Seminggu ini sarat dengan tema tentang ‘kepergian’. Suatu malam, saya sudah bersiap tidur dan melanggar kaidah higiene tidur karena memasang televisi sebagai bentuk gangguan fisik yang akan mengganggu kualitas tidur. Tampillah wajah Colin Hanks dalam film Orange County. Bukan maksud menceritakan ini dari kacamata movie freak, tetapi film ini menceritakan semangat gila si Colin untuk melanjutkan sekolah di Stanford untuk mempelajari creative writing. Itu adalah cerminan diri saya, 13 tahun yang lalu. Stanford university dan creative writing. Relevansinya dengan rasa frustrasi delinkuen saat itu karena ada dua hal. Pertama, ketiga sahabat saya akan melanjutkan kuliah ke Amerika dan Australia. Kedua, saya terjebak sendirian di Jakarta dengan berjudi masa depan (memilih kuliah kedokteran pada detik-detik terakhir untuk merangsang adrenalin) sedangkan ketiga kakak dan ketiga sahabat melanglang dunia menjalankan mimpinya masing-masing.

          Minggu ini, terjadi lagi. Kepergian dan perasaan sepi. Suatu hari di kamar kos seorang sahabat pada masa SMA di Tarakanita, kita berempat sedang mengacak-acak rak CD dan majalah. Tiba-tiba salah satu dari sahabat bertanya, “Lebih sedih mana, ya? Ditinggal atau meninggalkan?” Saya berasumsi bahwa sahabat ini berbicara tentang ‘ditinggal mati’ dan ‘mati’. Padahal yang ia maksudkan adalah ia akan pergi jauh kuliah ke Seattle sedangkan pacarnya di Jakarta. Impulsivitas pikiran saya tersebut pada akhirnya menghantarkan saya untuk terbiasa dengan kepergian hidup dan mati. Bagian dari pengalaman hidup yang sangat dekat dan harus terus-menerus dihadapi.

          Masih dalam alur tema kepergian, beberapa hari yang lalu saya pun mengulangi suatu episode cerita lain hidup saya 12 tahun yang lalu. Saya berada di dalam bioskop sendirian. Awalnya saya tidak sendiri. Kita berangkat berlima dalam satu mobil, tetapi pada saat berdiri di depan ticket box, film Get Smart sudah diputar sehingga hanya saya yang bertahan memilih Sex & The City. Diiringi dengan ritual keempat anak kunyuk melambai-lambai pada saya yang akan memasuki ruang teater 3 sambil berteriak-teriak, “Ati-atii, yachhh?? Daggg!!” Dan wajah mereka sangat sumringah. Persis seperti suasana mau boarding ke dalam pesawat terbang. Atau naik kereta api di stasiun.

Terlepas dari magisnya film ini, bahwa kita yang berada di dalam teater 3 akan sekejap merasa tidak sendirian karena keempat teman yang ada di layar dan segenap penonton lainnya (para gay, perempuan-perempuan, fashionista, dan lain-lain) seolah menjadi sahabat instan karena saling memahami jalinan cerita, kehangatan, dan pastinya carrie-d away dengan suguhan fashion dalam film Sex & The City. Ya, terlepas dari persahabatan instan tadi, menonton sendirian ternyata menghadirkan kembali suatu episode masa lampau dalam benak saya. 12 tahun yang lalu saya menonton film (kalau tidak salah judulnya Snow) sendirian di sebuah teater. Dan itu adalah pengalaman paling menyiksa sehingga saya bersumpah tidak ingin mengulanginya lagi. Selain karena ada sepasang manusia yang menjijikan di samping saya (Yang perempuan flu berat tetapi memaksa memeluk pacarnya.), peristiwa itu terjadi pasca putus. Saya sempat kecanduan Dolores O’Riordan dan nekad memotong habis rambut ala Dolores sewaktu ke Singapura. Dan sebagai dampak kausalitas dari seorang male chauvinist sejati yang insecured, saya diputusin karena tidak laporan dulu mau membabat rambut.

          Pada saat kita dalam suasana ‘kepergian’, segala sesuatu yang menyedihkan di masa lalu bisa muncul lagi sebagai flashback atau re-experiencing. Seperti menyadari kesalahan-kesalahan coping mechanism saat berhadapan dengan orang lain. Sebuah komentar yang menjadi serangan pedas dan setelah menghitung satu sampai sepuluh, justru hanya meredakan emosi tetapi komentar balasan kita pun tetap bersifat serangan balik yang emosional dan bukan tindakan cerdas. Lagi-lagi kita menyadari kesalahan pada saat kita sudah pergi dari zona itu. Ada kepuasan ketika menyerang balik orang yang (kita anggap) menyakiti ego kita. Tetapi setelahnya, kosong dan jelas tidak menang poin apa pun di dalam transaksi interpersonal itu. 

          Atau pada saat kita membantu teman melewati masa-masa sulit, dan pada saat dia ‘sembuh’ dari kesulitannya justru dia berbalik membangun kekuatan untuk menunjukkan ‘I was never a weak person like I showed you.’ Dan ia pun pergi. Kadang kita hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan siapa pun orang yang hendak pergi dari kita, pergi dalam keyakinannya. Waktunya untuk mencari aktivitas soliter yang akan menjaga kita dalam koridor kesendirian yang sehat. Waktunya untuk menghayati peran individual tanpa harus kerap bertanya ‘apa yang salah pada diri saya’ atau ‘apa yang salah pada diri orang lain’.

          Yang paling membahayakan dalam tema ‘kepergian’ ini, adalah kronisitas atau durasi yang panjang tak menentu. Tetapi jika dipaksakan, akan serba salah lagi jika kita berusaha terlalu keras untuk menjalankan peran sebagai makhluk sosial. Tidak ada salahnya menikmati peran sebagai makhluk individual. Saya juga mulai memberanikan diri untuk menikmatinya, “Hi, my name is NoRiYu. And I’m a PSP freak…”

 

[30.06.08]

Untuk Nabila dan pencipta SPT (Sega Professional Tennis).

 

Sumber tulisan: Majalah djakarta! #110, 21/06/08