NoRiYu!

The Hearthfelt warrior: NoRiYu!

Dengan naif, pada sebuah hari minggu, saya berangkat menuju sebuah lokasi seminar sambil masih berada dalam “Sunday-morning mode” sehingga tidak mengetahui dengan pasti rundown acara apa yang akan saya hadiri. Bahkan saya pikir kita akan round table discussion saja seputar VISI INDONESIA 2033, mengingat kami diundangnya ke sebuah tempat yang sangat sederhana, yaitu Restoran Koetaradja di Senen Raya. Namun pada saat memasuki pelataran parkir, saya mulai curiga dengan banyaknya mobil dari stasiun-stasiun televisi. Dengan tenang, saya tetap memasuki ruangan demi memenuhi sebuah undangan dari Bung Andrinoff (CIRUS) dan Ray Rangkuti (LIMA Nas).

Saya (Partai Demokrat) bersama dengan Budiman Sudjatmiko (PDIP), Rama Pratama (PKS), Asep Supriyatna (PAN), Iwan Dwie Laksono (PKB), dan Ahmad Kamal (PPP) menjalankan UJI PUBLIK VISI MASA DEPAN CALEG AKTIVIS & KAUM MUDA. Sesi elaborasi, sesi serang-menyerang, sesi defensif, sesi menjawab pertanyaan wartawan & LSM, dilaksanakan dalam waktu 3 jam. Berbagai kritik, sindiran, pancingan, upaya berkelit, input, dan tawa memadatkan sebuah petualangan proses pikir dan debur emosi enam orang caleg yang dievaluasi oleh Bung Chalid dan Bung Andrinoff.

Salah satu berita dimuat oleh Kompas.Com dengan judul: SBY.Perfeksionis..Mega.Emosional..SB.Manjakan.Artis
Berita lengkap ada di link berikut:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/01/14584178/SBY.Perfeksionis..Mega.Emosional..SB.Manjakan.Artis

AnTV mengangkat berita ini dengan tema CALEG MENGAKU MISKIN. Menyedihkan sekali karena mungkin sebenarnya teman-teman di atas tidak ada maksud untuk mengaku miskin. Justru dengan suara terbanyak yang mengharapkan kita “mengorangkan” konstituen tetapi pada saat bersamaan panwaslu yang melarang pembagian materi/uang yang mengiringi permintaan politik, akan menempatkan posisi caleg untuk tidak perlu terlalu jor-joran mengeluarkan dana kampanye. Tidak perlu juga harus “mendadak kaya untuk segera menjadi miskin pasca kampanye”. Namun begitulah demokrasi, setiap cerita ada begitu banyak sudut pandangnya dan kita harus belajar legowo dan membenahi diri untuk jangan menjadi bahan “spin”. Walau ada rasa kasihan juga bahwa dalam berita tersebut ada sedikit selentingan suara yang mengatakan penampilan caleg yang full guyon dianggap seperti penampilan guyon Srimulat.  Saya rasa tidak ada salahnya para caleg melihat sisi humor dari perjalanan kampanye yang bisa dibilang melelahkan dan menjadi semakin melelahkan karena banyaknya hal yang tidak menentu. Contoh dari ketidakpastian itu misalnya kadang saya iri dengan teman-teman caleg dari dapil lain yang berkesan bebas berkampanye sementara di DKI II sangat tegas berdiri pagar berduri dari panwascam sehingga saya tidak bisa terjun seenak-enaknya mendatangi konstituen. Namun yang harus digarisbawahi di sini adalah, maka dari itu para caleg tertawa. Artinya, walau diusung dengan tema ” CALEG MUDA” toh caleg-caleg tadi mempunyai daya humor yang tinggi. Menurut Valliant, humor adalah salah satu mekanisme pertahanan diri yang matur. Di sini justru jiwa dewasa caleg teruji.

Andrinoff Chaniago, Budiman Sudjatmiko, Chalid Muhamad, Ray Rangkuti, Ridaya Laodengkowe, Rama Pratama, Nova Riyanti Yusuf

Andrinoff Chaniago, Budiman Sudjatmiko, Chalid Muhamad, Ray Rangkuti, Ridaya Laodengkowe, Rama Pratama, Nova Riyanti Yusuf