Penyelenggara: MIGRANT CARE bekerjasama dengan Yayasan TIFA.

Tanggal: 3 Maret 2009.

Tempat: Hotel Acacia, Jakarta.

Narasumber:

1.  dr.Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat)

2. Eva Kusuma Sundari (PDIP)

3. Setya Darma Pelawi (PKB)

4. Drs.Aryo Judhoko (PKS)

Moderator: Wahyu Susilo

Pembahas: Anis Hidayah (Direktur Eksekutif MIGRANT CARE) dan mbak Dani (LIPI)

Pada saat saya mendapatkan undangan ini melalui message Facebook, saya sangat berminat BUKAN hanya karena saya kebetulan menjadi Caleg DPR RI Partai Demokrat yang mencakup daerah pemilihan luar negeri, tetapi karena sejak 2006 saya mempelajari materi pelatihan untuk TKI dan merasa ingin ikut memperbaiki sedikit saja sistem pelatihan mereka. Salah satunya, saya bersama teman-teman dengan latar belakang kedokteran jiwa dan psikologi (Metaforma Institute: center for community and social development), membuat modul: Interpersonal Skills Training dengan Transactional Analysis. Alasan: dengan cukup banyaknya TKI perempuan yang berakhir di bangsal JIWA RSCM, maka harus dilakukan sebuah perbaikan “persiapan mental” dari kaca mata kedokteran jiwa. Angka kejadian ini tersoroti dengan jeli oleh Maria Hartaningsih KOMPAS pada forum Dialog Publik ini.

Partai Demokrat mendukung setiap kebijakan dari pemerintahan SBY dan oleh karenanya, program-program BNP2TKI di bawah pimpinan Jumhur Hidayat sejak Maret 2007, saya paparkan dalam forum ini. Masih banyak sekali memang locus-locus minoris yang harus diperbaiki. Tetapi saya setuju dengan apa yang dikatakan Jumhur sebelumnya, “Sudah di jalur yang tepat, tetapi kalau harus diprosentasekan maka dari 100 % kerja kita baru 10-15 %. PR masih panjang.” Kalimat ini adalah sebuah kejujuran (as simple as that) yang mempunyai ulterior messagestep by step, heart to heart, time after time, yet slowly, consistently, and persistently we’ll get there. Dengan meminjam waktu dan terus mengakomodir input membangun dari teman-teman LSM atau pun serikat, sebuah formulasi sistem perlindungan buruh migran Indonesia pasti dan harus akan tercapai dan terimplementasikan dengan baik dan efektif.  

Kesan dan Pesan pasca diskusi:

1. Jelas, sebuah konstitusi yang menaungi perlindungan dibutuhkan secara urgen. Perlu dicatat, bahwa perlindungan yang dimaksud jangan digeneralisasi. Kalau diibaratkan seperti dalam dunia kesehatan, pelayanan kesehatan itu harus komprehensif meliputi: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurut salah satu komentator peserta dialog publik, yaitu dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), perlindungan itu mencakup: to help, to attend, dan to aid.

2. Betul sekali masukan dari LIPI dan MIGRANT CARE bahwa anggota DPR dari daerah pemilihan DKI II yang duduk pada periode 2004-2009 tidak menunjukkan concern terhadap isu buruh migran Indonesia.  Sehingga Dialog Publik ini menjadi sangat penting sebagai sarana mengingatkan para caleg 2009 dari dapil DKI II untuk membuka mata dan segera memformulasikan agenda tentang buruh migran Indonesia. Menarik sekali masukan dari mbak Anis, bahwa ada kecenderungan tidak ada relevansi agenda antara daerah pemilihan dan komisi yang kemudian menaungi anggota dewan.

3. Mari jangan mudah tersinggung, kepada teman salah satu partai, ada yang kebakaran jenggot karena penyelenggara acara dianggap kurang mengapresiasi parpol (kalau tidak salah kalimatnya, “Kalau begitu, kita gak usah diundang”). Terus terang, saya jadi agak menundukkan kepala pada akhir dialog karena merasa tidak enak hati. Sebenarnya tidak usah merasa gerah dengan kritik, justru siapa pun membutuhkan pihak-pihak seperti Migrant Care untuk membuat rapor hasil kerja sebagai sarana check and balance. Ini juga disarankan oleh mbak Maria Hartiningsih. Report card is in order. Bagaimana kita mengetahui hasil evaluasi kerja kita, kalau kita sendiri yang menilai dan merasa puas. Saya rasa inti dari kebijakan publik adalah kesejahteraan publik. Oleh karena itu, walaupun saya mengetahui jawaban pertanyaan dari LIPI: “menurut anda-anda ini, isu buruh migran Indonesia itu isu apa sich sebenernya?”, saya hanya menjawab dalam hati: isu kesejahteraan.  

4. Terimakasih atas input/kritik mbak Maria Hartiningsih KOMPAS kepada saya yang diakhiri dengan pujian dan harapan. Biasanya, orang memuji dulu dalam kalimat indah, kemudian baru menjatuhkan. Karena mbak Maria justru terbalik (menaruh harapan  –> mengkritik –> lalu mendukung), maka saya menerimanya sebagai sebuah dukungan luar biasa bagi langkah saya ke depannya.

Thumbs up untuk Migrant Care!

 

Catatan: acara ini ada fotonya dalam koran KOMPAS hari ini (Rabu, 4 Maret 2009) halaman 4.

 

Sebagai narasumber

Sebagai narasumber

 

eye-popping, indeed

eye-popping, indeed