Ini tahun ketiga saya menjadi pemateri untuk acara LA Lights Indie Movie Festival yang diselenggarakan oleh SET Film. Tahun ini menjadi agak berbeda dari tahun sebelumnya karena didahului oleh LA Lights Indie Movie Goes To Campus. Saya kebagian berkeliling ke Budi Luhur, Perbanas, dan Mercu Buana, untuk memberikan materi MOVIE SCRIPTWRITING. Dan hari ini giliran Universitas Budi Luhur. Pesertanya banyak, antusiasme OK, dan pastinya setelah sesi saya dilanjutkan dengan bertemu Lola Amaria dan satu sesi game di mana peserta yang terdiri dari 200 orang dibagi dalam 8 kelompok untuk membuat sebuah sinopsis cerita secara berantai (tiap baris peserta menuliskan satu kalimat). Ternyata (saya, Lola, Ray) sepakat bahwa yang menjadi dua pemenang adalah kelompok yang menceritakan ending bunuh diri dan kelompok yang satunya lagi mengandung elemen kejutan, yaitu mengetuk kepalanya (mungkin dengan martil). Seperti saya sempat membahas dengan panitia dari SET pada saat technical meeting, temuan panitia dalam tumpukan skrip tahun lalu (2008) sangat menarik konon mayoritas cerita berakhir dengan bunuh diri. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya terkait dengan kedokteran jiwa, jadi temuan ini menjadi sangat menarik. Walau memang Lola mengatakan, unsur “kepepet” sebuah film pendek, adalah munculnya sebuah keinginan untuk memunculkan element of surprise yang sedemikian rupa, jadi bunuh diri menjadi solusi atraktif untuk membunuh akhir film pendek. Jadi sebagai petunjuk saja, mungkin skrip atau skenario berikutnya jangan mengulangi manuver ending bunuh diri. Merah Itu Cinta yang saya tulis skenarionya pada tahun 2007 untuk sutradara Rako Prijanto menjadi film layar lebar yang ikut terbedah dalam Meet The Experts. Film yang tidak meraup keuntungan secara komersial, tetapi cukup membanggakan dengan 7 nominasi Piala Citra (FFI) 2007. Dan mohon dimaklumi kalau para peserta workshop scriptwriting dengan saya menjadi agak-agak keranjingan tema psycho, karena genre penulisan saya memang masih setia dalam jalur psikologis-tragis, sehingga jarang mengusung tema yang bahagia, santai atau mengundang tawa. Kalau ada tawa, masih dalam kegetiran. Kalau ada bahagia, masih ada antisipasi kepahitan. Ini cuma masalah gaya penulisan saja, yang tidak linier dengan selera realitanya. 

Dengan dipandu oleh moderator Ray Nayoan yang pernah membuat film pendek 10 menit Peeper (pengintip) yang tergabung dalam film kolaboratif, TAKUT, acara ini menjadi cukup pervert dan segaaaar. Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan mudah-mudahan semakin banyak calon filmmaker muda yang ingin bergabung dalam LA Lights Indie Movie Festival 2009. Jangan lupa, tahun ini juga diadakan short story competition bagi yang berminat mengikutsertakan sinopsis 2 halaman dalam perlombaan. Mari berkompetisi dengan sehat dan majukan teruuuus perfileman Indonesia. Saya jadi teringat, salah satu dosen FIKOM Universitas Budi Luhur yang bernama Vini sempat berkomentar, bahwa sekarang ini ada kesan film Indonesia yang sebenarnya sudah booming tetapi sekarang jadi mundur lagi karena penggarapan tema film yang berkesan plagiat. Hmm…mungkin yang dimaksud film-film bertema seks dan horor? Guilty pleasure, mam. Tidak usah diberangus, cukup disingkirkan perlahan-lahan dengan kehadiran film-film baru yang bermutu. Dan tentang ide yang tidak orisinil, ini agak sulit dihindarkan. Karena memang dengan begitu banyak karya seni yang bermunculan dan bertaburan, nuansa-nuansa karya yang lain sedikit banyak ikut terbawa-bawa atau mempengaruhi. Bahkan pada saat menunggu acara Meet The Experts tadi dimulai, ada sebuah album lagu yang diputar dengan volume keras dan saya sempat bertanya kepada Ray, “Ini musiknya siapa ya? Kok agak-agak kayak…” Ray menjawab, “Arcade Free (eh atau Fire, red). Band Canada. Agak-agak mirip U2 ya?” Saya balas lagi, “Iya, tapi ada unsur The Cure juga.” Perbincangan singkat ini menunjukkan bahwa dalam sebuah karya seni, baik musik, film, atau apa saja, pengaruh panca indera dan penghayatan atas karya seni lainnya terhadap kreator memegang peran besar dalam proses kreatif.  Kalau mau orisinil, jangan bingung larak-lirik apa karya kita orisinil. Yang pasti, scriptwriting is the art of being true to yourself.

P.S:
Buat yang berminat materi scriptwriting versi NoRiYu, kirim e-mail saja ke: noriyu@jakartabeat.net Tapi mungkin baru bisa dibagikan setelah roadshow kampus kelar.

31

3b

 

3a

 

12

 

21

 

41

 

51

 

61

 Kunjungan kedua saya tanggal 19 Maret 2009 ke kampus Perbanas. Di sini kocak, antusias, bahkan ada orasi dari John de Rantau dan para peserta.  I love this event here!

71

 

8

 

9

mari "memerah ide" aka milking an idea dry!

 

meet the experts: noriyu (scriptwriter) & john de rantau (nobita! as producer)

meet the experts: noriyu (scriptwriter) & john de rantau (nobita! as producer)

para peserta perbanas yang kocak & kreatif + Lulu Ratna (moderator provokator ^_^)

para peserta perbanas yang kocak & kreatif + Lulu Ratna (moderator provokator ^_^)