyarakat yang lapar mulut. Adakalanya tubuh-tubuh lunglai dari masyarakat menjulurkan lidah dan menjilati lukisan wajah-wajah, sembari berharap tertular kenikmatan yang mereka nikmati sebagai wajah terkenal.

            Ia berpikir panjang dan tidak perlu tentang makna keuntungan menjadi wajah terkenal. Apa pun akan ia pikirkan, asalkan ia tidak harus berurusan dengan wajah itu. Mengapa begitu takut pada sebuah wajah? Wajah itu jelas tampan, terpelajar, dan tatapannya mampu memahat sebuah kesan dingin yang justru membuatnya mendidih dalam keingintahuan nakal. 

            Kini jarak duduk mereka hanya satu meter.

            Entah mengapa dalam hitungan beberapa detik saja ia berpaling, pria itu sudah duduk dalam jarak dua meter. Pria itu menjauh.

            Ia menutupi keheranannya dengan tersenyum.

            Pria itu menilainya.

            Ia berhenti tersenyum dan gantian menilainya.

Aneh. Justru jarak merangsangnya.

          Ia tidak boleh binal. Ia terus mengingatkan dirinya, bahwa ia tidak boleh binal dan berkeinginan menerkam pria yang duduk di hadapannya. Tetapi entah mengapa, tidak ada satupun makna dari tuturan pria itu yang bisa melekat di otaknya. Jelas-jelas pria itu sedang berusaha keras menjelaskan sesuatu dengan serius dan intelek. Ia merana karena harus terus-terusan berpura bahwa ia menyimak setiap kata yang tertutur dan menarik kesimpulan dari tuturan panjang tersebut. Nyatanya, ia terjerembab dalam gelisahnya kenangan, bahwa wajah itu pernah gundah karenanya. Konon, pria yang saat ini duduk berhadapan dengannya adalah pria yang pernah kagum padanya, tetapi mundur teratur karena beranggapan ada kriteria kelas tertentu yang layak mendekatinya.

            Bodoh sekali. Anggapan adalah kesalahan terfatal yang pernah dibuat oleh manusia. Sekarang lihat apa yang terjadi padanya. Ia mulai berharap, tetapi juga dihalangi oleh anggapan yang salah.

Ia menyembunyikan rasa “lapar” dari sorot matanya. Namun pada saat bersamaan, ia juga mulai lelah pura-pura menatapi dengan polos. Tangannya sangat menolong dengan sibuk membelai-belai apa pun yang ada di meja. Perlahan-lahan tiga jarinya menelusuri sebuah kertas putih, merasakan konturnya, dan tidak lama kemudian kuku-kukunya pun mulai beraksi mencakar-cakar serat kertas.

            “AKU INGIN MERASAKANMU!” jeritnya.

            Ia terkejut sendiri. Mulutnya menganga dalam kekhawatiran. Nafasnya sedikit tertahan.

            Ia mengamati pria itu lagi dan kembali meneruskan nafasnya yang sudah sempat terputus. Ternyata pria itu masih tetap berkomat-kamit. Berarti ia hanya menjerit dalam hati. Hanya kertas putih tadi sudah habis diremasnya.

            Ia semakin tidak paham dengan apa yang dilihatnya. Kalau manusia, seharusnya bisa menangkap sinyal-sinyal kegelisahan dari gerak tubuh. Apakah tidak tampak sudut bibirnya yang merengut karena kesal tidak disambut dengan kehangatan?

            “KAMU DINGIN SEKALI!!” Ia tidak takut menjerit karena ia tahu bahwa sekali lagi ia akan diabaikan seolah-olah tidak mempunyai harap.        

  

          Ia melorot ke lantai.

            Ia bersimpuh kelelahan.

            Kata-kata yang tadinya masih meluncur dari bibir pria itu perlahan mulai pudar. Kata-kata terhenti. Bagus, pikirnya. Ia sudah capek mendengar celotehannya.

            Pria itu bertanya dengan tatapan matanya .

            “Lelah,” bisiknya.

            Masih juga pria itu bertanya lagi dengan tatapan matanya.
            Oh betapa dia mengerti. Ternyata pria itu yang bermasalah dengan keintiman. Kata-kata hanya bermanfaat untuk penjelasan tema-tema hidup di luar hatinya.

Ia menggeleng-geleng frustrasi karena ia juga tidak berbeda dari pria itu. Selalu mempunyai anggapan yang tidak disokong bentangan fakta.

            Pria itu hendak mengeluarkan suara. Mulutnya terbuka, dadanya mulai membusung, dan kedua bahunya terangkat, seolah-olah ada hal besar yang hendak disampaikannya.

            Ia pun ikut menahan nafas penuh harap.

            Ia masih menunggu dengan sabar.

            Tiba-tiba mulut itu terkatup diiringi bahu dan dada yang melemas.

            Sejenak ia menatap nanar dan malu.

            Ia tidak kuat hanya sendirian disoroti oleh ribuan watt lampu.

Ia bergegas berdiri.

            Ia melangkah menjauh malu-malu, tetapi dalam hatinya berharap pria itu menatapinya dengan pilu.

            Ribuan watt lampu masih terus menyorotinya. Setiap jengkal tubuhnya dipermalukan. Sampai akhirnya bokongnya juga tidak luput disoroti sampai ia menghilang di balik tirai panggung.

 

***

            Ia mendengar gemuruh tepukan tangan.

Tirai perlahan-lahan terangkat dan beramai-ramai mereka membungkukkan tubuh mereka di hadapan para penonton yang memuja penampilan mereka.

Dan sekarang mereka sudah puas melihat salah satu babakan tolol dalam hidupku, dengusnya kesal.

***

 

            Ia yakin waktu telah berpihak padanya. Ia menoleh ke sekeliling ruangan.

            Tidak ada siapa pun. Tidak ada saksi. Kalaupun ada saksi, juga bukan masalah baginya.

            Ia membuka sebuah pintu.

            Dengan langkah yang sangat berhati-hati, ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram disinari oleh sebuah senter yang digantungkan dari langit-langit dengan seutas tali rafia.

            Ia mendekat.

            Kehangatan pun mulai menyergapnya sehingga ia menghentikan langkah kakinya.

            Ia tersenyum salah tingkah.

            Buru-buru ia menepis senyum dari bibirnya. Tidak ada gunanya tersenyum dalam ruang segelap itu.

            “Tidak ada siapa pun di sini. Aku benar-benar merasakannya.”

            Tidak ada balasan.

            Ragu-ragu ia memutuskan untuk melangkah lagi. Kedua tangannya menggapai-gapai.

            Ia berharap cemas karena tidak ada kehangatan yang tersisa. Seperti meraba-raba di dalam ruang hampa udara.

            Sesak. 

“Tolong biarkan hatimu bicara…”

 

            Pria itu mengatupkan bibirnya semakin rapat, tetapi jantungnya berdetak cepat.

 

            Ia menoleh ke arah suara detakan jantung.

            “Aku merasakanmu. Jangan diam… Aku lelah. Ini kesempatanku.”

            “Akhirnya kamu tahu kesalahanmu.”

            Ia terkejut mendengar suara pria itu yang terdengar begitu lantang.

            “Kamu di mana? Apa maksudmu?”

            Tidak ada jawaban. Ia menghentakkan kakinya kesal.

            Ia meloncat dan menyambar senter yang tergantung.

            Ia mengarahkan senter ke setiap sisi ruangan dengan tidak sabar.

            Sebuah wajah tertangkap oleh cahaya senter.

            Ekspresi wajahnya melembut saat menatap wajah pria itu.

            Pria itu membalas tatapannya tajam. Dingin dan menerobos benteng pertahanan dirinya.

            Tangannya mulai bergetar.

            “Kesalahanku?”

            “Kamu hadir saat kamu punya kesempatan? Kamu lupa, ini bukan tentang kamu. Ini tentang kita. Aku dan kamu.”

            “Tapi aku di sini sekarang?”

            “Pada kesempatanmu. Bukan pada kesempatanku.”

            “Jadi aku harus bagaimana?”

            Pria itu memalingkan muka.

            “Peluk saja aku.”

            Pria itu menoleh kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala.

            “Iya peluk saja aku…?”

            “Aku tidak bisa.”

            “Kamu hanya perlu melangkah ke sini dan peluk saja aku.”

            “TIDAK BISA!”

            Ia terkejut dengan bentakannya sehingga senter terlepas dari genggamannya. Ia mundur selangkah, merasa takut dengan sosok dalam kegelapan itu.

            “Kamu tidak mau tau kenapa aku tidak bisa?”

            Ia membungkuk dan berusaha meraih senter yang terjatuh. Perlahan-lahan ia berdiri sambil mengarahkan cahaya senter pada tubuh pria itu.

            Ia menahan nafas ketika melihat lilitan tali tambang mengikat erat tubuh pria itu dari pergelangan kaki sampai ke bahu.

            Cahaya senter tampak bergetar saat mendekati wajahnya.

            Ia menangis tertahan.

            “Aku tidak bebas lagi. Kamu terlambat.”

 

 

[Inspired by: Bob Marley’s Waiting In Vain & The Cranberries’ Linger]

 

 

Cerpen 5 (majalah FEMINA 2007)

Ode to Jamaica

oleh: Nova Riyanti Yusuf (NoRiYu)

Aku diajarinya untuk bermimpi. Karena Carol telah pergi.

      Mesin pesawat mulai terdengar meraung-raung, semakin lama deruannya semakin keras, menghangatkan setiap jengkal mesin pesawat sebelum terbang meninggalkan bumi. Rasanya seperti jantung ini ingin berdegup-degup keras. Tetapi apa daya, jantung ini ternyata begitu lemah. Selemah jantung sakit yang sedang menantikan donor jantung yang belum tentu cocok dengan sistem tubuhnya. Memang, jantung ini tidak lebih dari sekedar wakil sepinya ketiadaan. Tubuhnya melunglai, sementara tubuh pesawat pun perlahan-lahan bergerak mundur, dengan gagahnya akan bergerak menuju landasan pacu, dan bersiap-siap untuk tinggal landas. Sungguh suatu pemandangan yang biasa-biasa aja. Tetapi tidak biasa, untuk jiwa yang tidak paham apa yang ia harus persiapkan saat pesawat itu sudah menghilang dari pandangan. Pesawat itu berhenti. Aku seolah sedang menatapnya dengan penuh kecemasan, jari-jari saling meremas, tatapan mata nanar hampir berkaca-kaca, bibir terkatup rapat namun lama-lama bergetar, karena tahu: ada kata yang belum terucap. Saat logika dibarengi keberanian muncul, tubuh pesawat itu sudah menderu terlalu cepat dan tidak mungkin ia sanggup menghentikannya.

Dan sekarang, ia telah pergi. Menemui Carol.

      Aku mengerjapkan mata. Semakin kubuka kelopak mataku, semakin kosong dunia di sekitarku. Semakin kupejamkan, semakin gelap dan kelu keberadaanku. Jadi aku pun lelah berbaring di ranjang ini. Aku berdiri. Aku bolak-balik saja di tempat aku berada. Ruangan ini tidak banyak membantu. Ia hanya menjadi sekotak ruangan tanpa nyawa. Seharusnya, ia berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan kehangatan. Sedangkan aku, mondar-mandir saja di dalamnya. Ia tidak bisa menerbangkanku untuk bertemu dengannya. Seharusnya, ia bisa. Seharusnya, ia bisa menjadi kotak ajaib yang menjadi pelipur lara kegundahanku. Tetapi paham tidak apa yang sedang kurasakan? Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Ia membawa pergi nyawaku bersamanya. Saat ini aku sedang terbang melintasi benua-benua dan menuju rumahnya. Aku bersamanya… Dan lagi-lagi aku buang muka dengan kepedihan. Putus asa. Dia tidak ada di sini. Aku juga tidak bersamanya.

Dan sekarang, ia menuju Carol.

      Aku termangu di ruangan lain. Aku duduk menghadap sebuah meja kerja. Setumpuk buku dan kertas memintaku untuk menyentuh mereka dan lupakan apa pun juga yang sedang berkecamuk di hati dan pikirku. Aku justru menatap mereka kembali dan dengan bahasa telepati membentak mereka, “Jangan menatapku! Goblok!” Aku mengalihkan pandanganku ke udara yang semakin kosong tak berpartikel. Aneh, ke mana perginya oksigen? Mereka kok menghilang? Apa mereka memang tidak pernah ada? Buku-buku itu menyeletuk, “Oksigen memang tidak bisa dilihat. Tetapi mereka ada. Makanya kamu hidup.” Tengkuk aku tiba-tiba tersengat listrik. Biasanya bila aku marah, akan timbul sensasi dari ulu hati atau punggung bawah yang kemudian menjalar sepanjang tulang belakang sehingga ke tengkuk. Sesak, kepala pun terasa berat yang berangsur-angsur menjadi ringan seolah tanpa massa, jari-jari menjadi dingin tak berdarah, dan pada akhirnya tubuhku menjadi lelah tanpa daya. Tidak, kali ini hanya tengkuk saja yang terasa pegal dan berat. Ya, karena sengatan listrik itu tadi. Aku menatap lagi buku-buku tadi. Aku menarik nafas panjang dan menghelanya, “Jangan ajari aku. Aku juga sudah tahu kalau oksigen tidak bisa dilihat.” Kali ini mereka mendengus dan mencemooh. Aku menjadi naik pitam dan segera berdiri sampai kursi yang kududuki terpelanting ke belakang. Aku raih buku-buku itu dan aku lemparkan dengan sekuat tenaga ke arah dinding yang bersapukan cat merah. Hanya satu sisi saja yang aku cat merah. Selebihnya tidak. Lagipula tidak ada unsur pemujaan atau simbolisasi dari penggunaan warna merah itu. Itu hanya dinding. Tidak usah dibesar-besarkan.

      Buku-buku itu berserakan, beberapa diantaranya tergolek dalam keadaan terbuka. Seperti perempuan lapuk yang mengangkang, tetapi tidak menarik perhatian laki mana pun untuk menjamahnya. Sekarang giliran aku yang mendengus. Marah.

Belum, ia belum bersama Carol.

      Aku melirik jam di dinding. Ia baru pergi satu jam. Baru satu jam. Dan ini dampaknya bagiku. Aku menjadi tidak karuan. Aku menjadi miring. Aku memutuskan untuk berpindah ruangan. Kali ini aku memilih tiduran di sebuah ranjang empuk. Gila, aku sendiri… Aku terbaring tenang… Mataku melirik ke arah nakas di samping kiri tempat tidur. Masih ada roti daging yang terdiam malu. Roti gandum kecoklatan dengan isi yang sangat lezat. Daging yang dibumbui dengan sangat cerdas, tetapi sampai detik ini aku tidak tahu apa saja paduan bumbunya. Yang aku tahu, roti daging itu lezat. Biasanya, air liurku akan terbit hanya dengan membayangkannya. Kali ini, ia tak terjamah. Dan segelas susu pun bertengger dengan setia di sampingnya. “Jangan sedih… Aku selalu di sini.” Aku mendengarnya dengan jengah. Bahkan segelas susu bisa menghibur roti daging itu. Mulai saat itu roti daging tidak lebih dari jahanam yang harus dimusuhi. Saat itu mereka berdua mencemooh kesendirianku. Iya, tidak tahu malu! Aku buru-buru duduk dan memiringkan tubuhku ke arah kiri. Aku meraih nampan berisi roti daging dan segelas susu, dan segera menghempaskannya ke lantai. “Kurang ajar!” pekikku nyaris histeris. Tidak boleh… Tidak boleh ada yang bermesraan di hadapanku. Tidak sekarang, dan tidak selamanya. Iya aku bisa mengatakan selamanya. Karena aku tidak tahu ada apa di depanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam detik berikut hidupku. Jadi susu dan roti daging, tidak sepantasnya mengajariku. Mereka tahu apa? Selama ini aku mengunyah dan menelan mereka. Sekarang mereka sok tahu.

Dan belum…. Beluuuuum, ia belum bersama Carol.

      Aku meninggalkan ruangan. Pastinya dengan sengaja kuinjak roti daging itu dengan keji. Daging yang tambah hancur mengeluarkan cairan-cairan lemak kekuningan sehingga menodai karpet. Aku tidak peduli.

      Aku kembali ke ruangan tadi. Kutatapi lagi buku-buku tadi. Mereka masih tergolek. Aku masih berdiri sambil mengunyah kuku-kuku jari tanganku. Kali ini mereka tidak berani membalas tatapanku. Aku tertawa senang karena mereka meringkuk ketakutan. Perlahan-lahan aku menghampiri mereka. Aku berjongkok. Sebuah kertas putih tersembul dari salah satu buku yang berwarna putih dengan hiasan bunga berwarna hijau.

      Itu buku kenanganku. Buku kenangan biasanya berisi realita. Tidak demikian denganku. Buku kenanganku adalah buku kebohonganku. Betul-betul kebohongan besar yang terus-menerus aku karang dan khayalkan. Aku memanipulasi kisah-kisah hidupku menjadi bentuk-bentuk cerita yang sesuai dengan apa mauku. Sedangkan aku sendiri tidak paham apa mauku. Dan dari semua ketidakjelasan itu, aku pun berkhayal bahwa aku mengirimkannya pada Doogie. Doogie adalah panggilan sayangku pada dia yang telah pergi. Doogie. Seperti tokoh Doogie Howser dalam serial favoritku waktu aku masih kecil dan gampang dibohongi. Doogie Howser adalah anak muda jenius yang menjadi dokter dan berperawakan tubuh kerempeng. Iya, Doogie itu sama cekingnya dengan Doogie yang kini telah pergi.

      Aku berusaha melupakan Doogie. Aku raih kertas putih yang dari tadi tersembul dari dalam buku kenanganku. Aku tiduran di atas karpet. Punggungku menjadi lega dengan regangan yang terasa saat itu. Berangsur-angsur perasaan aku juga menjadi tenang.

      Jari-jariku gemetaran ketika membuka lipatan surat itu. Dengan bersusah payah, surat itu berhasil kubentangkan di hadapan wajahku. Dan surat itulah yang membuatku tahu… bahwa ada seorang gadis lain, bernama Carol, yang telah terlebih dulu menjadi belahan hati Doogie. Tetapi konon, Carol mematahkan hatinya. Aku melirik jam di dinding.

Carol… aku membencimu karena kamu bisa mematahkan hatinya dan justru berhasil membuatnya terkaing-kaing seperti anjing tak terdidik.

***

      Detik-detik itu berlalu tanpa mau menunggu. Detik tidak tahu apa lagi yang harus ia tunggu. Detik harus berlalu dalam sendu.

      Ia menundukkan wajahnya dengan ketidakpahaman menggelayuti setiap guratan di wajahnya. Ia meraih cangkir kopi dengan jari-jari kurusnya. Ia mengetuk-ngetuk cangkir itu. Tuk… tuk…

      Bibir bawahnya terjatuh, karena kata terlalu berat untuk dapat meluncur dari dalam mulutnya. Kata-kata berpelukan erat di jurang bibirnya enggan meluncur keluar menjadi ucapan yang bisa Diandra pahami. Diandra pun menunduk.

      Tuk… tuk… tuk…

      Lagi-lagi jari kurusnya mengetuk cankir kopi yang kini sudah kosong.

      Diandra menegakkan punggungnya yang terbiasa membungkuk.

      Diandra membuka matanya. Tersadar bahwa ia tidak sedang berada di dalam kamar tidurnya dan dikepung oleh dunia mimpi. Pria itu masih duduk di hadapannya. Kulitnya putih pucat, tampak jaringan parut di sudut kelopak mata kanannya, sorotan matanya meredup, jari-jarinya menjepit keras sebatang rokok dan ia sandarkan dahi di punggung tangannya. Rambut ikal kecoklatan membingkai dahinya yang sempit. Tetapi hari itu rambutnya dipotong cepak, berbeda dengan gaya gondrongnya yang tidak masuk akal. Tidak masuk akal karena jelas-jelas rambut keriting gondrong tidak cocok untuk bentuk wajahnya yang tirus. Tubuhnya kurus. Ia memakai kaos bermotif garis-garis horizontal tetapi tidak membantu tubuhnya jadi tampak lebih berisi. Dari balik kengan itu masih tersembul sepasang lengan kurus dengan bulu-bulu halus coklat menghiasi lengan cekingnya.

      Kalau ruangan itu tidak begitu hampa udara dan suara, pastilah musik John Coltrane atau Miles Davis sudah merayapi tengkuk mereka. Ruangan itu terlalu sepi dan terlalu memahami ketakutan mereka.

      Asap rokok menguap dari rongga hidungnya yang sempit karena hidungnya begitu lancip dan kecil.

      Hampa udara. Hanya ada udara kotor yang keluar masuk saluran pernafasan mereka. 

***

      Aku selalu tercekat bila mengingat diriku yang diam saat berhadapan dengannya. Anehnya, aku sama dengan manusia lain, sering tercekat oleh diam, tersergap kekhawatiran untuk berkata-kata dan berharap.

      Detik ini, aku bosan mengingat-ingat masa lalu. Bosan mengenang kebodohanku. Bosan karena telah merasa ketakutan. Aku dan dia punya mimpi. Tetapi sendiri, mimpi itu menjadi konyol dan tak berarti.

Tetapi, ia sudah bersama Carol…?

      Aku melirik ke jam dinding. Sudah hampir 24 jam aku menyiksa diri di dalam ruang-ruang tak bersahabat. Aku lelah. Aku merasa sepi.

Tetapi ia sedang berada dalam rengkuhan Carol.

      Aku berpindah ke ruangan lain yang belum aku datangi dalam 24 jam terakhir. Aku duduk lesu di sebuah sofa. Lelah dalam diam, aku meraih sebuah remote control yang tergeletak di meja.

      Tak henti-hentinya aku memijit tombol remote control, tetapi tidak ada satupun acara yang menarik. Masih ada wacana di kepalaku. Tentang kehilangan. Kehilangan setelah keberanian, tentu tidak akan menggoncangkanku seperti ini. Kehilangan setelah menjadi seorang pengecut yang tidak berani meraih sesuatu, itu tidak bisa aku terima. Ada penolakan dalam sekujur nafas hidupku. Tetapi aku dapat berbuat apa sekarang?

      Jari-jariku lelah memijit tombol. Sebuah acara televisi menampilkan seorang inspirator yang berpakaian putih-putih. Aku tidak paham apa maksud inspirator ini dan mengapa ada sebuah stasiun televisi yang terus-terusan mengontraknya. Ia memakai setelan putih-putih yang membuatnya tampak dungu dan komik. Aku terus mencaci-maki dan menghinanya. Ada kenikmatan saat menghina orang lain. Jadi lupa dengan ketololan diri sendiri. Sampai ia mengakhiri ceramahnya dengan kalimat:

Dunia sebentar lagi kiamat. Mau menunggu apa lagi?

dan aku pun menjadi semakin benci dengan inspirator itu. Ia sama saja, terkena wabah “sok-peduli-pemanasan-global”.

***

      Dunia menggila seiring dengan kebingungan manusia-manusia yang menjadi penghuninya. Cuaca menjadi tidak dapat diprediksi baik oleh badan metereologi dan geofisika. Pesawatnya pun menjadi korban dan terpaksa transit di sebuah kota karena cuaca yang terlalu berbahaya untuk maskapai manapun mampu menerjangnya dengan selamat. Ia tidak sanggup bila harus menanti di ruang tunggu bandara. Tubuh dan hatinya mengejang. Menyaksikan lalu-lalang manusia yang kebingungan akan semakin membunuhnya. Ia pun memutuskan mencari hotel. Ia berhasil mendapatkan taksi dan meminta supirnya mengantarkan ke sebuah hotel terdekat. Alhasil, hotel terdekat tidak lebih dari sebuah hotel murahan yang tidak terjamin bebas rayap dan serangga.

      Ia berdiri terpaku sambil memandangi rupa luar hotel itu. Mengenaskan. Bolehlah, sangat sesuai dengan suasana hatinya saat itu.

      Ia melemparkan tas ranselnya ke sebuah sofa berwarna cerah. Begitu kontras dengan perasaan hatinya saat itu. Tubuhnya meronta-ronta ingin beristirahat, tetapi pikirannya begitu resah dan ingin berada di belahan dunia lain. Andai ia tahu saat ini sedang berada di belahan dunia mana. Lucunya, ia tidak peduli berada di belahan dunia mana. Ada dirinya yang tertinggal di dunia lain. Bukan hanya sebagian, tetapi segenap tubuh dan jiwanya telah dirasuki.

      Ia bergegas menghampiri meja tulis dan meraih sebuah kertas surat buruk yang ditata sok mengikuti standar hotel berbintang lima. Paling tidak usaha manajemen hotel murahan itu layak dihargai.

      “Cukuplah menghina hotel ini! Fokus!” desisnya pada diri sendiri.

      Ia menghela nafas dan duduk di kursi rotan yang menggigiti bokongnya.

      Ia paham betul kursi itu menyakiti bokongnya, tetapi ia tidak begitu peduli karena sakitnya tidak seberapa dibandingkan sakitnya kehilangan seorang perempuan berponi pirang yang berdiri di pintu sebuah kafe dan menyaksikan kepergiannya. Ia ingat betul, bahwa ia menoleh ke arah gadis itu pada saat akan memasuki mobil hitamnya. Ia ingat betul detil-detil gadis itu… Dan ia ingat betul betapa tidak nyamannya ekspresi wajah gadis yang ditinggal sendirian di pintu masuk sebuah kafe. Ia salah tingkah karena orang-orang di sekitarnya memperhatikan ketidaknyamanannya. Anehnya, dunia seperti mengamat-amati setiap gerak-gerik manusia. Padahal, dunia dengan konco-konconya sibuk sendiri dan tidak sempat memperhatikan gerak-gerik kita. Ada kalanya, kita yang merasa terlalu tinggi hati bahwa kita ini layak diperhatikan.

      Ia menulis sebuah pesan singkat di atas selembar kertas surat yang telah habis ia hina-hina dalam hati.

…Tidak pernah ada seorang perempuan pun yang bernama Carol dalam hidupku. Ia hanya ilusiku saat aku terstimulasi oleh hadirmu. Tunggu aku. Jangan beranjak dalam mimpi-mimpi kita sebelum aku kembali. Tidak pernah ada Carol…

      Surat itu pun terhenti ketika rasa nyeri yang tak tertahankan menyergapi tulang dadanya.

***

      Ia sering bergumam tidak jelas dalam tidurnya. Sampai suatu pagi, gumamannya jadi bermakna, “Tidak pernah ada Carol…”

      Ia pelan-pelan membuka matanya ketika rasa sakit menekan tulang dadanya. Ia mengernyitkan dahinya ingin protes, tetapi tidak ada satu kata pun yang terlontar.

      Ia tambah terkejut ketika di hadapannya berdiri seorang perempuan tambuh berkulit gelap dan leher berlipat tiga. Ya, lipatan dagunya ada tiga. Ia masih bisa melihat dengan jelas. Dan ia pun meronta ketika menyadari bahwa perempuan itulah yang menekan-nekan dadanya dengan buku-buku jari.

      Perempuan itu menatapnya dengan penuh kasih sayang dan ingin memastikan bahwa ia benar-benar sudah sadar. Sungguh perempuan itu tidak bermaksud menyakiti, hanya memeriksa tingkat kesadaran pasien dengan rangsang nyeri. Sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun, perempuan itu buru-buru menjelaskan supaya ia berbicara dalam bahasa Inggris.

      “Where am I?”

      “Jamaica…”

***

      Diandra membuka lagi surat Doogie untuknya.

      “Diandra… open your eyes and stop dreaming. I’ll bring Jamaica to you. In the wildest way that you will never imagine possible.” 

      Diandra mendongakkan kepalanya ketika sebuah pengumuman membahana. Ia meremas surat itu dan bergegas berdiri sambil menarik sebuah koper . Ia tenggelam diantara penumpang-penumpang lain yang juga akan memasuki pesawat.

The Sultan Hotel

[September 2009]