Sosialisasi pemilu atau kampanye menjadi pengalaman yang sangat “menggetarkan” hati saya. Berbagai dinamika psikologi yang selama ini saya terapkan pada pasien-pasien psikiatri, kali ini saya perbandingkan dengan pada saat berjumpa konstituen. Bedanya kalau dengan pasien psikiatri, kita dapat berhadapan dengan satu orang atau terapi kelompok (yang jumlahnya sangat dibatasi supaya efektif), maka turun ke masyarakat adalah tantangan tersendiri karena hanya dengan berjalan dalam satu gang saja, begitu banyak orang dengan berbagai ragam karakter pun tumpah ruah menemui kita. Ternyata saya tidak banyak menerapkan ilmu kejiwaan di sini, karena insting lebih bekerja untuk menentukan daripada mengkotak-kotakkan manusia dalam teori. Saya membiarkan diri saya larut dalam segerombolan anak kecil yang mendampingi saya berlari-lari kecil dalam curahan hujan berpetir. Saya pun tidak bisa memungkiri bahwa saya was-was tersambar petir (mengingat akhir-akhir ini banyak kasus meninggal karena tersambar petir), apalagi melihat anak-anak ini yang tetap tertawa-tawa dengan bahagia di bawah curahan hujan. Satu anak bernama Rian menjadi penggemar saya (kata bapaknya, sang ketua RW). Saya pun khawatir dia kecewa, karena foto saya dan aslinya, agak/sangat berbeda. Kebetulan fotografer Taufik Dasaad sangat jago mengambil angle foto yang dapat menonjolkan sisi-sisi baik dari profil wajah saya. Sedangkan dalam realitanya, saya senang manyun, bengong, dan sulit mengendalikan ekspresi wajah dengan baik. Saya ingat betul Tantowi Yahya cukup syok saat saya menjadi peserta “Edisi Penulis” yang duduk di kursi panas Who Wants To Be A Millionaire pada akhir tahun 2003 karena saya lupa bahwa kamera berhasil menangkap ekspresi wajah saya yang aneh-aneh. Untungnya Rian tidak terlalu ambil pusing dengan perbedaan antara wajah saya di foto dan wajah saya yang asli. Saya pun jatuh hati pada bocah berperawakan agak gemuk bernama Rio sehingga saya melingkarkan gelang Partai Demokrat yang saya pakai pada pergelangan tangannya. Ia tersenyum senang karena rupanya ia penggemar bapak Presiden SBY. Langsung saja Rian dan kawan-kawan berteriak, “Dasar car-per!”  

From rags to riches, saya merasa beruntung bahwa saya dapat bertemu dengan begitu banyak orang  yang menerima saya dan TS (Tim Setia) dengan tangan terbuka. Dicontreng pada Pemilu Legislatif 9 April 2009 adalah bonus, yang datangnya dari chemistry setelah calon pemilih bertemu dengan saya atau hanya dengan melihat campaign visual saya atau bahkan setelah berdebat sengit dengan saya seputar visi misi/program. Dan sama dengan cinta, chemistry tidak jelas datangnya dari mana dan tidak jelas juga kapan akan datang menghampiri seseorang.

panasnya gak beres, tapi demennya pake baju hitam

panasnya gak beres, tapi demennya pake baju hitam

betul banget..abis panas terik, hujan petir... untung ada bu PKK yang mayungin.. ini mah udah redaan ujannya

betul banget..abis panas terik, hujan berpetir... untung ada bu PKK yang mayungin.. ini mah udah redaan ujannya

bu Maryam, setia memayungi...celana udah berat karena ujung2nya basah kuyup

bu Maryam, setia memayungi...celana udah berat karena ujung2nya basah kuyup

 

udah SOP: mampir warung dulu beli pocari sweat

udah SOP: mampir warung dulu beli pocari sweat

karena tergabung dalam "narcist union", maka foto bersama di depan baliho adalah wajib hukumnya

karena tergabung dalam "narcist union", maka foto bersama di depan baliho adalah wajib hukumnya

di sini ada pernah ada kebakaran gara-gara bensin

di sini pernah ada kebakaran dengan 7 korban meninggal gara-gara bensin

  

loving kids...hmm...or...

loving kids...hmm...or...

hmm...or kids love me...

hmm...or kids love me...

 

ow yeaaa definitely kids love me (ultimate narcist union member)

ow yeaaa definitely kids love me (ultimate narcist union member)

 

Kalau di atas adalah foto-foto dari versi lain wajah Jakarta, maka saya juga turun sosialisasi ke wilayah lain Jakarta. Di sini, saya diwajibkan berdansa country! Dan tentunya, GATOT. Lagi-lagi saat diminta menyanyi, saya menyanyikan lagu Anggun (masih C.Sasmi) dan hanya bagian reff  “Mengaku bujangan pada tiap wanita…blabla…ternyata cucunya segudang” Untung keponakan-keponakan sedang datang dari Singapura, jadi saat para penyanyi belum datang (Teh Lisa dan Jeung Cynthia), Nabila dan Icha beraksi dengan cukup gagah berani. Untungnya lagi, mereka cute jadi suara menjadi penilaian nomor dua. Hehe..

nabila & icha - penyanyi dadakan, pastinya GRATIS :-)

nabila & icha - penyanyi dadakan, pastinya GRATIS🙂

haiyaaa...country dance...kampanye kontemporer euy...

haiyaaa...country dance...kampanye kontemporer euy...

i can't escape the dance as well! the pain of being a stiff stick compared to the ladies around me :-( hix

i can't escape the dance as well! the pain of being a stiff stick compared to the ladies around me😦 hix

teteh Lisa...she really knows how to keep me uplifted with this season of madness

teteh Lisa...she really knows how to keep me uplifted with this season of madness

this ritual...holding the mic to socialize (myself) is...unspoken at this point

this ritual...holding the mic to socialize (myself) is...unspoken at this point

Pak Hari helped us out in this area...

Pak Hari helped us out in this area...

kertas suara sebesar ini ya...dan untuk di DKI ada 3 lembar (DPD, DPR, DPRD). kata Al Pacino "hu haaa..im in the dark here!"

kertas suara sebesar ini ya...dan untuk di DKI ada 3 lembar (DPD, DPR, DPRD). kata Al Pacino "hu haaa..im in the dark here!"

kertas-suara1

let me guess: that peace sign is still so in right now...as in "peace in number two" :-)

let me guess: that peace sign is still so in right now...as in "peace in number two"🙂

bye, all, we're really tired of all the singing & dancing...seriously...we're too edgy for this...(dara saphira & tarash)

bye, all, we're really tired of all the singing & dancing...seriously...we're too edgy for this...(dara saphira & tarash)