Seri Januari 2009

Biasanya saya menulis cerita dari depan ke belakang. Kali ini saya bercerita dari belakang ke depan. Hari ini hari Minggu, 25 Januari 2009, dan saya (masih) tertawa-tawa setelah menonton film Made of Honor (untuk pertama kalinya) dan Something’s Gotta Give (untuk kesekian kalinya). Dalam detik ini jelas sudah malam. Saya baru saja berpisah dari Natalie dan Christine Tournadre. Christine Tournadre adalah perempuan berdarah Perancis yang menjadi seorang filmmaker khusus untuk film-film dokumenter. Natalie juga berdarah Perancis dan mengajar pada Fakultas Ilmu Budaya (Sastra Perancis) di Universitas Indonesia. Mereka membuat rekaman film pada saat saya dan keluarga sedang menyaksikan tayangan Democrazy Metro TV di mana saya muncul sebagai narasumber dari Partai Demokrat dan membahas tentang iklan penurunan BBM 3X versi Partai Demokrat. Mereka ingin melihat reaksi saya dan keluarga pada saat saya muncul. Bagi saya tayangan ini adalah beban tanpa harus direkam oleh pembuat film dokumenter. Dan ini baru awal dari rangkaian rekaman yang akan mereka buat seputar kampanye saya di DKI II (terutama wilayah Jakarta Pusat) sampai menjelang hari Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2009.

Saya tidak merasa bahwa saya telah berakhir pekan secara tepat (tepat artinya menenangkan jiwa). Karena saya masih tergoda membeli sebuah baju terusan berwarna khaki dengan harga diskon 10 % dan membayangkan akan memakainya dengan sepasang ankle boots kesayangan saya yang juga berwarna khaki. Sebelumnya saya sempat bertemu dengan keponakan saya, Tarash, yang menyusuli saya di Pondok Indah Mall 1 sebelum ia dijemput temannya ke Kemang untuk urusan ekskul fotografi. Kami makan di Bakmi Gajah Mada hanya sebagai teatime. Pangsit goreng dengan saus yang enak itu menjadi pengganti sepotong cake manis. Sebelum Tarash datang, saya menemani ibu saya membeli serangkaian produk perawatan kulit dari Perancis. Saya jadi teringat betapa seorang perempuan yang menjadi petugas pabean keturunan India membuang sebotol face tonic yang saya baru saja beli dengan harga murah di sebuah expo di Singapura. Ketika saya mengetahui harga aslinya, ternyata sangat mahal. Terkutuklah perempuan India itu yang membuangnya dengan tertawa-tawa sebelum melemparkannya ke dalam tong sampah besi.

Siangnya saya sempat tertidur siang setelah pulang dari pertemuan dengan Christine Tournadre dan Paskal Chelet. Paskal adalah peneliti. Mereka mendapatkan rekomendasi dari Noorca M. Massardi untuk menghubungi saya. Selain saya, akan ada caleg dari dua partai lain. Kami bertiga akan menjadi karakter utama dalam film dokumenter, Pemilu & Caleg DKI 2009. Tentunya dinamika kami bertiga akan menimbulkan kerutan dahi pada Christine dan kawan-kawan yang menyaksikan film ini suatu hari nanti. Bagi saya, minat Christine ini adalah sebuah kehormatan walau tentunya gerakan saya tidak akan sepenuhnya dapat diikuti oleh Christine. Selain keterbatasan waktu Christine, masalah ijin dari saya juga akan terbatas.

Pada hari Jumat sore, saya taping Democrazy di Metro TV dan cukup tegang karena harus menjadi narasumber berdua dengan Aziz Syamsuddin (Wakil Ketua Komisi III DPR-RI) setelah paginya saya datang ke panwascam (panwaslu tingkat kecamatan) dengan Rusdi Syarief (Caleg DPRD DKI Dapil Jakarta Selatan). Saat bertemy dengan petugas panwascam, saya meminta jadwal kampanye dan buku tentang peraturan kampanye (lumayan banyak juga pasalnya). Saya tidak mau kecolongan bahwa kampanye saya tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.

Pada hari Kamis malam, saya menyaksikan tayangan Just Alvin episode Bukan Roman Picisan di mana saya muncul sebagai salah satu dari tiga penulis perempuan (dua penulis lainnya Djenar Maesa Ayu dan Dewi Lestari). Taping-nya telah diambil pada hari Sabtu minggu sebelumnya. Saya cukup senang dengan tayangan ini walaupun seperti biasa ada berbagai reaksi yang muncul baik melalui HP atau Facebook. Ada komentar positif dan ada komentar kurang positif. Tidak ada yang bernada negatif untungnya.

Pada hari Kamis pagi, saya dan teman-teman turun pada lokasi banjir di daerah Pondok Pinang. Ini adalah pengalaman yang tidak terlalu “baru” bagi saya. Namun sensasi kepuasan tetap mengalir dalam setiap butir peluh saya dengan menemui berbagai ekspresi wajah mereka, bahkan tidak jarang disertai dengan komentar-komentar marah dan getir. Pada hari Rabu, saya berbelanja sembako secukupnya untuk 200 orang korban banjir. Membagikan sembako bukanlah ide ideal yang ingin saya lakukan, tetapi suatu ide sederhana selalu saja menjadi pilihan pada saat ada satu hal kecil yang harus mulai kita lakukan untuk orang lain yang sedang kesusahan. Akses mereka terbatas karena banjir, sementara mereka butuh makan. Maka sembako menjadi pilihan.  

Pada hari Selasa malam, saya menjadi guest speaker ROTARACT di Hotel ShangriLa atas undangan Yudha Ramadewa. Ini salah satu forum favorit saya karena interaksi dengan pemuda-pemudi ROTARACT sangatlah menyenangkan. Mereka sangat hangat, antusias, dan selalu tertawa. Tawa bagi saya begitu personal, karena selama saya masih bisa menertawakan film komedi situasi di televisi, artinya saya masih dalam batas normal. Selasa sorenya saya menjadi moderator diskusi buku karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk dengan peserta dari EVE’s bookclub, forum Membahas Buku, dan juga budayawan Banyumas itu hadir, bapak Ahmad Tohari.

Mendengar penjelasan Kang Tohari, sangatlah menggugah setiap pengunjung diskusi buku. Selain bahasa tulis yang indah, kang Tohari juga punya segudang cerita tentang asal-muasal inspirasi menulis buku ini. Namun yang menarik perhatian saya tentunya jawaban kang Tohari atas pertanyaan saya: Apa respon pembaca yang paling mengejutkan dirinya? Ada dua, katanya. Pertama, pada saat seorang pembaca mengatakan bahwa kang Tohari menikmati royalti buku dari hasil menjual kisah orang miskin sementara orang miskinnya tetap miskin. Kedua, seorang santri mengatakan pada kang Tohari bahwa ia menjadi tidak suci lagi sejak membaca buku tersebut. Kang Tohari pun menawarkan solusi, bahwa dosa itu akan ditanggung berdua. Kedua hal tersebut menjadi reaksi yang terus mengusik kang Tohari sampai saat ini. Begitulah kang Tohari, budayawan Banyumas. Majalah EVE pasti akan mengupas lebih jauh lagi tentang hasil diskusi buku Ronggeng Dukuh Paruk.

 

[25.01.2009]