Dua film terakhir Batman selalu mengangkat sosok psikiater (dokter ahli kedokteran jiwa) sebagai figur penting dan sentral dalam alur penceritaan. Misalnya, Batman Begins. Penjahatnya adalah psikiater dengan menggunakan semprotan halusinogenik untuk menginduksi reaksi halusinatorik visual (secara massal). Batman The Dark Knight, juga menggunakan manuver-manuver kejiwaan untuk membangun jejaring pikir dan emosi yang luar biasa melelahkan pada saat menyaksikannya. Toh, The Dark Knight menjaring jumlah angka penonton yang dikatakan ‘hampir mengalahkan’ Titanic. Artinya, dengan menyelipkan muatan ‘berat’ dalam film, tidak menyurutkan kadar ‘asyik’ menyaksikannya.

          Bahkan Heath Ledger —sebagai pemeran Joker— dikatakan oleh teman saya sebagai pemeran Joker yang lebih dahsyat daripada Jack Nicholson. Apalagi ia bela-belain mengantri pada minggu pertama tayangnya di sebuah bioskop di Illinois, Amerika Serikat. Sehingga bisa dipahami, jika menarik benang merah, mungkin Ledger kelelahan dalam penghayatan karakter Joker dan sekelarnya syuting film The Dark Knight ia berusaha meredakan kecemasan berlebihnya dengan pil-pil yang ‘konon’ merenggut nyawanya. Untuk kepergiannya ini, ia layak diberikan piala Oscar atas perannya sebagai Joker. Sebuah penutup dari hidup dan penghayatan hidup dalam sebuah peran.     

Minat akan topik-topik kejiwaan sudah menjadi prediksi dalam perjalanan hidup umat manusia. Kegundahan dalam eksistensi jumlah besar umat manusia tentunya sudah dapat terbaca dari awal jaman. Namun psikiater dan pasien sering dianggap linier dalam sebuah paradigma yang stigmatis: dibutuhkan ‘kegilaan’ untuk memahami ‘kegilaan’. Alhasil, film Batman mengetengahkan psikiater dan juga pasien-pasien skizofrenik sebagai penjahat kelas berat. 

Berangkat dari Hollywood, kita mampir di Indonesia. Seminggu terakhir pemberitaan terakhir media massa sangat menarik karena masyarakat dicekoki oleh pemberitaan kasus Ryan. Kalau di American Idol ada Ryan Seacrest yang senyumnya dinobatkan sebagai senyum nomer 1 versi E!, Indonesia juga menobatkan senyum paling psikopat pada Lidya Pratiwi. Maksudnya, Ryan.

          Sayangnya, beberapa media massa tidak terlalu serius menanggapi kasus Ryan sebagai kasus kejiwaan berat. Kalau serius, ada upaya untuk memahami siapa para ahli yang akan diwawancarai dan dihargai sesuai kompetensinya masing-masing. Contoh, sebuah televisi swasta menyebut narasumbernya, Prof.Dr.Dadang Hawari, sebagai psikolog. Prof.Dadang adalah seorang psikiater, bukan psikolog. Penting untuk menyikapi berita serius dengan level pemberitaan yang juga serius. Karena itu menjadi penting untuk membedakan apa psikiater dan apa psikolog.

          Psikiater, adalah seorang ahli kejiwaan yang berkacamatakan ilmu kedokteran. Dibutuhkan 6 tahun untuk memperoleh gelar dokter umum dan 4 tahun untuk mendapatkan gelar spesialisasi ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) sehingga seseorang layak disebut sebagai psikiater. Psikolog, adalah seorang ahli kejiwaan yang berkacamatakan ilmu sosial. Dibutuhkan empat tahun untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi dan dua tahun untuk magister. Mungkin ditambahkan lagi dengan program yang menjadikannya layak sebagai klinisi.

          Jelas perbedaan di atas sangat krusial dan media massa sebagai teropong peristiwa dan jiwa bangsa, seharusnya belajar serius untuk “BELAJAR” tentang arti-arti terminologi di atas. Sebelum menjadi mercu suar asal-asalan. Kritik ini sangat membangun karena problem psikiatrik semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Analisa dan pemberitaan yang tidak tepat akan menyesatkan masyarakat dan alih-alih menjadi pemicu paranoia. Atau istilah kerennya, Ryan-induced paranoia.

Menurut PPDGJ III atau Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi ke III, 1993, Retardasi Mental termasuk dalam kode F70-F79. Dalam praktek keseharian, seorang psikiater senang menyebutnya RM sebagai sebutan nge-tren sebuah diagnosis bagi anak-anak dengan keterbelakangan mental.

          Jadi menurut PPDGJ III, RM adalah suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motroik, dan sosial.

          Apa lagi hubungan antara RM dan tulisan di atasnya? Hanya wacana preventif saja, supaya bersama-sama menyadari dan kritis agar bangsa kita ini tidak menuju kondisi RM atau Retardasi Mental.

 

<Majalah djakarta! No.111, 07 Aug 2008>