Penghayatan detik. Seseorang boleh tampak kuyu saat memasuki ruang aktivitas. Seseorang boleh tampak rapi dan membuat sirik si ‘kuyu’. Tapi biasanya, hati yang kuyu akan terefleksi juga pada tampilan luar, seberapapun kuatnya lapisan-lapisan di bawah kulit menyembunyikan. Ritual pagi adalah sebuah drama personal yang menarik. Terlepas dari seseorang sebagai orang yang berorientasi keluarga atau individual, penghayatan pagi bisa menjadi suatu cerminan diri yang paling valid. Tidak harus seseorang yang tampaknya sangat dihargai atas segala-gala pencapaiannya, lantas dia ‘waras’ di pagi hari. Posisi menungging karena menolak pagi yang mengingatkan akan seabreg rutinitas. Dan darah yang mengalir dari bokong ke kepala, akan segera membuatnya cukup cerdas untuk mencari-cari cara menghindari hari. Atau mendapatkan kesempatan langka, terbangun dalam keadaan rumah yang sepi. Untuk sesaat sok menjadi robot ritual yang menyeduh teh hangat dekaf (tidak lagi kopi dengan kafein) dengan dibubuhi gula diet sedikit saja. Kemudian duduk membuka laptop dan memastikan pekerjaan-pekerjaan yang harus dibawa ke dalam harinya. Namun menyadari, berkah sepi, tidak harus diabaikan. Ada sebuah keinginan untuk menjadi diri sendiri, tetapi ketakutan satu detik ini akan mengemuka menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditolerir oleh segenap keluarganya. Padahal tidak setiap saat seseorang bisa mendapatkan wahyu. Jika untuk membahas pagi saja, kita juga membahas wahyu… apalagi siang, malam, satu hari penuh. Pagi sakral saya justru dinodai oleh keisengan saya membaca sebuah buku yang tidak penting. Parahnya lagi, saya tidak tahu bahwa buku yang tampilan cover-nya tampak pragmatis-non-filosofis juga mengutip Kahlil Gibran, bahwa si Kahlil ini melukiskan posisi emotional attachment seorang anak dengan ibu sebagai berikut: kata paling indah yang diucapkan seseorang adalah kata “ibu”, dan sebutan paling indah adalah sebutan “ibuku”. Konsumsi paling berbahaya di pagi hari, ternyata bukan kopi sarat kafein, justru buku Kahlil Gibran. Terang saja Kahlil (we’re still on the first-name basis), hanya diposisikan sebagai anak yang memanggil ibunya dengan sebutan “ibu”. Kahlil tidak pernah dalam posisi yang mempertanyakan, “Apakah saya akan menjadi ibu yang melahirkan bayi melalui vagina saya (atau boleh juga sectio caesarea)?” atau “Apakah saya akan menjadi ibu yang baik?” Pertanyaan-pertanyaan yang berkadar dosis letal. Dalam buku kumpulan esai saya yang pertama, Libido Junkie, alam bawah sadar saya masih mempertanyakan keberanian saya untuk melalui proses mempunyai anak atau keinginan ke bank sperma untuk memilih pendonor terbaik bagi calon anak saya kelak yang juga akan dititipkan pada surrogate mother. Kemudian dua tahun berselang, muncul buku kumpulan esai saya yang kedua, Stranger Than Fiction, dan di dalamnya saya berdamai dengan kodrat sebagai ibu. Yang artinya, saya tidak sabar ingin menjadi ibu atau sibuk sok jadi “ibu” dengan menyandera keponakan ke mana pun saya pergi dan setiap ditanya orang mengatakan, “Ini anak saya.” Lucunya, ketika saya berdamai dengan konflik internal, justru muncul reaksi ketidaksukaan karena ide-ide saya dalam buku tidak lagi nakal, tidak lagi menentang kodrat, dan tidak lagi ber-asal-asal-an dengan teori-teori kejiwaan. Tentu reaksi ini tidak harus menjadi konflik eksternal. Secara personal, berdamai dengan konflik internal tidak kalah berbahayanya dengan menantang konflik internal. Penerimaan jadi bertumbuh dengan proses logika untuk mencari solusi. Penghayatan pagi yang asyik telah ternodai dengan perdebatan dalam kepala tentang filsafat hidup. Bergeserlah sedikit ke boombox dan nyalakan lagu Pearl Jam sekencang-kencangnya. Jingkrak-jingkak sedikit juga dapat melancarkan peredaran darah. Gila, it’s Pearl Jam. Tidak mungkin tidak menenggelamkan nestapa dalam alunan lagunya. Apalagi, bagi remaja dan siapa pun yang masih juga krisis dunia intenal dan eksternal, lagu Daughter akan berempati pada harapan dan realita yang kontradiktif. Rasa capek itu akan senantiasa terlunturkan dalam beberapa menit saja. Dan sebelum pusing meratapi nasib karena peran sebagai ibu tidak kunjung datang —atau disesuaikan dengan kutukan pagi masing-masing, mungkin hayati dulu lirik ini: “Don’t call me daughter, not fit to me.” Menyadari ketidakbertanggungjawaban di atas adalah suatu pertanggungjawaban yang sebenarnya.

[06:00 a.m.]

Sumber tulisan: majalah djakarta! #109, 07/06/08.