Sebelum berbicara macam-macam, saya mau mengucapkan: SELAMAT HARI PEREMPUAN SEDUNIA. Saya termasuk beruntung karena dapat memperingatinya dalam keprihatinan dengan perempuan-perempuan tahan banting di Blitz Megaplex Grand Indonesia, seperti Nia Dinata, Vivian Idris, Ucu, dan lain-lain. Sementara di luar sana pun juga ada banyak sekali perempuan tangguh lainnya yang berunjuk-rasa tentang kelangsungan pertarungan caleg perempuan dalam menghadapi sistem suara terbanyak pasca keputusan versi MK untuk Pemilu Legislatif 9 April 2009.  Hmm… Memang bukan Indonesia kalau tidak macam-macam…  

…dan bukan akhir pekan kalau tidak ada macam-macam. Macam-macamnya ya macam-macam stimulasi, dramatisasi realita, dan persepsi.

Hari Sabtu menonton Java Jazz Festival, demi untuk melihat Jason Mraz. Suka sama si Mraz karena pernah mendengar salah satu acoustic performance-nya menyanyikan lagu “Sweet Child O’Mine” dan melihat the making of video di MTV tentang salah satu video klipnya di mana Mraz main surfing di Jerman.  Sambil agak sedikit menyerobot rombongan ABG dan terpana melihat sederet ABG yang hafal mati lirik-lirik lagu Mraz, saya ikut mengakui bahwa delivery Mraz untuk lagu Beautiful Mess adalah yang terbaik malam itu. Menerjemahkan drama hidup saya -baik spesifik malam itu ataupun hari-hari/malam-malam lainnya. Yang pasti saya baru pertama kali jalan melalui Underpass dari The Sultan ke JCC. Jadi teringat kunjungan saya ke negara-negara yang high-tech-yet-still-human-friendly

susah mau liat, semua HP, BB, kamera mengudara!

susah mau liat, semua HP, BB, kamera mengudara!

senangnya ada temen foto...

senangnya ada temen foto...

Setelah Java Jazz, baru tidur jam 2 pagi, cuma sempat tidur 4 jam karena harus meluncur lagi ke acara nikah salah satu “agen” di Jakarta Pusat.  Agen ini termasuk dalam TS (=Tim Setia).

"agen" kawin :-)

"agen" kawin🙂

Untung “agen” yang kawin lokasinya dekat dengan Grand Indonesia. Jam 10 pagi Teh Nia Dinata mengundang ke screening film dokumenter AT STAKE (Pertaruhan) dalam rangka memperingati HARI PEREMPUAN SEDUNIA. Teteh mengundang saya sebagai “caleg” dan undangan dikirimkan ke Partai Demokrat. Semangatnya teteh untuk menumbuhkan awareness atau lebih tepatnya, the awakening untuk para caleg patut diacungi 4 jempol. Sisi humanis yang jujur dan tulus para caleg memang harus dibongkar. Moga-moga memang ada dalam diri. Tetapi bagi saya pribadi, karena terbiasa diundang -salah satu contoh, Garin Nugroho- sebagai pembicara scriptwriter, saya merasa krisis identitas dalam forum diskusi At Stake. Saat para caleg perempuan lain angkat bicara, saya hanya termangu-mangu memikirkan krisis identitas saya itu. Hi3. Dan ini bukan salahnya teteh Nia, ini konsekuensi logis dari pilihan hidup saya sendiri. Tetapi saking saya kagum dengan teh Nia dan daya advokasinya aftermath film ini -apalagi film ini juga baru pulang dari Berlin Film Festival, saya bergegas ingin menuliskan review film At Stake ini buat www.jakartabeat.net.

diskusi At Stake

diskusi At Stake

noriyu with nia dinata etc

noriyu with nia dinata etc

Hari Minggu belum lengkap tanpa mendapatkan doa dan dukungan dari ibu-ibu arisan🙂

nyam-nyam sama ibu-ibu jaksel

nyam-nyam sama ibu-ibu jaksel