Sudah lama saya tidak meng-update blog ini. Bukan karena saya tidak merasa perlu lagi untuk berkomunikasi dengan teman-teman blogger, tetapi justru karena begitu banyak peristiwa dan momentum yang saya lalui selama tahun 2009 yang hanya bisa dilalui di alam nyata (bukan virtual), bertubi-tubi, dan tidak ada sisa energi ataupun waktu untuk duduk di depan layar komputer dan mulai menulis. Bahkan saat ini saya sedang mengetik dengan Low Back Pain sebagai bagian dari konsekuensi kolektif pilihan langkah. Sudah dibawa berenang, tetap saja si punggung bawah sedang tidak bisa diajak berkompromi.

Apa saja runutan peristiwa yang saya maksud di atas? Kalau ingin melanjutkan membaca kronologis, silakan…dengan risiko merasa bosan ^_^:

1. Setelah saya kelar berkampanye untuk pemilu legislatif dengan puncaknya pada pemilu legislatif tanggal 1 April 2009, saya kembali ke Departemen Psikiatri FKUI untuk menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa. Saya mempersiapkan diri bersama dengan beberapa teman sejawat dengan serangkaian ujian LUN (semacam pra-ujian yang menentukan kita layak untuk maju menghadapi NBE atau National Board Examination). NBE itu sendiri terdiri dari: 1) ujian persiapan naskah pasien yang kita terapi selama minimal 3 bulan, 2) ujian freshcase berupa wawancara psikiatrik singkat dengan pasien (yang dipilih penguji last minute) dan membuat analisis serta assessment dari hasil wawancara psikiatrik tersebut, dan 3) ujian tesis (yang sudah pernah diujiankan). Tesis saya berjudul: Aspek Biopsikososial dari TIndakan Bunuh Diri pada Dua Orang Pelukis di Yogyakarta. Rangkaian ujian ini berlangsung sekitar 3 jam. Tidak hanya persiapannya yang luarbiasa melelahkan, tetapi juga proses jelang ujian yang “menggila”. Penguji tamu saya didatangkan dari USU Medan, Prof.dr.Bahagia Loebis,SpKJ (K). Dua penguji lainnya: Prof.dr.Sasanto Wibisono, SpKJ (K) yang seperti malaikat karena kepercayaannya pada “kemampuan” saya dan dr.Sylvia, SpKJ (K) pakar psikodinamika. Saya pun lulus program spesialisasi pada bulan Juli 2009 dengan IPK yang membuat saya tersenyum dengan perjuangan “katro” saya (kalau tidak salah ingat IPK saya sekitar 3.60). Setelah 4 tahun sekolah spesialisasi, dengan 9 bulan cuti, saya pun resmi menyandang gelar: dr.Nova Riyanti Yusuf, SpKJ.

2. Tahun 2009 menjadi sarat seremonial. Saya membatalkan keikutsertaan saya sebagai delegasi Rule of Law Forum yang diselenggarakan Kedubes Amerika Serikat di Indonesia. Acara yang akan berkeliling ke Houston, Washington DC, dan New York selama 2 minggu sesungguhnya sangat penting bagi saya yang akan memulai kerja di DPR. Tetapi alasan niat untuk memahami good governance dengan lebih baik, toh mendahulukan pemahaman awal tugas di parlemen lebih penting. Saya pun urung berangkat ke Amerika Serikat dan mengikuti minggu pertama tugas di parlemen. Istilahnya Ramadhan Pohan: “Pokoknya gaya elo dulu, Nov (red-menjadi delegasi untuk forum-forum internasional, KECUALI untuk urusan parlemen dan menyangkut kemaslahatan rakyat), itu udah nggak bisa lagi sekarang.” Namun bukan karena RP yang memberikan nasihat, tetapi kebetulan gemblengan sekolah kedokteran dan spesialisasi bertahun-tahun menyebabkan saya makhluk yang cocok dengan teori perilaku: dari kognisi turun ke perilaku. Walau banyak banyolan yang mengatakan: “Terang saja masih awal-awal, jadi pada rajin hadir ke DPR.” Banyolan ini tidak membuat saya sumpek, tetapi malah tertawa dan memotivasi diri “betapapun saya merasa gondok karena berbagai rapat komisi yang kadang kurang aspiratif karena konflik kepentingan dan egoisme dari masing-masing anggota DPR (catat: egoisme bukan hanya lintas partai, tetapi juga lintas individu dan ambisi pribadi. dan ini sangat manusiawi kalau membaca buku SWAY-the irresistible pull of irrational behavior karya Ori Brafman dan Rom Brafman), saya akan berusaha terus bertahan dengan idealisme awal.”

Reading Sway in MRT

Sejak pelantikan menjadi anggota DPR/MPR RI pada tanggal 1 Oktober 2009, bumbu rasa frustrasi itu sudah sempat menghigapi sejenak, tetapi sama dengan apa yang dialami oleh Viktor Frankl, saya pun menyadari bahwa bahkan rasa frustrasi sekalipun tidak bisa menghalangi siapa pun untuk bergulir dalam proses pencarian makna. Dan menjadi anggota DPR, “makna” itu datangnya dari “bertujuan” untuk kemaslahatan rakyat, bukan “berkedok” atas nama rakyat. Keketusan saya ini berguna untuk terus mengingatkan saya pribadi dan juga siapapun yang lupa untuk berkaca. Jangan menunjuk jari pada orang lain, jika kita pun tidaklah lebih baik dan berperan untuk kebajikan. Karena itu paradigmanya sekarang: LET’S TRY TO MAKE A DIFFERENCE & STOP BLAMING OTHERS FOR OUR OWN INCAPABILITY.

http://www.detiknews.com/read/2009/10/29/113056/1230876/608/

disiplin-legislator-ala-nova-riyanti-yusuf

3. Saya menjadi anggota Komisi IX DPR RI yang membidani masalah Kesehatan, TenagaKerja, Transmigrasi, dan Kependudukan. Tugas dari Fraksi Partai Demokrat sebagai Sekretaris POKSI. Selain itu saya tergabung dalam BKSAP (Badan Kerjasama Antar Parlemen) untuk Desk Bilateral. Tugas pertama dari BKSAP adalah ke Uganda-Afrika dalam acara Seminar Internasional WHO. Namun 3 minggu sebelum keberangkatan saya
ke Afrika, sebuah tugas lain tiba-tiba diberikan, yaitu menjadi Tim Pengawas Haji II dari Komisi IX bersama Komisi VIII. Konon, ini pertama kalinya Komisi IX berangkat dalam tim pengawas. Saya pun sempat terkejut sehingga yang memberikan tugas jadi bertanya, “Lho kamu Muslim kan??” Dua kesempatan yang hadir itu justru yang membuat saya melongok dan saya pun mendahulukan pengawasan Haji karena program ini termasuk dalam program andalan 100 hari ibu Menteri Kesehatan dan begitu banyak jamaah membutuhkan kehadiran peran pengawasan DPR dengan sangat. Masalah Ibu dan Anak pun menjadi perhatian penting karena terkait dengan pencapaian tujuan-tujuan MDGs tahun 2015: poin (4) Reduce child mortality dan poin (5) Improve maternal health. Namun tentu dari urgensi waktu, program haji ini yang bersifat “right here right now” dan saya termasuk penganut Gestalt. Here and Now. Akibat pemikiran ala Gestalt, nama saya pun menjadi typical atau standar kebanggaan “berlomba-lomba dengan titel panjang”: dr.Hj.Nova Riyanti Yusuf,SpKJ.

RaKer dengan ibu MenKes (Komisi IX)

Bertemu dengan Tim Medis di rumah kloter 01 (Bakhutmah, Makkah)

Kepala Kambing yang dahsyat di acara dengan Muasasah Asia Tenggara

Tas Obat Tim Medis saat Wukuf di Arafah

Diskusi dengan salah satu dokter Kloter di tenda Wukuf Arafah

Memeriksa stok obat saat jamaah mabit di Mina

Sebelum jetlag pasca Tim Pengaawas Haji II 2009 reda, sisa 2009 langsung dilanjutkan dengan masih banyak lagi rangkaian kerja yang sangat saya nikmati, namun menuai protes dari pendiri http://www.jakartabeat.net Philips Vermonte, “Mana tulisannya?? Masa jadi anggota DPR jadi tidak pernah menulis artikel tentang musik/film lagi?” (mudah-mudahan Philips membaca tulisan ini dan memahami padatnya rangkaian kerja sehingga “belum” sempat menulis lagi. catat: tidak sempat, bukan tidak mau ^_^).

berikut salah satu tulisan di http://www.jakartabeat.net:

http://www.jakartabeat.net/politika/caleg-dan-musik/

70-musik-mazzy-star-dan-tema-bunuh-diri.html

4. Kunjungan Kerja Komisi IX ke Manado

Yang paling berkesan bagi saya, adalah monyet Tarsius Spectrum yang monogami (!!) bahkan meninggal saat pasangannya meninggal, pemandangan indah (Danau Tondano, bukit, laut), dan kunjungan ke RSUD Ratumbuysang yang tadinya berfungsi sebagai RS Jiwa. Sangat disayangkan, sebuah Rumah Sakit Spesialistik tidak dilanjutkan perannya sebagai Center of Excellence di mana keberadaan bagian-bagian lain “memperkuat” fungsi spesialistik dari pelayanan kesehatan jiwa. Mudah-mudahan rencana ini menjadi kenyataan, kami mengusulkan agar dari Komisi IX diadakan: PANJA RUMAH SAKIT JIWA. Jadi siap-siap Rumah Sakit Jiwa se-Indonesia untuk dievaluasi.

RSUD Walanda Maramis

RSUD Walanda Maramis

Tarsius Spectrum

Foto Danau Tondano dari dalam bis rombongan

5. Reses Daerah Pemilihan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, berupa sidak ke beberapa puskesmas. Ini menyikapi salah satu pemberitaan:

http://www.detiknews.com/read/2009/12/20/144142/1263118/10/

icw-67-pasien-miskin-kecewa-layanan-rs

Dan dari temuan saya, salah satu saja dari begitu banyak problem sudah cukup memberatkan kinerja, yaitu problem komposisi “pelayan” dengan “yang dilayani” sangatlah jomplang. Di salah satu puskesmas di Jakarta Pusat (Kampung Bali), satu dokter merawat 11.000 pasien +
home visit. Tanpa logika canggih ilmu kejiwaan, orang awam bisa paham bahwa jangankan dokter dapat tersenyum saat melayani pasien, tidak menjadi “gila” saja dokter itu sudah bagus. Perbaikan pelayanan primer puskesmas katanya menjadi target program ibu Menteri Kesehatan, mudah-mudahan sudah dipersiapkan evaluasi dan assessment komprehensif terhadap puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia. Untuk pelayanan Jamkesmas pun, puskesmas menjadi ujung tombak untuk sosialisasi dan teknis pelaksanaan rujukan. Jadi tolonglah, jangan biarkan ada friksi antara masyarakat dengan tenaga kesehatan. Dibenahi dulu sistemnya, jangan salahkan si A, si B. Kesejahteraan rakyat berarti kesejahteraan untuk tenaga kesehatan juga. Tolong dicatat, biaya pendidikan dokter yang super mahal di Indonesia bukanlah biaya pemerintahan alias gratis, tetapi hasil dari jerih payah warga negara Indonesia yang mati-matian membanting tulang menginginkan anak-anak mereka menjadi dokter, karena itu jangan jadikan dokter sebagai martir dari sistem yang tidak mensejahterakan mereka.

http://www.detiknews.com/read/2009/12/21/155334/1263751/10/

tenaga-medis-tak-simpatik-karena-sdm-di-rs-kurang

Puskesmas Kecamatan Sawah Besar yang tidak punya alat rontgen thorax

Puskesmas Kampung Bali yang mengenaskan

6. Mempersiapkan acara Kartini Fraksi Demokrat (KFD) Berbagi Kasih pada Hari Ibu di Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi, Bogor. Mengapa di RSJ?

http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/

2009/11/17/2383/10/Pejuang-Hak-Penderita-Gangguan-Jiwa

Mari teman-teman memperjuangkan Kesehatan Jiwa

Mari media massa ikut perjuangkan kesehatan jiwa

http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=

view&id=5370

Untuk catatan: Rancangan Undang-undang Kesehatan Jiwa saat ini sudah berhasil masuk dalam Prolegnas 2009-2014 pada masa Sidang I yang baru lalu. Sangat berharap pada tahun 2011 dapat menjadi prioritas.

7. Reses Daerah Pemilihan Luar Negeri, menyempatkan kunjungan ke Singapura yang utamanya: bertemu konstituen (terimakasih Adhitya Mulya karena membantu terlaksananya pertemuan dengan Indonesian Family Network dan Ikatan Alumni-ITB). Saya menamai acara ini Silaturahmi Aspiratif. Sementara Adit melengkapinya dengan tema Voice Your Concerns.

Silaturahmi Aspiratif dg IA-ITB + IFN (Savannah Condo Park, Simei-Singapore)

Ngejar bis, sepatu kebalik ki-ka (Simei-Spore)

Silaturahmi Aspiratif dg IA-ITB + IFN (Savannah Condo Park, Simei-Singapore)

Pada saat bersamaan, tetap bisa bertemu sanak-saudara dalam acara tahun baru (yang kebetulan mereka tinggal di Singapore), dan berkunjung ke sebuah rumah sakit untuk saudara yang membutuhkan third opinion atas penyakitnya.

Slogan Food Fare: Work Play Eat, bukan Eat Pray Love

Novena Medical Center, Singapore

Novena Medical Center, Singapore

Family Support is crucial for everyone

Fireworks looking like meteor explosion

...yang terbaik untuk 2010 ^_^

Dengan rangkuman yang tidak kelar-kelar di atas, saya cuma punya satu harapan di luar “keranjingan” saya dengan urusan parlementer, yaitu saya ingin mempunyai sisa waktu dan energi sedikit saja untuk bisa menulis lagi… Inilah Resolusi Tahun Baru 2010: ingin kembali berkarya yang positif dan bermanfaat untuk para pembaca yang sudah setia membaca karya-karya saya sebelumnya dan rajin mengirimkan pesan harapan agar saya menulis lagi…AMIEN!

senang membaca, senang menulis...di mana saja🙂

Dan untuk teman-teman sejawat anggota DPR 2009-2014, sebelum kita memulai masa sidang yang baru di tahun yang baru ini, berikut sebuah lirik lagu dari 30 Seconds to Mars:

Kings and Queens

Into the night
Desperate and broken
The sound of a fight
Father has spoken.

We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser god
Between heaven and hell, Heaven and hell.

Into your eyes
Hopeless and taken
We stole our new lives
Through blood an pain
In defense of our dreams
In defense of our dreams

We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser god
Between heaven and hell, Heaven and hell.

The age of man is over
The darkness comes and all
These lessons that we’ve learned here
Have only just begun

We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser god
Between heaven and hell.

We are the kings
We are the queens
We are the kings
We are the queens

PEACE and LOVE,

NoRiYu

[Singapore + OST CD of 500 Days of Summer]