Sudah hari minggu lagi. Saya punya kebiasaan merekapitulasi cerita kegiatan hari-hari kerja pada hari Minggu. Kebetulan saat ini saya sedang di kamar jaga malam RSCM (tepatnya di Jalan Kimia-Departemen Psikiatri FKUI). Tidak ada TV, yang ada cuma wi-fi (kayaknya sudah lebih dari cukup kalau buat saya), novel Charlaine Harris berjudul “Dead Until Dark’, dan leaflet film At Stake (Pertaruhan) yang sampai sekarang belum saya buat resensinya karena kegiatan saya yang tidak ramah-waktu sampai jelang Pemilu Legislatif 9 April 2009. Dan ada selingan (atau tepatnya, distraksi ringan) koran Kompas halaman 31 yang memuat berita singkat tentang penampilan saya di acara Kontrak Politik Trans 7. Saya cuma bisa menghela nafas panjang dengan isi berita yang kurang komprehensif (cenderung parsial dan bias). Tetapi kalau dipikir lagi, memang sudah sepantasnya menjadi caleg harus tahan banting dengan berbagai ujian karena ini eranya pembenahan “penghuni” rumah rakyat. Saya pun teringat lirik lagunya Primitive Radio Gods, “Standing Outside A Broken Phone Booth With Money In My Hand”:

We sit outside and argue all night long
About a god we’ve never seen
But never fails to side with me
Sunday comes and all the papers say
Ma Teresa’s joined the mob
And happy with her full time job

Untuk memelihara level kewarasan, saya pun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dari semua rutinitas dan “merayakan” Friday the 13th dengan keponakan saya, Icha, di sebuah restoran Perancis daerah Cipete. Biasanya saya memilih Praline Kemang kalau sedang romantis, tetapi kalau sedang ingin sepi dan menghayati makan malam berkualitas (baik rasa makanannya, maupun atmosfir untuk berbincang) saya memilih Praline Cipete. Icha sudah memasuki usia 15 tahun. Usia yang saya ingat dulu saya lalui dengan tidak gampang. Saya punya idealisme yang bolak-balik tidak mudah tercapai. Sedangkan kedua orangtua saya, maunya semua tertata rapi. Dan memang betul, hidup saya sangat rapi. Waktu SD dijemur di lapangan tenis Senayan, Monas, dan Tomang dalam program intensif klub tenis Loanita dan Lita Sugiarto. Alhasil, sempat juara Walikota Cup dan Jakarta Hilton Executive Club untuk Tunggal Putri kelompok umur 12 tahun. Kulit wajah saya sempat panuan juga dan seperti pernah saya tulis di sebuah esai Carmen dalam buku kumpulan esai saya “Libido Junkie”, dulu saya mendapat julukan “kucing burik”. Kebayang dhe…waktu kecil saya tidak gampang adaptasi dengan teman-teman. Karena saya anak perempuan yang tidak senang barang-barang bagus, agak tomboy, tidak sabaran dengan khayalan teman-teman yang saya anggap “infantil banget sich lo pada?”. Semua ini ditambah lagi dengan pola asuh bapak saya yang bankir dengan disiplin tinggi dan ibu saya yang juga tegas memberikan batasan-batasan. Kok jadi ngomongin masa kecil ya… Mungkin karena melihat jiwa remaja dalam Icha, saya jadi teringat lagi. Dan saya mengagumi Icha dengan segala proses “cobaan” yang ia alami sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD, saya hanya bisa berkata: And look how well she turns out to be.

icha & noriyu

icha & noriyu

 Tetapi tentunya akhir pekan saya tidak bisa cuma santai-santai saja. Sabtu malam saya meluncur ke Buperta Cibubur, tempat berlangsungnya acara jambore nasional Muhammadiyah dengan sekitar 5000 peserta. Sementara saya menepi ke Gedung Cemara. Di sana sudah ada Jumhur Hidayat, dan lain-lain. Seharusnya Jumhur menjadi keynote speaker tetapi Jumhur ingin ikut berdiskusi. Intro yang diberikan oleh Jumhur ada dua poin: 1.) tentang “gilanya” suara terbanyak, dan 2) tentang keilmuan.

Kemudian saya masuk dalam orasi saya dengan mengutip salah satu cerita dalam buku The Political Brain: Adlai Stevenson menjadi kandidat presiden melawan Dwight Eisenhower. Pada saat kelar berorasi, seorang perempuan menghampirinya dan berkata: “Pemilih rasional akan memilih anda.” Jawab Stevenson: “Madam, that is not enough. I need a majority.”

Intro ini adalah penggambaran isi pikir dan suasana perasaan yang sekarang ini caleg-caleg hayati dengan diberlakukannya sistem popular votes yang tidak pada tempatnya (tidak perlu lagi dijabarkan karena sudah banyak sekali pemberitaan mengenai hal ini). Orasi demi orasi, diskusi demi diskusi, telah saya lalui. Berbagai keentahan pasca orasi juga saya rasakan. Saya tidak dapat menerka dengan pasti apa dampak dari orasi saya terhadap para pendengar yang notabene calon pemilih potensial. Kadang ada sebersit harapan muluk, tidak hanya saya meyakinkan pemilih untuk memilih saya, tetapi saat bersamaan saya juga telah menuai benih “Start believing” pada calon pemilih yang sebenarnya sudah memutuskan untuk menjadi golput.

the mob of IMM

  

jumhur hidayat, noriyu, dll (can't help it: lelah mode)

jumhur hidayat, noriyu, dll (can't help it: lelah mode)

Inti akhir dari orasi saya pada teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

            “Dua poin yang saya sampaikan (memperjuangkan UU Kesehatan Jiwa dan memajukan program pro-rakyat seperti Jamkesmas disertai dengan utopia untuk mengawal sebuah formulasi sistem kesehatan nasional yang merata tanpa memusingkan lagi status ekonomi) bukan menunjukkan keterjebakan saya dalam profesi saya di dunia medis semata. Justru saya ingin menunjukkan bahwa perjuangan saya sangat spesifik dan profesional. Sudah bukan jamannya lagi DPR dipenuhi oleh legislator-legislator yang tidak punya skill, tidak punya keahlian, tidak punya prestasi, tetapi hanya bermodalkan visi dan misi yang itu juga “mungkin” dibuatkan oleh orang lain tanpa ada penghayatan mendalam.

            Turun ke rakyat gampang. Sekarang ini semua caleg sedang turun ke rakyat. Tetapi mendengarkan aktif keluhan mereka, kemudian memformulasikan keluhan-keluhan tersebut menjadi rangkuman masalah yang harus digodok menjadi berbagai kebijakan publik dibutuhkan kecerdasan dan kejernihan hati tingkat tinggi karena ini menyangkut masa depan rakyat Indonesia.

            Oleh karena itu, saya akan menutup pemaparan saya ini, dengan menaruh sebuah harapan besar kepada teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang tercinta. Teman-teman mengundang kami dengan harapan besar bahwa ada sinergi dengan masyarakat politik sebagai pembuat kebijakan yang pro-rakyat. Sama dengan teman-teman semua, kami para caleg juga menitipkan beban berat dan besar agar teman-teman semua yang hadir malam ini menjadi juru bicara yang ikut menyuarakan kepada rakyat, siapa caleg yang harus dipilih pada tanggal 9 April 2009 nanti. Karena mereka ini, caleg-caleg ini, yang akan duduk di Parlemen 2009-2014 adalah wajah calon pemimpin nasional yang akan mengambil alih kemudi pimpinan Indonesia pada tahun 2014.”

 

Memang sekarang baru keluar dari spirit of friday the 13th, tetapi bukan berarti saya sempat terhinggapi spirit ingin membunuh dengan berdarah-darah seperti dalam film Friday the 13th, apalagi membunuh masa depan bangsa Indonesia dengan menyerah.  Sometimes, I seriously hate myself for being a fool in endlessly hoping for our little world of Indonesia to change accordingly.

[Masih dari Kamar Jaga Malam ditemani Teardrop-nya Massive Attack, 15.03.09]

dr.Nova Riyanti Yusuf