poster-jermal-thumbnail

Pertama kali saya bertemu Rayya Makarim adalah pada tahun 2003 pada saat kita berdua menjadi bintang tamu dalam sebuah acara talkshow di Trans TV. Saat itu saya baru saja meluncurkan novel pertama saya, Mahadewa Mahadewi, secara independen. Sedangkan saya sudah mengenali dan mengagumi Rayya melalui karyanya, film Pasir Berbisik. Kemudian kita bertemu lagi pada tahun 2008, saat bersama-sama menjadi delegasi Asia Society Asia 21 Young Leaders’ Tokyo Summit. Kehadiran kami di delegasi ini sebagai resource person pada dua breakout session yang berbeda. Saya pada sesi Health & Nutrition, sementara Rayya pada sesi Voice & Access to Media. Di sela-sela acara yang padat, Rayya menceritakan tentang film terbarunya, Jermal. Salah satu teman kami selalu mengganggu Rayya dan mengatakan bahwa Rayya nembuat film tentang GERM atau kuman. Karena jujur, sama seperti teman kita yang satu itu, saya tidak mengetahui apa pun tentang jermal. Begitu Rayya meminta saya menonton screening Jermal, saya menyambut dengan antusias.

   Penemuan Rayya dan teman-teman (Ravi Bharwani dan Orlow Seunke) tentang jermal, mengingatkan saya pada sebuah pengalaman pribadi di mana saya menemukan tentang suku Bajau yang hidup dalam sebuah leppa di daerah teluk Tomini sehingga saya menuliskannya dalam novel berjudul Imipramine. Dalam press kit Jermal, Ravi menceritakan bahwa awalnya ia mengenali jermal saat membacanya di salah satu surat kabar nasional beberapa tahun yang lalu. Dan pada saat itu juga, ia memutuskan bahwa suatu hari ia akan membuat film di lokasi tersebut. Tema dan teknis pelaksanaan masih jauh dari bayangan, tetapi dorongan libidinal yang kuat itu pada akhirnya terealisasi secara matang dan cermat. Yang perlu dikutip adalah ketertarikan Ravi terhadap Jermal bukanlah sebatas bentuk estetika fisik jermal semata tetapi lebih kepada keberadaannya yang terisolasi dan teralienasi (berdiri sendiri di tengah lautan luas) yang sebenarnya sudah menjadi ketertarikannya selama ini. Dan ini terbukti ketika saya menonton screening Jermal di Subtitle dan membaca press kit-nya: tampak sebuah kematangan proses pra-produksi, baik dari riset lokasi dan problem psikososial, kristalisasi ide, dan bentuk kerjasama tim yang mengerucut menuju sebuah karya yang matur dan nyaman dengan setiap elemen dirinya.

   Saya bukan kritikus film, tetapi saya penikmat film yang menonton berdua dengan teman yang sama-sama menggilai film. Kami berdua juga menyukai film-film sederhana tetapi eksperimental dalam gaya dan ide seperti Crazy/Beautiful, Good Will Hunting, Before Sunset/Sunrise, dan  10 things I hate About You. Pada awal film Jermal, kami merasakan pergerakan yang sangat lambat tetapi tidak lantas membuat kami merasa bosan atau jenuh. Justru bingkai film yang terasa beku menjadi sebuah kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum menghelanya kembali pada momen Jaya (Iqbal S.Manurung) datang bertemu ayahnya, Johar (Didi Petet), untuk pertama kalinya. Karena tidak semua orang juga memahami tentang jermal itu sendiri, maka pengenalan dari jermal sebagai sebuah tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan, menjadi sangat penting sebelum tokoh-tokoh utama dalam film ini hadir dalam konfliknya.

   Sepanjang film saya tidak terlalu ambil pusing dengan lokasi jermal ini. Yang saya ketahui bahwa ada logat Melayu yang cukup kental. Pada akhir film, Rayya sempat berbincang dengan kami dan menjelaskan bahwa jermal berada di daerah selat Malaka. Hugh Levinson juga menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat 150 panggung lepas pantai bernama jermal. Setiap jermal serupa dengan anjungan minyak lepas pantai mini, terdiri dari balok dan papan kayu yang diikat menjadi satu dan sebuah gubuk terbuat dari besi di atasnya. Namun tentunya, sesuai penjelasan Rayya, jermal ini sudah semakin berkurang. Baik karena kayu-kayu yang semakin reyot, maupun kompetisi teknologi.

   Dari segi cerita, saya merasakan sebuah ketulusan dan kecermatan. Keinginan untuk memperkenalkan eksotisme jermal yang juga sakral kepada khalayak ramai, dibarengi oleh kecermatan pemilihan konflik seputar detachment dan terdapat mutualisme penyampaian dengan adanya ketepatan pemilihan lokasi yang terasing.

   Seorang anak bernama Jaya (12 tahun) dikirim ke ayahnya setelah kematian ibunya. Ayah yang bernama Johar bekerja sebagai pengawas di sebuah jermal sangat terkejut karena ia tidak pernah tahu bahwa ia mempunyai seorang anak dan tidak mau mengakui Jaya sebagai anaknya. Sejauh ini ia telah berhasil mengasingkan diri, tetapi tiba-tiba dihadapkan dengan bagian dari masa lalu yang memonopoli prosentase terbesar dari nafas jiwanya sehingga luka lama itu kembali menganga. Berbagai cara Johar lalukan untuk mengubur kembali kepedihan yang mulai mengemuka, tetapi upaya-upaya ini gagal.

   Secara bersamaan, Jaya juga melalui sebuah proses mental yang tidak kalah hebatnya. Walaupun dihadapkan dengan penolakan ayahnya dan bully keras yang dilancarkan anak-anak pekerja jermal pada dirinya, Jaya tak mau menyerah. Seiring berjalannya waktu, Jaya berubah menjadi seperti anak-anak jermal yang mati rasa, bahkan Jaya menjadi agen penulis surat ketika teman-teman jermal yang buta huruf (dan tidak sekolah) ingin meluapkan sisi romantis atau sisi heroik dalam surat untuk orang-orang di daratan.

   Terjadilah sebuah ”A-HA!” moment dalam film ini tanpa harus tertutur dalam dialog Johar. Pada saat Jaya menghajar Gion (pimpinan gerombolan anak-anak Jermal) sebagai katarsis negatif atas ketidakjelasan hubungannya dengan sang ayah dan kesepian yang disergapi oleh lautan, ombak, dan goyangan konstan jermal, Johar pun tertelanjangi dan menjadi ayah yang menyelamatkan anaknya. Tindakan beringas Jaya menjadi momen kesadaran penonton atas perubahan arus hubungan father-son yang detached menjadi attention. Bagi Johar dan Jaya, momen itu adalah momen pembongkar jiwa. Johar menerima dirinya yang pernah tersakiti dan perih dalam penolakannya ketika mengetahui istrinya berselingkuh. Johar mengubur dirinya yang terpelajar dan anggun, karena dirinya tersebut telah menjadi setan yang menganiaya pacar sang istri sehingga ia pun menjadi buron di daratan. Bagi Johar, sudah cukup ia menyalahkan dirinya sendiri dan meluapkan rangkaian unfortunate events dalam hidupnya kepada Jaya. Bagi Jaya, ia kembali kepada apa yang sudah ditanamkan sang ibu padanya: bahwa ayahnya adalah orang baik.   

   Inti dari film ini memang konflik pribadi-pribadi dan resolusi dari hubungan father-son yang pada awalnya bersifat father-reject (detached dan overtly hostile) menjadi father-love. Hubungan ayah-anak merupakan elemen penting dalam perkembangan seorang anak. Defisit pada area ini dapat mengacau identifikasi self saat dewasa, padahal proses identifikasi ini sangatlah penting dalam menentukan cara anak dan orang dewasa menjalin hubungan dengan orang lain.

   Tetapi bila masih cukup sadar setelah terbuai oleh sinematografi Jermal yang indah dan menghanyutkan, maka isu-isu penting seperti kemiskinan dan pekerja di bawah umur ikut mewarnai film ini. Dan lagi-lagi film ini beralaskan riset dan data kuat untuk mendukung penuturan yang tidak asal brutal. Bahkan pak polisi yang memeriksa jermal juga seorang polisi beneran.  

   Bagi yang ingin melarikan diri dari sergapan modernitas, kepadatan, dan kompleksitas problema hidup maka membiarkan diri teralienasi dalam Jermal menjadi salah satu utopia eskapisme. Sejenak, tetapi ada unsur terapeutik. Silakan melarikan diri ke bioskop-bioskop terdekat mulai tanggal 12 Maret 2009.  
 

[14.02.09]

Selamat Hari Kasih Sayang,

NoRiYu

 

<Untuk majalah djakarta! No.117, 21 Februari 2009>