Program kerja mingguan pada bulan Januari dr. Hj. Novariyanti Yusuf, SpKJ, Anggota DPR RI Komisi IX (Kependudukan, Kesehatan,Tenaga Kerja, dan Transmigrasi), Fraksi Partai Demokrat, dari Daerah Pemilihan DKI II (Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Luar Negeri), Sekretaris POKSI (Kelompok Komisi) Komisi IX, Anggota Tim 11 Perumusan Program Kesehatan Haji Komisi VIII dan Ketua, Board of Advisor Yayasan Metaforma Indonesia (Center for Community and Social Development).

Program mingguan dr. Hj. Novariyanti Yusuf, SpKJ (dr. Nova) pada bulan Januari di mulai di Singapura pada waktu reses DPR dengan mengadakan acara menyerap aspirasi dari para perwakilan konstituen daerah pemilihan luar negeri, Singapura.  Mereka yang mewakili kalangan pekerja rumah tangga (PRT), eksekutif muda, pelajar, dan Ibu rumah tangga, memberikan masukan seputar kondisi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Singapura dan himbauan untuk Komisi IX dan mitra kerjanya khususnya Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk menanggapi masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri secara lebih konstruktif dan memprioritaskan persiapan untuk memformulasi undang-undang yang memihak ke TKI yang nantinya bisa meningkatkan kualitas TKI di masa depan dalam menghadapi kompetitor kita khususnya Filipina yang lebih banyak mengirimkan tenaga ahli (skilled labor force) ke luar negeri. Laporan kegiatan ini bisa dibaca dalam link : noriyu.wordpress.com (Rangkuman 2009).

dr. Nova juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah tetangganya di kawasan Simei Rise, Singapura, Dr. Kumar Ramakrishna, Head, Centre for Exellence for National Security (CENS), pada S. Rajaratnam School of International Studies, A Graduate School of Nanyang Technological University, Singapura.  Sebagai salah satu pakar studi kawasan Asia Tenggara, disiplin ilmu Dr. Kumar bisa disinergikan dengan pemikiran dr. Nova yang latar belakang pendidikannya menjadi ciri khas gaya analisis penulisan kolom-kolomnya seputar isu-isu sosial di majalah dJakarta! City Life Magazine.  dr. Nova mendapatkan masukan ilmiah mengenai pentingnya menjadikan Kesehatan Jiwa sebagai Undang-Undang yang nantinya bisa digunakan untuk menghadapi masalah keamanan nasional (Extremism and National Security: Issues and Trends).  Dr. Kumar yang sudah cukup dikenal didunia internasional sebagai peneliti dan pakar di bidang keamanan kawasan Asia Tenggara tidak perlu diragukan kemampuanya karena sudah banyak menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah tentang studi kawasan Asia Tenggara khususnya: ‘The Making of the Jemaah Islamiyah Terrorist’, in Teaching Terror: Knowledge Transfer in the Terrorist World (Ithaca, NY: Cornell University Press 2005); ‘Countering Radical Islam in Southeast Asia — The Need to Address the Functional and Ideological “Enabling Environment”’, in Paul J. Smith. (Ed.), Terrorism and Transnational Violence in Southeast Asia: Challenges to State and Regional Stability (New York: M.E. Sharpe, 2004); ‘Terrorism in Southeast Asia: The Ideological and Political Dimensions’, Southeast Asian Affairs 2004, (Singh and Chin, eds.) (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2004); After Bali: The Threat of Terrorism in Southeast Asia (Singapore: World Scientific-Institute of Defence and Strategic Studies, 2003) (co-editor); The New Terrorism: Anatomy, Trends and Counter-Strategies (Singapore: Eastern Universities Press, 2002) (co-editor); ‘The Southeast Asian Approach to Counter-Terrorism: Learning from Indonesia and Malaysia’, Journal of Conflict Studies; ‘Interstate and Intrastate Dynamics in Southeast Asia’s War on Terror’SAIS Review, Vol. 24, No. 1 (Winter-Spring 2004)(co-author); ‘The US Foreign Policy of Pratorian Unilateralism and the Implications for Southeast Asia’, in September 11 and Political Freedoms: Asian Perspectives, ed. by Uwe Johannen et al. (Singapore: Select Publishing, 2002).

Dr. Kumar juga memberikan pandangan untuk berkonsultasi dengan salah satu tokoh perdamaian untuk Irlandia Utara, Lord Alderdice (psychoanalysis, terrorism and political conflict resolution, mental health).  Mantan Juru Bicara Northern Ireland Assembly yang sekarang ini menjadi anggota House of Lords Britania Raya memiliki latar belakang pendidikan (Psikiater) menjadi ciri khas gaya pendekatan dalam menghadapai para ekstremis Irish Republican Army dan menjadi salah satu tokoh penting dalam membawa perdamaian di Irlandia Utara.  Dalam hal ini, yang sinergis dengan misi visi dr. Nova — yang di dalam kampanyenya berjanji untuk menggoalkan UU Kesehatan Jiwa melalui Komisi IX DPR — berharap dengan UU kesehatan jiwa yang sedang diperjuangkan bisa mengoptimalkan pelayanan kesehatan jiwa demi kepentingan ketahanan jiwa masyarakat Indonesia.

dr. Nova dan timnya yang telah mempersiapkan makalah ilmiah tentang perlunya UU kesehatan jiwa memberikan rekomendasi ke salah satu mitra kerja Komisi IX, Departemen Kesehatan untuk menangapi secara serius usulan tentang kesehatan jiwa.  Sebagai hasilnya, usulan UU kesehatan jiwa sudah menjadi salah satu produk undang-undang yang pada awal desember 2009 lalu disahkan DPR RI dari 247 Rancangan Undang-Undang sebagai prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) periode 20102014.  Program kerja dr. Nova pada bulan Desember lalu bisa dilihat di (https://noriyu.wordpress.com).

Untuk pekerjaan sosial lainya, dr. Nova dalam kapasitasnya sebagai Psikiater dan Ketua, Board of Advisor di Yayasan Metaforma Indonesia, secara intensif  menjalin hubungan kerja sama dengan LSM internasional, Mind (www.mindaustralia.org.au), organisasi nirlaba terbesar dalam bidang kesehatan jiwa di Australia — ini diharapkan bisa menjadi LSM internasional berbasis di Indonesia yang siap membantu kolega-kolega Indonesia dalam menjadikan pelayanan-pelayanan kesehatan jiwa yang terintegrasi ke dalam suatu komunitas.  Pada akhir bulan ini dr. Nova juga direncanakan bertemu dengan dua tokoh berpengaruh dalam dunia kesehatan jiwa, Dr. Gerry Naughtin, CEO Mind Australia dan Prof. Harry Minas, Director of the Centre for International Mental Health.  Pertemuan yang difasilitasi oleh Anthony C Stratford, Honorary Fellow dari Centre for International Mental Health, School of Population Health, Faculty of Medicine, University of Melbourne diharapkan bisa merancang Think Thank yang melakukan penelitian dan terlibat didalam advokasi dalam bidang kebijakan sosial. dr. Nova juga berharap bisa memberdayakan Think Thank ini untuk mensosialisasikan pentingnya pemahaman tentang hak asasi Manusia terutama mengenai pentingnya mengunakan hak asasi kita tanpa melanggar hak asasi orang lain.

Berkaitan dengan persiapan kerjasama dengan LSM internasional, dr. Nova dan timnya juga sedang mempelajari hasil kunjungan akhir tahun lalu oleh perwakilan Uni Eropa di Jakarta dan Brunei Darussalam, Charles Whiteley, Head of Political, Press, and Information Section dan Florian Witt, Political Adviser.  Langkah ini diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk merancang kemungkinan kerja sama antara Yayasan Metaforma Indonesia dengan LSM internasional di kawasan Uni Eropa di bidang Hak Asasi Manusia yang akan difasilitasi oleh perwakilan Uni Eropa di Jakarta.  dr. Nova dibantu dengan tim ahlinya  di Yayasan Metaforma juga sedang  mempersiapkan rencana keberangkatan ke Brusel, Belgia pada bulan Maret, khususnya makalah ilmiah mengenai dampak HAM, terhadap kesehatan jiwa dan dalam konteks disabilitas.

Beberapa hari yang lalu, dr. Nova dan timnya di DPR RI juga menerima kunjungan Dr Eka Viora, SpKJ, Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat, Departemen Kesehatan dan dr. Pandu G. Setiawan SpKJ, mantan Direktur Bina Kesehatan Jiwa Depkes.  Mereka menyampaikan dua hal penting.  Pertama, “setiap manusia pernah alami gangguan jiwa seumur hidupnya. Saat ini ada kecenderungan penderita gangguan jiwa jumlahnya mengalami peningkatan. Studi Bank Dunia tahun 1995 menunjukkan di beberapa negara hari-hari produktif yang hilang sebesar 8,3 persen dari gangguan kesehatan umum, disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Bahkan dari hasil penelitian ditemukan setiap manusia pasti pernah mengalami gangguan jiwa seumur hidupnya mulai dari yang ringan sampai berat. tingginya masalah kesehatan jiwa menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar dibandingkan masalah kesehatan lainnya yang ada di masyarakat. Kondisi ini bisa dilihat dari tingginya angka kejadian bunuh diri di kalangan masyarakat”.

Mereka juga membeberkan isu seputar Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan keresahan para pejabat Depkes di jajaran Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat.  Berdasarkan masukan, kesehatan jiwa kemungkinan akan diturunkan dari level direktorat (eselon II) ke level Subdit (eselon III). Hal ini adalah kemunduran bagi perkembangan dunia kesehatan di Indonesia.

Oleh Rusdy Syarief, BA, MA, MSAS (Kandidat Doktor dari Charles Darwin University Australia), Executive Director Metaforma Institute dan Staff Ahli DPR RI Komisi IX.