Tulisan berikut menjadi penutup dari rangkaian terakhir kegiatan dalam masa kampanye Pemilu Legislatif 2009 (25 Maret-5 April 2009):

1. 25 Maret 2009

 BAROMETER: rupanya acara televisi ini tidak hanya ditayangkan SCTV, tetapi juga O Channel. Bahkan ada yang melihat tayang ulangnya di TV One dan Q TV. Panelis: Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat), Effendi Simbolon (PDIP), Halida Hatta (Gerindra), dan Ade Komarudin (Golkar). Tema Barometer kali ini: Obral Janji Nih Ye.. Dan yang paling berkesan adalah ketika ditampilkan orasi ibu Megawati yang jika disarikan berusaha menginduksi rasa harga diri rakyat Indonesia dalam konteks: TOLAK BLT sebagai penginjak harga diri manusia. Effendi Simbolon juga cukup semangat menistakan program BLT yang saya katakan: Uang BLT 200 ribu GAK NGEFEK buat Bang Effendi. Tetapi saya turun ke rakyat, bahkan untuk rakyat Jakarta uang BLT bermakna dan juga tidak sedikit ditemukan beberapa ibu sekaligus menjadikannya sebagai modal awal usaha. Ini merupakan upaya dari pemerintahan SBY untuk menumbuhkan suatu jiwa kewirausahaan (sense of entrepreneurship) pada mereka. Ini bukan gratifikasi instan semata, ini memang pemenuhan kebutuhan dasar yang “terpaksa” instan. Bukan berarti tidak akan dirangkai lagi sebuah program baru yang LEBIH BAIK. Tetapi memang ironinya, pihak oposisi tidak konsisten. Karena apa? Pada minggu terakhir kampanye, PDIP memasang IKLAN BLT yang menjadi “sinterklas” bagi rakyat dan rakyat berterimakasih pada PDIP. Problem inkonsistensi partai politik dan mungkin juga sindrom “keengganan pemilih untuk diasosiasikan dengan partai tertentu karena partai politik tergeneralisasi ‘dodol’” bisa jadi merupakan salah satu pemicu Gol-Put dan orang-orang memilih memanfaatkan masa libur panjang ini untuk berlibur. Tetapi namanya juga demokrasi, berlibur dan tidak menggunakan hak pilih memang sah-sah saja.

Barometer SCTV (Studio Penta)

Barometer SCTV (Studio Penta)

2. 26 Maret 2009:

 RING POLITIK, ANTV: tadinya saya sudah menolak menjadi narasumber dalam acara ini. Alasannya sedang bersiap-siap berangkat kampanye ke Hong Kong dengan Buruh Migran Indonesia. Tetapi FOX Indonesia menelfon, aka RIA, yang meminta saya untuk menyempatkan datang sebagai narasumber. Narasumber: Nova Riyanti Yusuf (Partai Demokrat), Budiman Sudjatmiko (PDIP), Sylvia Sumarlin (Golkar), dan Zulkieflimansyah (PKS). Lagi-lagi di sini PDIP menentang program BLT. Budiman menyampaikan protesnya secara ideologis. Walau panelis dari Vivanews.com, Kar, memotong, “Kenapa cash-back transfer di negara seperti Amerika Serikat sah-sah saja, sedangkan di negara Pancasila seperti Indonesia ditentang?” Lagi-lagi, saya tidak perlu banyak berargumentasi, baik secara konret maupun ideologis, toh PDIP menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2009 mendukung Program BLT melalui iklan partainya yang ditayangkan secara nasional.

]Million Dollar Baby for an hour [Ring Politik, Studio Guet]
Di belakang ring: Budiman Sudjatmiko, Mumtaz Rais, dan NoRiYu

Di belakang ring: Budiman Sudjatmiko, Mumtaz Rais, dan NoRiYu

3. 27 – 30 Maret 2009:  Sosialisasi dengan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong: Setelah menyadari bahwa saya HANYA bertemu konstituen di Jepang, Singapura, dan selebihnya menitip visual campaign lewat teman-teman yang akan berangkat ke Amerika atau menggunakan sarana FB dan e-mail, saya sempatkan jelang akhir kampanye untuk bertolak ke Hong Kong dan bertemu dengan Buruh Migran Indonesia di sana. Pada saat pesawat Cathay Pacific sudah mendarat dengan aman di bandara, saya menyalakan HP dan sebuah pesan singkat dari Ketua DPD IMM Jakarta masuk dan memberitahukan bahwa sebanyak 34 teman dari IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) menjadi korban Situ Gintung. Saya baru meninggalkan tanah air beberapa jam dan sebuah berita sedih mengawal perjalanan saya di Hong Kong. Saya berkoordinasi dengan teman LSM Lingkungan Hidup di Jakarta (WOMAN act on environment and humanity) agar bantuan logistik diarahkan pada posko IMM.

Destination: Hong Kong.

Destination: Hong Kong.

”]a very nice TV [My hotel room]Malam pertama di Hong Kong, saya merasa lelah karena malam-malam sebelumnya kurang tidur. Hawa cukup dingin tetapi masih bisa ditahan dengan legging dan baju terusan bahan wool sepanjang lutut. Ibu Mia dari KOTKIHO (The Hong Kong Coalition of Indonesian Migrant Workers Organization) menjemput saya ke Regal HongKong Hotel dan kami menuju sebuah restoran Padang yang maknyus banget. Rasanya tidak pedas dan bumbunya PAS.

Dinner dengan bu Mia KOTKIHO
Dinner dengan bu Mia KOTKIHO

Bu Mia menceritakan keluh kesahnya yang sudah banyak saya dengar sebelumnya pada saat saya mempersiapkan diri akan menjadi narasumber dan mempelajari materi Buruh Migran Indonesia jelang Diskusi Publik “Menyoal Agenda Parpol terhadap Undang-undang perlindungan Buruh Migran Indonesia” pada bulan Februari silam. Saya mendapatkan materi-materi dari Serikat Buruh Migran Indonesia, Jumhur Hidayat (kepala BNP2TKI), dan buku Underpayment 2:Pemerasan Sistematis Berkepanjangan pada Buruh Migran Indonesia di Hong Kong dari Nurul Choiriyah. Bahkan termasuk mempelajari lifestyle BMI melalui film dokumenter Pertaruhan (At Stake) yang diproduseri Nia Dinata. Sayangnya, bu Mia menambahkan bumbu pedas dan rempah tengik pada makan malam saya pada saat mengatakan bahwa keesokan harinya akan berlangsung Konferensi Pers aksi GOL-PUT di Hong Kong. Saya menyampaikan hal ini pada Jumhur Hidayat dan jawabannya menunjukkan sebuah kekhawatiran yang tulus bahwa aksi golput tidak akan membahwa perubahan positif bagi kesejahteraan BMI. Saya sendiri tidak mengetahui kelanjutan aksi ini, karena pada dua hari berikutnya saya fokuskan diri untuk memberikan edukasi kilat para BMI untuk dapat memahami sistem pemilu yang baru dan senang sekali melihat ekspresi wajah mereka yang telah sekian lama jauh dari tanah air, masih mengguratkan minat dan harapan atas perkembangan bangsa dan negaranya.

A suitcase of leaflets: adequate information is key to a successful democracy
A suitcase of leaflets: adequate information is key to a successful democracy

Look at these BMI's faces: HOPEFUL! Cuz number 2 has been the fool to ignite this "START BELIEVING"
Look at these BMI’s faces: HOPEFUL! Cuz number 2 has been the fool to ignite this “START BELIEVING”

 Saya tidak banyak terkejut ketika berbincang-bincang dengan BMI di Indo Market/Fun Center-nya REKANAN, di shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat), dan melihat langsung dampak psikologis dan goncangan budaya terhadap BMI saat mereka berkumpul dengan fashionable di Victoria Park sepanjang hari Sabtu dan Minggu.

Shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat). Mbak Uji mengajak saya ke sini
Shelter FKMPU (Forum Komunitas Mukminat Peduli Umat). Mbak Uji mengajak saya ke sini

di depan Indo Market [Causeway Bay, Hong Kong]
di depan Indo Market [Causeway Bay, Hong Kong]

beneath the highway, the pulse of the Indonesian migrant workers beat in hope to live to the fullest...
beneath the highway, the pulse of the Indonesian migrant workers beat in hope to live to the fullest…

ini rombongan bandel tp kocak: entah ballot (kertas suara) siapa dijadikan alas buat piknik! i love these sporty BMI girls!
ini rombongan bandel tp kocak: entah ballot (kertas suara) siapa dijadikan alas buat piknik! i love these sporty BMI girls!

im far behind the BMI girls... [Victoria Park]
im far behind the BMI girls… [Victoria Park]

Terlepas dari berbagai isu penting dan urgen (Saya mendapatkan sebuah tabloid SUARA di Fun Center dengan headline: Underpayment itu kriminal!), saya “merasakan” adanya dua tipe BMI dari hasil bincang-bincang di taman, di kolong jalan layang Causeway Bay, dan Fun Center.

s5

Tempat pakai internet, nonton TV, dan kongkow (Fun Center REKANAN)

Tempat BMI pakai internet, nonton TV, dan kongkow (Fun Center REKANAN)

Kedua tipe tersebut adalah tipe yang memanfaatkan masa bekerja di Hong Kong untuk memperdalam banyak kemampuan (berbahasa Inggris atau Cantonese dan social skills training seperti kemampuan berorganisasi) dan tipe yang memanfaatkannya semaksimal mungkin sebagai masa BEBAS (jauh dari realita) sehingga mereka malah terjebak dalam kesemuan fantasi. Salah satu prototipenya adalah BMI yang bergaya dandan “Republik Cinta”, memakai baju BABY PHAT (it’s Kimora…huk) dan yang “berubah” menjadi laki-laki bahkan ada penghulu yang menikahkan sesama jenis, NAMUN mereka juga menyadari bahwa hal ini hanya dapat terjadi di Hong Kong dan harus segera kembali pada “kodrat perempuan” saat kembali ke tanah air.

i feel like i'm among the girls of "Republik Cinta". Seriously, they did dance to "Makhluk Tuhan yang Paling Seksi" in Victoria Park

i feel like i'm among the girls of "Republik Cinta". Seriously, they did dance to "Makhluk Tuhan yang Paling Seksi" in Victoria Park

yes, this punky brewster dude nextto me is a girl! mukanya disensor [Victoria Park]
yes, on my left side is a female as well. more handsome than i was with my Dolores O'Riordan haircut back in the 90s.

yes, on my left side is a female as well. more handsome than i was with my Dolores O'Riordan haircut back in the 90s.

more punk-y brewsters!

more punk-y brewsters!

Memang Undang-undang Perlindungan Buruh yang komprehensif adalah tuntutan utama yang belum terpenuhi (bahkan masih jauh dari harapan), namun berikut ini adalah tuntutan langsung dari para BMI di Hong Kong:

o Terminal 3 yang masih pungli

o Pembayaran fiskal dibebaskan

o Problem interminit

o Potongan besar dari agent

o Concerns tentang lifestyle yang berubah dengan berdandan dan berperan sebagai laki-laki karena alasan kesepian, bos tidak cemburu, memang lesbi genetik, dll.

o Ingin pulang tetapi butuh kerja untuk menghidupi keluarga. Kalimatnya: “masa mau begini terus??”

o Dan lain-lain

Sayang sekali berdasarkan pengalaman Pemilu 2004, caleg yang berasal dari Dapil DKI II dan lolos ke DPR, tidak membidani urusan ketenagakerjaan sehingga tidak bisa mem-follow up agenda-agenda semasa kampanye dan aspirasi dari para BMI. Untuk Pemilu Legislatif 2009? Start believing… Nama-nama penting yang membantu saya selama di Hong Kong: Mbak Marni, Uji, Lena, dan Puji. Terimakasih banyak atas kepercayaannya.

this is another angel who helped me [Victoria Park, Hong Kong]
Yup, going home with a lot of things weighing in my head...

Yup, going home with a lot of things weighing in my head...

4. 31 Maret 2009:

 PAMI Bertanya: (Catatan: PAMI=Pergerakan Anggota Muda IAKMI. IAKMI=Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

 Saya mengiyakan undangan pihak panitia yang semangat sekali menghubungi selama saya masih berada di Hong Kong. Setelah penerbangan cukup panjang, saya langsung meluncur dari Cengkareng ke lokasi dialog. Narasumber lain: ibu Sumaryati Gerindra dan dr.Ritola Tasmaya Golkar. Masalah debat sistem kesehatan nasional pernah saya bahas dalam post “Debat Sistem Kesehatan Nasional”. Yang pasti, sampai akhir masa kampanye, saya tetap kekeuh memperjuangkan Undang-undang Kesehatan Jiwa. Revisi Pasal-pasal Kesehatan Jiwa dalam Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992 sudah terlalu lama dibasikan oleh Komisi IX DPR. Dan tentunya, saya masih mengantongi utopia untuk ikut mengawal sebuah formulasi SISTEM KESEHATAN NASIONAL yang berideologikan: hak sehat untuk seluruh rakyat Indonesia TANPA memandang status sosial “si miskin”. Ideologi menolong “si miskin” boleh saja, untuk tahapan ini. Tetapi berikutnya, sebagai lembaga legislasi, budgeting APBN, dan pengawasan, pastikan sistem utopis ini bisa diciptakan secara step by step, heart to hear, time after time. Boleh saja lambat tetapi HARUS pasti terformulasi, tercipta, dan terimplementasikan dengan baik secara preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. 

”]PAMI Bertanya [Gedung Joang 1945]]Berusaha melawan lelah, menjelaskan Urgensi Undang-undang Kesehatan Jiwa sebagai isu nasional Peduli Jiwa Bangsa. [Gedung Joang]5. 1 April 2009:

 LUNCH IN HONOR OF ASIA SOCIETY INDONESIA with US AMBASSADOR CAMERON R.HUME: Dalam kesempatan makan siang di kediaman bapak Dubes Amerika Serikat, kami berlima yang hadir dari Asia Society Indonesia (saya, Daniel Budiman, Christina Lim, Enda Nasution, dan Andru Subowo). Tidak ada konteks kampanye di sini, hanya saja pesan HE Hume sangat perlu dicatat: “So Nova, if you get elected, I don’t want to hear your name get busted by Kei-Pi-Kei (maksudnya KPK, red).”

Asia Society Indoneis + Dubes AS. From L-to-R: Daniel Budiman, Andru Subowo, NoRiYu, HE Cameron R.Hume, Christina Lim, dan Enda Nasution

Asia Society Indonesia + Dubes AS. From L-to-R: Daniel Budiman, Andru Subowo, NoRiYu, HE Cameron R.Hume, Christina Lim, dan Enda Nasution

 MAKAN SORE dengan ibu-ibu Radio Dalam: penat saya belum hilang, tetapi TS (Tim Setia) sudah menanti saya di sebuah saung daerah Radio Dalam. Tubuh penat sepertinya mendapatkan energi lagi ketika para ibu membacakan doa untuk memberikan kekuatan pada saya. Namun kekuatan jiwa tidak selalu sejalan dengan daya tahan fisik, malamnya saya terkapar karena sejak pulang dari Hong Kong belum sempat istirahat sama sekali. Keesokan harinya saya bedrest satu hari penuh karena pada saat bangun tidur suara serak dan badan meriang. Konsekuensi logis setelah masa sosialisasi dan kampanye yang cukup panjang. Rupanya vitamin dan makanan bergizi saja tidak cukup lagi membendung lelah fisik dan intelektual yang terforsir selama proses sosialisasi dan kampanye. Beruntunglah saya mempunyai ibu dan TS (Tim Setia) yang sigap menyediakan menu sehat, obat-obatan (dari mulai yang kimiawi toksik, sampai ramuan herbal seduh atau kunyah. Hwek!), juga Fitri yang memijit sehingga keesokan harinya bisa kembali pulih lagi untuk beraktivitas.

Saung Radio Dalam

Saung Radio Dalam

 

6. 3 April 2009:

 JANGAN PILIH PARPOL & CALEG YANG MENDUKUNG POLIGAMI oleh Solidaritas Perempuan Indonesia (Lokasi: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Menteng). Narasumber: Nova Riyanti Yusuf, caleg PDIP, caleg PKB, caleg PDS, Mariana Amirudin (Yayasan Jurnal Perempuan), Trie Utami, dan tentu mbak Yeni Rosa. Plus hiburan dari Opie Andaresta (dua lagu: Sunatan Massal dan Asal Tahu). Ketika ada caleg-caleg yang menuturkan pengalaman pribadinya dengan poligami dalam forum ini, saya merasa seperti sedang berada dalam self-help group meeting seperti Confession of a Shopaholic atau AAA meeting bagi para alkoholik. Mungkin agak terkesan kasar, tetapi saya lebih senang menjadi pendengar aktif dan berempati dengan situasi yang terjadi para perempuan. Saya yakin betul, ini bukan ajang yang dipersiapkan oleh Solidaritas Perempuan Indonesia bagi caleg-caleg perempuan untuk curhat. Namun tuntutan agar ada aksi konkret seputar poligami yang di-Amin-i saat itu sebagai isu politik, saya jelaskan bahwa untuk Presiden SBY, PP 45 tahun 1990 sudah disarankan untuk revisi pada bulan Desember 2006. Selain cakupannya PNS, TNI, dan POLRI, maka pejabat pemerintah, pejabat negara (termasuk anggota DPR), dan masyarakat umum dapat dijaring juga. SBY juga sempat menyinggung tentang kemungkinan sanksi yang lebih berat. Dalam PP 45, telah disebutkan sanksi berupa “Pemberhentian secara hormat”. Dan untuk PNS perempuan juga tidak diperbolehkan menjadi istri kedua, ketiga, atau keempat.

Berempati dengan poligami yang menjadi isu politik

Berempati dengan poligami yang menjadi isu politik

Trie Utami menuturkan sudut pandanganya tentang poligami

Trie Utami menuturkan sudut pandanganya tentang poligami

Mbak Yeni Rosa menutup diskusi dengan mempertanyakan kemungkinan Partai Demokrat berkoalisi dengan PKS sedangkan pentolan-pentolan PKS adalah praktisi poligami. Saya menjelaskan bahwa koalisi belum bisa dipastikan sampai hasil Pemilu Legislatif diketahui. Sejauh ini semuanya masih sebatas “testing the water” atau bahasa sopannya: silaturahmi antar partai. Yang pasti PKS memang doyan dengan SBY dan pada beberapa hari terakhir masa kampanye memasang spanduk-spanduk bertuliskan “SBY Presidennya, PKS partainya.”

7. 5 April 2009:

 POWERFUL SOCIETY: setelah sholat Shubuh, saya meluncur ke daerah Radio Dalam dan bertemu dengan para cyclists di RDC (Radio Dalam Cycling Club). Ibu Budi sudah berpakaian lengkap pada jam 5:30 pagi sementara saya menunggunya sambil makan nasi uduk di warung dekat rumah ibu Budi. Jam 6 lewat sedikit sudah cukup banyak cyclists yang berkumpul dan mereka meluncur menuju Senayan dan Monas. Kemudian saya berjalan beberapa meter ke lokasi senam dan menyaksikan Uni yang sangat funky memimpin beberapa puluh ibu-ibu yang siap bersenam. Ini hanya gambaran sederhana saja dari daya masyarakat Jakarta. Saya jadi teringat dengan agenda perjuangan saya: Memperjuangkan Undang-undang Kesehatan Jiwa. Sementara saat saya melihat kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, sudah banyak juga program masyarakat yang menunjang kesehatan jiwa. Jadi perjuangan rumah rakyat, memang harus tetap diiringi oleh perjuangan rakyat itu sendiri untuk merasakan dampak individual yang berkembang secara massal. Aksi pencegahan penyakit dan promosi kesehatan, jelas bermula dari olahraga. Tanpa harus berdalih: males ke gym. Jelas tidak perlu ke gym kalau memang niat berolahraga. Senam pagi gratis, naik sepeda bisa pinjam punya tetangga, udara pagi yang masih sejuk dan bersih juga gratis.

Ini harapan sederhana dari masyarakat, tetapi tujuannya untuk stabilitas nasional

Ini harapan sederhana dari masyarakat, tetapi tujuannya untuk stabilitas nasional

Senam dengan kaos bergambar NoRiYu: NARCIST UNION

Senam dengan kaos bergambar NoRiYu: NARCIST UNION

Radio Dalam Cycling Club. NoRiYu nyempil...

Radio Dalam Cycling Club. NoRiYu nyempil...

8. 6 April 2009:

 BLOOMBERG INTERVIEW: Bloomberg mempunyai sebuah acara televisi, ASIA CONFIDENTIAL, yang dipandu oleh Bernie Lo di Hong Kong. Acara ini pernah mengundang bintang-bintang tamu seperti Daryl Hannah, Oliver Stone, dan Presiden Arroyo. Pada saat kunjungan saya ke Hong Kong saya sudah sempat menyerahkan materi-materi DVD dan CD pada Christine Hah untuk dipakai dalam VT Asia Confidential saat saya diwawancara. Saya diundang dalam perbincangan dengan topik “Indonesia Elections” dan kapasitas saya sebagai novelis dan caleg dari Partai Demokrat. Tadi pagi saya sempat mendapatkan DVD rekamannya dari Wimar Witoelar, tetapi karena kesalahan teknik perangkat komputer saya, saya tidak mendapatkan audionya sehingga belum dapat membuat transkripsi dari hasil wawancara tersebut. Yang pasti, ketidakpuasan adalah bagian dari perbaikan diri untuk menjadi lebih baik, walau tetap menyadari bahwa tidak ada yang sempurna. Pengalaman berharga karena saya terbingung-bingung menjawab pertanyaan Bernie Lo tanpa bisa melihat wujud Bernie Lo dan ekspresi wajahnya. Saya memandangi kamera yang bergerak-gerak sendiri, sementara di telinga saya terpasang earphone yang terhubung dengan suara Bernie Lo. Semua stimulus ini hampir membuat saya bisu karena bingung, tetapi untungnya saya cukup bisa memaksa diri untuk berbicara. Kebetulan sebelum giliran saya diwawancarai, Gubernur Bank Indonesia Budiono juga diwawancarai oleh Bernie Lo. Ini pertama kalinya saya bertemu pak Budiono dan responnya terhadap caleg-caleg muda berkualitas berpengalaman sangat menggembirakan. Terimakasih pada Leony Bloomberg yang membantu saya dan TS menggunakan mesin espresso dan juga menyeduh teh sehat. 2 mahasiswi Universitas Paramadina ikut merekam jalannya wawancara sebagai rangkaian tugas observasi caleg dari kampus. Sampai saat ini saya masih ingat dengan pertanyaan Bernie Lo yang terakhir: “Will you run to become a president, Nova?” Saya menyikapi pertanyaan ini dengan dua kemungkinan: 1) Bernie Lo memang kagum dan benar melihat potensi dalam diri saya, ATAU 2) Bernie Lo ingin memeriksa level narsisisme dan “kewarasan” saya setelah berbulan-bulan sosialisasi dan kampanye. Di antara dua ekstrem ini, jawaban yang muncul dari bibir saya tentu sangat diplomatis, atau menurut Leony dan Arijit dari Bloomberg, politis.

Inspired by Michele Obama's black & white sleeveless dress at the G20

Inspired by Michele Obama's black & white sleeveless dress at the G20

”]with TS: Teteh Lisa and Rusdi Syarief [Bloomberg TV]
Bingung nich: Bernie Lo gak tau mukanya cuma kedengeran suaranya di earphone, kameranya gerak sendiri dan harus ngomong ke kamera itu. But it was GREAT. Love the experience!

Bingung nich: Bernie Lo gak tau mukanya cuma kedengeran suaranya di earphone, kameranya gerak sendiri dan harus ngomong ke kamera itu. But it was GREAT. Love the experience!

“]Dengan Gubernur Bank Indonesia Budiono. Antri diwawancara Bernie Lo [Bloomberg TV]
Dengan Gubernur Bank Indonesia Budiono. Antri diwawancara Bernie Lo [Bloomberg TV

Dan hari ini pun saya lalui bersama TS dengan wisata kuliner dari Kiyadon Sushi Grand Indonesia, Cafe au Lait (yang ini sekalian wawancara dengan TV One seputar kampanye melalui Facebook), dan Kambalijo di Megaria. Masih belum puas, kami kembali lagi ke Grand Indonesia dan menonton Confession of A Shopaholic di Blitz Megaplex. Saya berseloroh pada TS di mobil, “Kalau Rebecca Bloomwood bisa membayar hutang dengan menjual dan melelang baju-bajunya, kira-kira caleg bisa juga gak melelang baliho-balihonya untuk bayar hutang?” He he he. Saya merasa cukup beruntung bahwa saya tidak perlu pusing dengan dana kampanye yang sudah dihabiskan. Jumlahnya masih dalam batas alokasi kemampuan pribadi sehingga tidak berhutang. Ternyata tidak hanya ujian, menjadi caleg juga dibutuhkan faktor hoki, termasuk hoki diundang di banyak forum umum sebagai narasumber sehingga tidak usah pusing menyediakan uang dalam rangka mengadakan forum-forum untuk sosialisasi diri, termasuk diundang dalam beberapa acara TV sebagai narasumber, dan lain-lain. All in all, I’m happy… Tinggal menanti lusa, untuk menghadapi Pemilu Legislatif 9 April 2009. Ready or not, here it comes. Though I surely think, the SOONER the BETTER…I need to know if my semi-indie campaign really worked out.

Peace,

dr.Nova Riyanti Yusuf,

 Caleg DPR-RI Partai Demokrat

Dapil DKI II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri) Nomor Urut 2